Spin

Kamis, 05 April 2012

Story > Continue

Yaa haa~ Akhirnya setelah memeras otak sampai hapus-tulis-hapus-tulis bisa juga menlanjutkan cerita yang satu ini. Fiuhh........ Ternyata Inspirasi-sama datang pada saya. hehehe. Yap, tanpa basa-basi lagi saya posting ini. ENJOY IT, GUYS ^^. Kritik dan saran diterima di sini dan mohon comment di bawah. ^o^


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 4 : In the middle of door

“Khukhukhu…….” Kata orang misterius itu lagi. Untuk kedua kalinya mereka mendengar tawa seperti itu.
“Siapa kau?” Tanya Valen mengambil tempat di depan Rinka bersama John.
“Hmm….. Kalian tak perlu tahu. Yang kalian perlu tahu adalah, sang putri akan menghilang jika kalian tidak segera pergi menyelamatkannya.” Ujar orang misterius itu lagi.
“Ahh… Tapi tunggu, bagaimana kalian bisa selamatkan tuan putri kalau kalian akan mati di tanganku?” sambungnya.
“Apa maumu, orang aneh?!!” seru Valen.
Just do thing that ordered to me.” Jawab orang itu.
“Jadi, ada yang menyuruhmu ya? Pekerjaan macam apa itu?” Tanya John.
“Pekerjaan yang dibayar!” dengan cepat orang itu berjalan mendekati mereka bertiga. Mereka bertiga pun berbalik dan berlari menuju salah satu dari 3 jalan itu. Mereka masuk ke kanan.
“Kenapa kita ke kanan, John?!!” seru Rinka.
“Diamlah! Aku punya rencana.” Jawab John sambil meneruskan larinya.
“Mau kemana kalian, bocah?”
“Ohh, bagus! Di sini buntu sekarang!!” ujar Valen.
“Sudah kuduga.” Sahut John.
“Oi, apa maksudmu?” Tanya Rinka. Dengan cepat John menarik lengan kedua temannya dan member isyarat untuk sembunyi di balik batu.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” bisik Valen.
“Kalian membawa barang yang berukuran sedang? Atau kecil pun tak masalah.” Tanya John.
“Aku ada senter!” jawab Valen.
“Aku hanya ada pulpen.” Jawab Rinka.
“Bagus!”
“Tapi untuk apa?” Tanya Valen lirih.
“Diam dan lakukan saja apa yang kukatakan.” Sela John. Rinka dan Valen saling berpandangan.
“Kemana kalian bocah kecil? Apa kalian ingin mengajakku bermain petak umpet?”
“Sebenarnya tidak.” Mereka bertiga tiba –tiba keluar dari persembunyian.
“Apa maksdumu, Nak?”
“Tak ada.” John member isyarat pada Rinka dan Valen untuk melemparkan senter dan pulpen itu. John pun melempar senternya.

PLUK PLUK PLUK

“Hahahahahaha!!! Apa kau bercanda? Untuk apa kau melempar barang-barang tak berguna ini? Mengulur waktu?”
Tak lama kemudian, gerombolan kelelawar datang ke arah datangnya suara barang yang terjatuh itu dan membuat orang misterius itu pun kerepotan.
“Gyah!! Bocah kurang ajar!! Sial, kenapa aku bisa lupa dengan apa yang kulakukan?! Awas kalian!!!” di saat orang itu kerepotan dan merutuki kebodohannya, mereka bertiga berlari menerobos gerombolan kelalawar itu dan menuju ke jalan yang benar.
“Bagus, sekarang jalan mana yang benar?” Tanya Valen.
“Tengah, Val!” seru Rinka sambil menarik lengan Valen yang hampir menuju ke jalan kiri.
“Woo..oooohh..!!” Valen berlari miring karena ditarik Rinka.
“Kita aman sekarang?” Tanya Valen sambil terus berlari.
“Kurasa tidak.” Jawab John. Benar saja, orang misterius itu masih saja mengejar. Kali ini ia menodongkan sebuah pistol pada mereka.
“Mau lari kemanakah kalian… Hahahahaha!” serunya.
“Gyaaaaa!!! Dia datang lagi….!” Seru Valen.
“Bahaya…” mereka bertiga mempercepat lari mereka. Tak jauh dari sana, mereka melihat cahaya. Jalan keluar.
“Akhirnyaaa…..” seru Rinka.
“Cepat, lari!!!” seru John.
“Khekhekhe!! Kemana kalian? Takkan kubiarkan lolos!!” seru orang itu. Ia menembakkan beberapa peluru.

