Yaa haa~ Akhirnya setelah memeras otak sampai hapus-tulis-hapus-tulis bisa juga menlanjutkan cerita yang satu ini. Fiuhh........ Ternyata Inspirasi-sama datang pada saya. hehehe. Yap, tanpa basa-basi lagi saya posting ini. ENJOY IT, GUYS ^^. Kritik dan saran diterima di sini dan mohon comment di bawah. ^o^
TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 4 : In the middle of door
“Khukhukhu…….” Kata orang misterius itu
lagi. Untuk kedua kalinya mereka mendengar tawa seperti itu.
“Siapa kau?” Tanya Valen mengambil tempat
di depan Rinka bersama John.
“Hmm….. Kalian tak perlu tahu. Yang kalian
perlu tahu adalah, sang putri akan menghilang jika kalian tidak segera pergi
menyelamatkannya.” Ujar orang misterius itu lagi.
“Ahh… Tapi tunggu, bagaimana kalian bisa
selamatkan tuan putri kalau kalian akan mati di tanganku?” sambungnya.
“Apa maumu, orang aneh?!!” seru Valen.
“Just
do thing that ordered to me.” Jawab orang itu.
“Jadi, ada yang menyuruhmu ya? Pekerjaan
macam apa itu?” Tanya John.
“Pekerjaan yang dibayar!” dengan cepat
orang itu berjalan mendekati mereka bertiga. Mereka bertiga pun berbalik dan
berlari menuju salah satu dari 3 jalan itu. Mereka masuk ke kanan.
“Kenapa kita ke kanan, John?!!” seru Rinka.
“Diamlah! Aku punya rencana.” Jawab John
sambil meneruskan larinya.
“Mau kemana kalian, bocah?”
“Ohh, bagus! Di sini buntu sekarang!!” ujar
Valen.
“Sudah kuduga.” Sahut John.
“Oi, apa maksudmu?” Tanya Rinka. Dengan
cepat John menarik lengan kedua temannya dan member isyarat untuk sembunyi di
balik batu.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
bisik Valen.
“Kalian membawa barang yang berukuran
sedang? Atau kecil pun tak masalah.” Tanya John.
“Aku ada senter!” jawab Valen.
“Aku hanya ada pulpen.” Jawab Rinka.
“Bagus!”
“Tapi untuk apa?” Tanya Valen lirih.
“Diam dan lakukan saja apa yang kukatakan.”
Sela John. Rinka dan Valen saling berpandangan.
“Kemana kalian bocah kecil? Apa kalian
ingin mengajakku bermain petak umpet?”
“Sebenarnya tidak.” Mereka bertiga tiba
–tiba keluar dari persembunyian.
“Apa maksdumu, Nak?”
“Tak ada.” John member isyarat pada Rinka
dan Valen untuk melemparkan senter dan pulpen itu. John pun melempar senternya.
PLUK PLUK PLUK
“Hahahahahaha!!! Apa kau bercanda? Untuk
apa kau melempar barang-barang tak berguna ini? Mengulur waktu?”
Tak lama kemudian, gerombolan kelelawar
datang ke arah datangnya suara barang yang terjatuh itu dan membuat orang
misterius itu pun kerepotan.
“Gyah!! Bocah kurang ajar!! Sial, kenapa
aku bisa lupa dengan apa yang kulakukan?! Awas kalian!!!” di saat orang itu
kerepotan dan merutuki kebodohannya, mereka bertiga berlari menerobos
gerombolan kelalawar itu dan menuju ke jalan yang benar.
“Bagus, sekarang jalan mana yang benar?”
Tanya Valen.
“Tengah, Val!” seru Rinka sambil menarik
lengan Valen yang hampir menuju ke jalan kiri.
“Woo..oooohh..!!” Valen berlari miring
karena ditarik Rinka.
“Kita aman sekarang?” Tanya Valen sambil
terus berlari.
“Kurasa tidak.” Jawab John. Benar saja,
orang misterius itu masih saja mengejar. Kali ini ia menodongkan sebuah pistol
pada mereka.
“Mau lari kemanakah kalian… Hahahahaha!”
serunya.
“Gyaaaaa!!! Dia datang lagi….!” Seru Valen.
“Bahaya…” mereka bertiga mempercepat lari
mereka. Tak jauh dari sana, mereka melihat cahaya. Jalan keluar.
“Akhirnyaaa…..” seru Rinka.
“Cepat, lari!!!” seru John.
“Khekhekhe!! Kemana kalian? Takkan
kubiarkan lolos!!” seru orang itu. Ia menembakkan beberapa peluru.
DOR!! DORR!! DORR!!
“Hahh! Apa –apaan itu?!” seru Valen.
“Cih! Untung saja semua meleset! Kalau
terkena bisa gawat” ujar John.
“Cepat lari, atau ia akan semakin dekat!!”
kata Rinka mengingatkan.