DOR!! DORR!! DORR!!

“Hahh! Apa –apaan itu?!” seru Valen.
“Cih! Untung saja semua meleset! Kalau terkena bisa gawat” ujar John.
“Cepat lari, atau ia akan semakin dekat!!” kata Rinka mengingatkan.
“Tanpa kau bilang pun aku sudah tahu!! Hilangnya Naima saja  sudah kerepotan apalagi harus ditambahi dengan maniak yang satu ini?!!!!” gerutu Valen dengan kerasnya.
Akhirnya mereka berhasil keluar dan di luar gua, semuanya telah menunggu.

BRUKKK!!! SRAAKKKK!!!!!

Mereka bertiga jatuh tersungkur di tanah karena berlari terlalu cepat dan terpeleset.
“Hei, kalian tak apa?” Tanya Dion.
“Syukurlah kalian bisa keluar, Nak.” Ujar penjaga hutan.
“Hahh… hahh….” Suara desah nafas mereka bertiga tak karuan.
“Heh….. gagal mendapatkan malaikat, ya? Mungkin sebentar lagi akan kudapatkan.”
Di saat mereka bersyukur karena Rinka, Valen da John selamat, Dion menyadari sesuatu.
“Hei, mana Naima? Kemana dia?” Tanya Dion.
“He..Hei… Apa yang terjadi di sini?” Tanya Rio.
“Kami akan ceritakan detailnya.” Jawab John.
“APA KATAMUU?!! Naima Danna anak dari pemilik salah satu perusahaan terbesar ‘Danna Corporation’ diculik?!!!!!” seru salah satu guru laki-laki bernama Hito.
“Iya iya, Pak Hito. Tapi tak perlu berteriak sekencang itu kan??” komentar Dion menutup telinganya.
“Tapi, dia anak yang baik. Apa urusannya dengan orang-orang jahat? Aneh.” Sambung Pak Hito lagi.
“Daripada itu sebaiknya kalian istirahat. Hari mulai gelap. Kita lanjutkan pencarian besok.” Usul penjaga hutan.
“Baiklah Pak Herry.” Jawab mereka kecuali kedua guru, May dan Pak Hito.

Keesokan harinya
“Anak-anak, karena keadaan di sini tidak memungkinkan karena Naima diculik, dan untuk kembali ke Kota Green juga sulit karena cuaca yang tak baik maka kalian pindah ke penginapan yang sudah kami sewa di dekat sini.” Jelas May.
“Tapi, err..Kak May…” Tanya Dion.
“Tenang saja. Semua akan baik-baik saja.” Jawab May.
“Bagaimana dengan Naima?” Tanya Rio.
“Polisi, Pak Hito, Pak Herry dan polisi sedang mencarinya. Kalian tenang saja. Segera pindahkan barang kalian ke penginapan.” Jawab May.
Akhirnya mereka semua berpindah ke penginapan. Acara yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi tak seperti yang mereka inginkan. Begitu juga dengan Rinka. Ia tak menyangka Naima diculik begitu saja padahal ia ada di sana. Ia merasa dirinya benar-benar bodoh karena tak memperhatikan sahabatnya sendiri.
“Semua akan baik-baik saja kok, Rinka” kata Dion menenangkan. Rinka tersenyum.
“Jadi, John?” Tanya Valen. John hanya menaikkan sebelah alisnya.
“Ahh, tidak jadi.” Sahut Valen karena tersadar di sana ada Rio. Tak mungkin jika ia mengatakan hal tentang surat itu di depan Rio.
“Kemah ini jadi tak menyenangkan.” Komentar Rio.
“Rio, kami pergi dulu.” Pamit Valen dan John kembali ke lokasi camping.
“Lho? Kemana?” Tanya Rio.
“Kami akan mencari Naima!” mereka pun berlari kembali menuju lokasi camping.
 “Lho? Rio, mana John dan Valen?” Tanya Dion.
 “Mereka bilang akan mencari Naima.” Jawab Rio. Tiba – tiba saja Rinka menghentikan langkahnya.
 “Kenapa, Rin?” Tanya Dion.
 “Mm…. Dion, apa aku boleh menitipkan tasku?” Tanya Rinka.
 “Iya. Kamu mau kemana?” Tanya Dion lagi. Tapi Rinka langsung melesat pergi.
 “Eehh??”

 ‘Naima….’ Rinka terus berlari menuju polisi yang sedang mencari Naima.

“Hoi, Rin..!!” sapa Valen. Rinka menoleh.
 “Kenapa kau ada di sini? Berbahaya.” Sambung John.
 “Aku ingin mencari Naima.” Jawab Rinka yakin.
 “Tapi, sebaiknya kau ke penginapan. Taka pa biar kami bersama Inspektur Ryu yang cari.” Kata Valen.
 “Kalau Naima berada di posisiku sekarang, pasti dia akan mencariku juga kan. Jadi aku akan mencarinya juga.” jawab Rinka yakin.
 “Hei, aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku.” Kata Rinka lagi.
“Apa?” Tanya Valen. Valen dan John saling berpandangan.


~To Be Continue~

 --ZULAIKHAH—

Selasa, 03 April 2012

Bla bla bla

Kayaknya lanjutan 'TEEN DETECTIVES' nya gak bisa sekarang deh... Tau kenapa? #nggak tanya# iya dehh gak ada yang nanya *pundung di pojokan* ahh!! Daripada itu, gimana kalau kita lanjut sama Game Pokemon aja? Okeh? Baiklah sekarang dari pokemon apa ya? Ahh iya! Emerald lagi ya? hehehe ... Tak apa kan? ini kan punya saya jadi terserah saya dong kekekekeke.....


Kali ini jatuh pada...JENG JENG JENG JENG!!!

salah satu pokemon favorit saya ^^ CASTFORM .

Ada yang tau tentang pokemon yang lucu ini?? Kalau belum kenal, kenalan dulu dong... Baiklah kita mulai investigasi pokemon yang satu ini.

Type : Water
Kemampuan :
>> POWDER SNOW
>> SUNNY DAY
>> RAIN DANCE
>> HAIL

Nah, pokemon ini setiap mengeluarkan jurus selalu berubah sesuai kondisi jurusnya. Misalnya, kalau dia mengeluarkan sunny day akan berubah jadi yang warna oranye di atas. kecuali kalau dia pakai powder snow. Semua jurusnya gak ada yang ngurangi life point lawan mungkin cuma menurunkan kecepatan, defence atau akurasi lawan aja. Dan satu satunya jurus yang mengurangi life point lawan cuma powder snow saja. Pokemon ini langka. Kenapa? karena sudah punah? Ohh tidak kok. Tapi karena... coba buka aja hoenn map saya jamin gak ada keberadaannya. pasti tertulis unknown. benar tidak? Tapi tenang aja, kalian bisa dapet dari profesor di laboratorium peneliti huja di Fortree City bener gak? #plak# yap, sebagai hadiah karena sudah nyelametin tuh laboratorium dari Team Magma (kalau di Pokemon Ruby) dan Team Aqua( kalau di pokemon Sapphire). Profesornya namanya siapa? Siapa ya? saya juga lupa. Mungkin namanya Zulaikhah Dwi Rahmawati hahahahaha.... saya terlalu narsis ya? hehehe.