“Tanpa kau bilang pun aku sudah tahu!!
Hilangnya Naima saja sudah kerepotan
apalagi harus ditambahi dengan maniak yang satu ini?!!!!” gerutu Valen dengan
kerasnya.
Akhirnya mereka berhasil keluar dan di luar
gua, semuanya telah menunggu.
BRUKKK!!! SRAAKKKK!!!!!
Mereka bertiga jatuh tersungkur di tanah
karena berlari terlalu cepat dan terpeleset.
“Hei, kalian tak apa?” Tanya Dion.
“Syukurlah kalian bisa keluar, Nak.” Ujar
penjaga hutan.
“Hahh… hahh….” Suara desah nafas mereka
bertiga tak karuan.
“Heh….. gagal mendapatkan
malaikat, ya? Mungkin sebentar lagi akan kudapatkan.”
Di saat mereka bersyukur karena Rinka,
Valen da John selamat, Dion menyadari sesuatu.
“Hei, mana Naima? Kemana dia?” Tanya Dion.
“He..Hei… Apa yang terjadi di sini?” Tanya
Rio.
“Kami akan ceritakan detailnya.” Jawab
John.
“APA KATAMUU?!! Naima Danna anak dari
pemilik salah satu perusahaan terbesar ‘Danna
Corporation’ diculik?!!!!!” seru salah satu guru laki-laki bernama Hito.
“Iya iya, Pak Hito. Tapi tak perlu berteriak
sekencang itu kan??” komentar Dion menutup telinganya.
“Tapi, dia anak yang baik. Apa urusannya
dengan orang-orang jahat? Aneh.” Sambung Pak Hito lagi.
“Daripada itu sebaiknya kalian istirahat.
Hari mulai gelap. Kita lanjutkan pencarian besok.” Usul penjaga hutan.
“Baiklah Pak Herry.” Jawab mereka kecuali
kedua guru, May dan Pak Hito.
Keesokan harinya
“Anak-anak, karena keadaan di sini tidak
memungkinkan karena Naima diculik, dan untuk kembali ke Kota Green juga sulit
karena cuaca yang tak baik maka kalian pindah ke penginapan yang sudah kami
sewa di dekat sini.” Jelas May.
“Tapi, err..Kak May…” Tanya Dion.
“Tenang saja. Semua akan baik-baik saja.”
Jawab May.
“Bagaimana dengan Naima?” Tanya Rio.
“Polisi, Pak Hito, Pak Herry dan polisi
sedang mencarinya. Kalian tenang saja. Segera pindahkan barang kalian ke
penginapan.” Jawab May.
Akhirnya mereka semua berpindah ke
penginapan. Acara yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi tak seperti yang
mereka inginkan. Begitu juga dengan Rinka. Ia tak menyangka Naima diculik
begitu saja padahal ia ada di sana. Ia merasa dirinya benar-benar bodoh karena
tak memperhatikan sahabatnya sendiri.
“Semua akan baik-baik saja kok, Rinka” kata
Dion menenangkan. Rinka tersenyum.
“Jadi, John?” Tanya Valen. John hanya
menaikkan sebelah alisnya.
“Ahh, tidak jadi.” Sahut Valen karena
tersadar di sana ada Rio. Tak mungkin jika ia mengatakan hal tentang surat itu
di depan Rio.
“Kemah ini jadi tak menyenangkan.” Komentar
Rio.
“Rio, kami pergi dulu.” Pamit Valen dan
John kembali ke lokasi camping.
“Lho?
Kemana?” Tanya Rio.
“Kami
akan mencari Naima!” mereka pun berlari kembali menuju lokasi camping.
“Lho?
Rio, mana John dan Valen?” Tanya Dion.
“Mereka
bilang akan mencari Naima.” Jawab Rio. Tiba – tiba saja Rinka menghentikan
langkahnya.
“Kenapa,
Rin?” Tanya Dion.
“Mm….
Dion, apa aku boleh menitipkan tasku?” Tanya Rinka.
“Iya.
Kamu mau kemana?” Tanya Dion lagi. Tapi Rinka langsung melesat pergi.
“Eehh??”
‘Naima….’
Rinka terus berlari menuju polisi yang sedang mencari Naima.
“Hoi,
Rin..!!” sapa Valen. Rinka menoleh.
“Kenapa
kau ada di sini? Berbahaya.” Sambung John.
“Aku
ingin mencari Naima.” Jawab Rinka yakin.
“Tapi,
sebaiknya kau ke penginapan. Taka pa biar kami bersama Inspektur Ryu yang cari.”
Kata Valen.
“Kalau
Naima berada di posisiku sekarang, pasti dia akan mencariku juga kan. Jadi aku
akan mencarinya juga.” jawab Rinka yakin.
“Hei,
aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku.” Kata Rinka lagi.
“Apa?”
Tanya Valen. Valen dan John saling berpandangan.
~To Be Continue~
--ZULAIKHAH—