Tapi, menurut saya nih cuma pendapat aja lhoo tapi bener kok.. #halah# Castform rasanya lebih cocok untuk kontes pokemon tipe beauty karena semua jurusnya kebanyakan tipe air. Tapi kalau misalnya untuk battle nggak kalah juga kok, malah lumayan kuat apalagi lawan tipe api.

Yak, sampai di sini dulu investigasi dari Castform. Lain kali saya investigasi yang lain okeh? See ya~

Jaa ne~ Matta ashita ^^


Minggu, 01 April 2012

Entah apa ini?

Bingung nih mau tulis apa... (_ _)" baiklah kalau gitu hiburan aja okeh?? hmm enaknya apa ya? Aha! Rasanya saya belum pernah nampilin kartun atau anime ya? Hmm... okelah kalau begitu. Apa ya? apa ya? #kelamaan dilempar sendal# baiklah, pilihannya jatuh padaa...... JENG JENG JENG JENG..!!! Yak, seputar Game Pokemon aja dehh... harap maklum saya paling sering main tuh game. Kenapa? karenaaa.... #kagak ada yang nanya# halah wess daripada saya curcol tak jelas asal usulnya lebih baik ini aja. Oke? Pertama enaknya siapa ya? Ahh pokemon favorit saya aja deh......

Ini dia.....!!!






Kenal dengan si naga mirip belut warna hijau ini? #pletakk. Hehehe oke oke... Namanya Rayquaza. Ada yang main game pokemon Emerald? tahu kan waktu Rayquaza misahin Groudon sama Kyogre yang bertarung di Sootopolis yang datangnya pakai jurus Extreme Speed? Yap! Ini nih jurus jurus milik Rayquaza.

>> OUTRAGE
>> EXTREME SPEED
>> ANCIENT POWER
>> TWISTER

 Sebenernya masih ada kira-kira enam lagi. Tapi kalau di game kan cuma boleh 4 aja kan? yak, ini yang paling menyebalkan apalagi kalau PP-nya habis... ya sudah. Nah, saya punya petunjuk untuk yang belum bisa nemuin Rayquaza di pokemon Emerald, Ruby atau Sapphire. Coba deh, kamu buka Hoenn Map terus kamu lihat Route 131 di dekat Pacifidlog Town kalau gak salah. Terus cari jalan ke arah utara nah di sanalah Rayquaza tidur. Atau tepatnya di Sky Pillar. Kalau ke sana, siapin tuh Mach Bike biar bisa lewat di atas retakan. Kalau udah ketemu, tinggal battle  terus kemparin deh tuh Master Ball. Finnaly, Rayquaza jadi milikmu ^^. Kalau udah ada Rayquaza, jaminan menang di Pokemon League lawan Elite Four bisa lebih. Apa lagi kalau punya Groudon plus Kyogre yang levelnya udah kepala 7. Menang deh tuh.... Selamat mencoba.

Yap, rasanya segitu aja deh. Posting selanjutnya saya lanjutin aja 'TEEN DETECTIVES' nya.

Jaa ne~ Matta ashita~ ^o^

Senin, 12 Maret 2012

Story


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”

DATA 1 : A Mysterious Letter

Langit senja yang terlihat kemerahan dan matahari yang bersiap menghilang, membuat semua orang takjub akan keindahannya. Begitu juga dengan Rinka, Naima, Valen dan John.
“Duduk di tepi danau sambil melihat matahari tenggelam memang menyenangkan.” Ujar Naima. Rinka menengok jam tangannya. Hampir pukul 6 sore.
“Naima, sebaiknya kita bergegas. Ibu akan marah jika kita pulang terlambat.” Ajak Rinka.
“Lho? Naima menginap di rumah Rinka, ya?” Tanya Valen.
“Ya. Orang tuanya ke luar kota lagi. Teman kita yang satu ini mengatakan kalau dia kesepian. Jadi dengan terpaksa aku harus menampungnya.” Jelas Rinka sedikit mengejek.
“Kamu kira aku ini air pakai ditampung? Jadi kamu terpaksa, Rin? Kau ke-jam..” rengek Naima.
“Ayolaaah… Kau sudah mengenalku berapa lama sih? Baru kemarin? Masa’ bercanda seperti itu sudah ngambek sih?” balas Rinka.
“Hehehe….. Just kidding.” Naima nyengir.
“Baiklah, sampai jumpa.” Pamit Rinka. Naima melambaikan tangan pada Valen dan John dan segera menghilang tapi bukan berarti menghilang seperti hantu.
“John, ayo pulang?” Ajak Valen.
“Yeah..” John pun berdiri dan membersihkan celananya. John dan Valen pun berjalan menuju rumah mereka.
“Jadi, orang tuamu belum pulang?” Tanya Valen.
“Hm? Mereka bilang bulan depan. Hahh…. Membosankan.” Jawab John dengan malas.
“Bagaimana kalau besok ke toko buku? Aku mau cari komik.” Ajak Valen.
“Dasar. Kau yang beli aku yang pinjam, oke?” tawar John.
“Enak saja! Dasar kau ini tak mau mengeluarkan uang.” Balas Valen.
“Kau tahu, lebih baik meminjam daripada beli jika bosan hanya ditaruh?” ujar John membela diri.
“Sudahlah… Tapi ada satu syarat.” Kata Valen. John memiringkan kepalanya tanda bingung.
“Berani bayar berapa kau?” Tanya Valen.
“Lupakan. Aku tidak jadi pinjam.” Jawab John memalingkan wajah. Valen terkekeh. Memang biasanya John selalu bersikap dingin. Tapi, tetap saja di hadapan Valen, sahabatnya sejak kecil, ia tetaplah John yang Valen kenal.
Ketika John sampai di depan rumahnya, ia mendapati sebuah surat di mulut kotak suratnya.
“Apa itu, John?” Tanya Valen menaikkan sebelah alisnya. John menaikkan bahunya. Ia pun mengambil surat itu.
“Hm??”
A Challenge Letter for John and Valen.

“Apa?” seru Valen terkejut.
Ketika permainan dimulai, tuan putri akan menghilang dan disusul oleh hilangnya sang malaikat. Jika kalian terlambat, kalian akan menyesal. Permainan rumah melengkung.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Valen.
“Aku tahu maksudnya.” Jawab John.
“Hmm…. Kurasa aku juga tahu. Jadi, haruskah kita beritahu mereka?” Tanya Valen.
“Tidak usah. Ini tantangan untuk kita. Jangan libatkan orang lain.” Jawab John.
“Yeah. Aku takkan biarkan orang ini melakukan sesuatu pada mereka. Aku akan melindungi mereka.” Ujar Valen.
“Begitu juga denganku.” Sambung John.

~To Be Continue~

 --ZULAIKHAH--

Sabtu, 10 Maret 2012

Story > Continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”
Continue        
DATA 3 : White Man and Blue Stone

“APA?!!! Jadi kalian sudah mendapatkan petunjuk di mana munculnya White Lupin dan Blue Stone?” tanya Ryu.
“Kira-kira begitu.” Jawab John singkat.
“Baiklah kita akan ke sana malam ini. Terima kasih untuk kalian.” Ujar Ryu.
Mereka pun segera menuju tempat yang telah diberitahukan oleh John. Tempat yang ingin diberitahukan oleh White Lupin.

Malam cerah yang disinari oleh bulan purnama benar-benar indah. Sang bulan menampakkan sinarnya.
“Di saat inilah, Blue Stone akan bersinar…” kata Mike.
“Kita akan temukan batu kesayangan paman itu..” ujar Naima menenangkan.
“Iya.” Jawab Mike.
Nampak 5 mobil patrol berjaga di depan Green Tower yang menjulang tinggi. Beberapa polisi pun menjaga di depan pintu dan banyak orang menyaksikan di bawah. Inspektur Ryu, Opsir Ron, Mike, John, Valen, Rinka dan Naima berada di dalam tower.
“Apa sudah terlihat, Naima?” tanya John pada Naima yang sedang meneropong melalui jendela tower.
“Belum. Lagipula bulannya masih terlihat sangat terang.” Jawab Naima yang masih terus meneropong.
“Kau jangan hanya melihat bulan saja! Lihat yang datang!!” sahut Valen.
“Iya iya…. Dasar cerewet.” Balas Naima.
“Apa benar ini tempatnya? Jika salah, ini akan berantakan.” Tanya Ron.
“Aku percaya pada mereka.” Jawab Ryu.
Sekitar 25 menit mereka mengawasi, akhirnya sang bulan mulai tertutup awan.
“Bulannya mulai tertutup awan!” seru Naima.
“Baiklah, semua bersiap!” ujar Ryu.

WUSSSSSHHHH

“Wah, tak kusangka mereka berada di tempat dan waktu yang benar. Kelihatannya ada penunjuk jalan di sini. Siapa ya? Aku jadi semakin tertarik untuk melihat apa kejutan orang-orang di bawah.”
Bayangan putih seperti burung yang terbang di atas langit malam dan tepat di atas tower itu mulai menurunkan ketinggian.
“Hmmm…….. Menarik.”

CKLAK KLAK KLAK

Beberapa lampu sorot berukuran besar diarahkan pada puncak tower untuk menyinari sang White Lupin.
“Wah, kejutan besar.”
“White Lupin, kau terkepung! Kau tak bisa lari dari kami! Serahkan kembali Blue Stone.” seru Ron menggunakan megaphone di bawah.
“Tenang, aku akan menyerahkannya. Tapi, aku akan menunjukkan sedikit pertunjukan.” Ujar White Lupin. Tak lama kemudian, beberapa polisi berada di puncak tower mengelilingi White Lupin dengan menodongkan pistol.
“Wah wah….. Baiklah. Apa kalian masih bisa melawan jika begini?” White Lupin langsung membuka sayap belakang bajunya dan yang terlihat hanya kepala dan tangannya saja. Badannya seakan menghilang.
“A..Apa-apaan itu? Kemana badannya?”
“Fufufu…. Sampai jumpa..!” White Lupin langsung berlari melewati mereka.

PRANG!!

Ternyata hilangnya badan White Lupin hanyalah sebuah trik kaca. Badannya terlihat lagi karena kaca penutup sudah pecah. White Lupin segera memunculkan hangglider-nya dan terbang.
“Dia kabur!!”
“Wah, kelihatannya tidak seru kalau begini. Lebih baik aku tinggalkan saja batu ini. Lagipula untuk apa jika kumiliki?” White Lupin menuju ke sebuah pohon besar dan meletakkan kotak berisi Blue Stone di atasnya. Ia pun turun dan menghilang lagi.
“Kemana dia?” tanya Ron.
“Menghilang. Tapi Pak, Blue Stone ada di atas pohon.” Jelas seorang polisi.
“Cepat ambil!” ujar Ron.
‘Dengan begini mereka takkan bisa menangkapku.’
“White Lupin…..” seru suara dari balik gang kecil.
“Ah… Jadi kalian penunjuk jalannya ya?”
“Benar..” kata John.
“Memang kami.” Sambung Valen. Mereka berempat kini berada di depan White Lupin yang mengenakan jaket hitam.
“Aku ingin tahu bagaimana kalian bisa menemukan tempat itu?” tanya White Lupin.
“Ya, di suratmu ada petunjuk. Yang pertama ‘sirnanya bulan’ bukan berarti akhir bulan, tapi ketika bulan tertutup awan. Lalu ‘sinar memanjang’ yang artinya lampu Green Tower yang terlihat memanjang.” Jelas John.
“Kotak berlian berarti toko perhiasan.” Sambung Valen.
“Dan burung putih artinya kau yang terbang menggunakan hangglider mu itu.” Tambah Rinka.
“Hahahaha…… Kalian cukup menghibur. Dan bagaimana kalian bisa tahu aku lewat jalan ini?” tanya White Lupin lagi.
“Karena kau tiba-tiba menghilang. Jadi, aku rasa kau menyamar dan membaur dengan kerumunan orang, lalu berlari berlawanan arah dengan arah kau terbang agar tidak dicurigai polisi sebagai White Lupin.” Jelas Valen.
“Kalian memang menarik. Baiklah, kita berjumpa lain kali. Sampai jumpa…” tiba-tiba White Lupin menhilang.
“Eh? Kemana dia?” tanya Naima.
“Sebaiknya sekarang kita mendatangi Paman Mike. Aku rasa dia sedang bahagia karena Blue Stone kembali. Dan mungkin kita bisa melihat sinar Blue Stone yang terkenal itu..” ajak Rinka.
“Ayoo…!!”

~THE END~
>ZULAIKHAH<

Minggu, 04 Maret 2012

Story >continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”

Continue….
DATA 2 : Meaningfull Letter

John, Rinka, Valen dan Naima membantu penyelidikan hilangnya ‘Blue Stone’ yang konon dapat memancarkan sinar biru ketika malam, terutama di bawah sinar bulan purnama.
“John, bisa aku lihat surat itu?” tanya Ryu.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang. Kotak berlian akan menghiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“White Lupin ya? Aku sama sekali tak tahu maksud surat ini. Kelihatannya ia sengaja menaruh surat ini untuk membingungkan polisi.” Ujar Ryu.
“WHITE LUPIN HARUS SEGERA DITANGKAP!!!” seru seorang pria berkumis kotak.
“Apa yang anda katakan Inspektur Aron?” tanya Ryu.
 “Tak apa. Tapi, ini adalah tugasku untuk menangkap pencuri itu. Karena hanya akulah yang bisa Hahahahahaha…” seru Aron dengan bangganya.
“Inspektur yang terlalu percaya diri.” Bisik Valen pada John.
“Apa-apaan itu.” Timpal Naima sambil menatap Inspektur Aron seakan berkata ‘Bodoh’.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Aron.
“Ng.. Omong-omong Paman Ryu, bagaimana kesimpulannya?” tanya John.
 “Hmm… Itu……,-“ belul selesai Ryu melanjutkan, Aron menyela.
“Itu berarti, kita tunggu sampai tak ada bulan yang berarti akhir bulan ini!” serunya dengan bangga lagi.
“Apa maksud anda? Mungkinkah selama itu? Ini baru saja awal bulan.” Bantah Ryu.
“Iya. Lalu bagaimana anda menjelaskan tentang ‘sinar memanjang’ dan ‘burung putih’ ?” tanya Rinka.
“I..Itu…” jawab Aron tergagap.
“Tapi yang jelas itu akhir bulan ini, titik!!” lanjutnya lagi tak mau kalah.
“Inspektur payah.” Komentar Naima.
“Apa katamu, bocah?!!” bentak Aron.
“Kelihatannya kami tak bisa mempercayai kesimpulan anda barusan. Karena itu sangat mustahil. “ sela Ryu.
“Ya, perkataan Paman Ryu benar.” sambung John.
“Kalian ini masih bocah. Kalian tahu apa tentang penyelidikan dan kriminal?” tanya Aron meremehkan.
“Kau jangan remehkan mereka, Aron. Mereka anak-anak kepercayaanku. Selain itu, mereka mengerti banyak tentang kasus.” Jelas Ryu.
 “Daripada itu, sebaiknya kita segera mencari tahu apa maksud surat ini. Benar kan Paman Ryu?” usul John.
‘Lagi-lagi dia mengabaikanku..’ gerutu Aron yang terlihat kesal dengan tingkah John.

Kepolisian Kota Green.
“Bagaimana ini, Ron?” tanya Ryu pada bawahannya.
“Kami masih belum bisa memastikannya.” Jawab Ron.
“Baiklah, kita harus segera mencari tahu maksud surat itu. White Lupin sangat licik. Dia bahkan sangat pintar.” Ujar Ryu.

Sore hari di Green Park.
“Hei, bagaimana menurutmu tentang surat itu?” tanya Valen.
“Hah….. Aku masih belum tahu.” Jawab John.
“Hei, Rin. Kau kan paling jago soal memecahkan kode. Jadi apa maksud surat itu?” tanya Naima.
“Apa ya? Entahlah… Aku belum bisa menangkap sesuatu.” Jawab Rinka sambil memainkan bunga mawar di depannya.
“Omong-omong apa maksudnya ‘sinar memanjang’, ‘burung putih’ , dan ‘sirnanya bulan’ ?” tanya Naima.
“Entah..Tapi, mana ada burung putih yang terbang pada malam hari? Sinar memanjang di malam hari juga apa ? Kalau lampu yang berkelip-kelip memanjang masih ada.” Kata Valen.
‘Eh? Lampu memanjang?’ batin John.
“Tapi mungkin di dalam surat itu tersirat tempat dan waktunya, tapi kita tidak menyadarinya.” Ujar Naima.
“Tapi, kalau kita menurut perkataan inspektur aneh itu, apa kita harus menunggu sampai akhir bulan ini? Kurasa mustahil. Mungkin ketika akhir bulan ini, Blue Stone sudah dijual di pelelangan.” Tambah Valen.
“Jadi apa maksudnya bersama sirnanya bulan? Apa ketika bulan tidak terlihat karena tertutup awan. Bukankah bulan sering terlihat menghilang ketika tertutup awan?” tanya Naima.
“ITU DIA!!” seru John dan Rinka bersamaan.
“Ah? Ada apa?” tanya Valen.
“Kalian berdua jenius. Itulah maksud surat itu.” Ujar Rinka.
“Maksudnya?” tanya Naima.
“Hanya tinggal satu yang belum terpecahkan. Apa maksud dari ‘kotak berlian’ dan ‘sinar memanjang’…” ujar John.
“Hei, mungkinkah itu toko perhiasan? Toko itu kan berada di dekat Green Tower yang mempunyai lampu memanjang dari atas ke bawah?” tanya Naima.
“Itu… Yeah… Kurasa Naima benar. Jadi malam ini, ya?” tanya Rinka.
“Malam ketika sang bulan ditelan gelap malam.” Sambung John.
“Sinar memanjang yang menggantikan sinar Blue Stone.” Sambung Valen.
“Tapi, apa maksud ‘burung puitih’ ?” tanya Naima lagi.
“Kurasa aku tahu apa maksudnya. Rin, apa perkiraanmu juga sama denganku?” tanya John.
“Mungkin. Kurasa burung putih adalah White Lupin itu sendiri yang akan terbang di atas Green Tower.” Jawab Rinka.
“Tepat sekali! Sekarang, kita beritahu Inspektur Ryu. Tapi jangan beritahu inspektur aneh itu oke?” usul Valen.

Malam harinya…..
“Hmm…… Angin bertiup dengan lembut, membuatku tidak tahan mengelabuhi para polisi itu. Aku yakin mereka mengira ini akhir bulan ini. Fufufu….. Baiklah, waktunya beraksi.”
WUSSSSHHHHH



~TO BE CONTINUE~

>ZULAIKHAH<