Spin

Rabu, 11 April 2012

Story > End

Ini PART II dari cerita di bawah.. Enjoy reading ^^
'TEEN DETECTIVE' action ^o^ #bergaya seperti sutradara yang di pilem-pilem itu lhooo


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 6 : Pembalasan dendam yang gagal  (PART 2)

“Val!!” seru John.
“Kita berpencar bersama dua polisi ini.” sambungnya.
“Baiklah, untuk di belakang penginapan biar kami yang tangani. Dan yang lain…” kata salah seorang polisi.
“Aku akan ke bagian gudang sebelah timur. Lalu di dekat halte, kau, John.” kata Valen. Mereka segera berpencar.

Belakang penginapan
“Naimaaa!! Rinkaa!!!” panggil seorang polisi.
“Ayo kita sebaiknya masuk!” ujar polisi yang lain. Kedua polisi ini pun masuk.
BRAKK!!
Mereka mendobrak pintu itu dengan keras. Mereka menyisir seluruh bagian bangunan itu. Kosong.
“Kosong. Mereka tak di sini. Ayo kita berpencar. Kau ke tempat Valen. Aku akan menyusul John.” Kata salah satu dari mereka. Mereka pun berpencar lagi.

Gudang bagian timur
“Tempat ini benar-benar tertutup. Kelihatannya tak mungkin menyekap orang di sini. Tapi, mari kita lihat ada apa di dalam.” Valen memasuki gudang itu. Ia menyalakan senternya.
“Ini hanya gudang bekas percetakan. Kalau begitu….” Valen pun berlari keluar gudang dan bertemu dengan salah satu polisi.
“Ahh… Paman?” panggil Valen.
“Apa mereka ada?” tanya polisi itu.
“Tidak ada. Jika Paman ada di sini itu berarti hanya di tempat John ya?” Tanya Valen. Polisi itu mengangguk. Mereka bergegas menuju halte.

.
“Bagaimana ini, Rinka? Kita tak bisa keluar..” kata Naima.
“Apa kau punya jepit kecil?” tanya Rinka.
“Eh??” Naima tak mengerti maksud Rinka.
“Cepat..” kata Rinka. Naima memberikan jepitnya. Rinka segera membuka pintu itu dengan jepit itu.
“Apa akan berhasil?” Tanya Naima.
CKLEK!
“Berhasil!!” seru Naima. Rinka menghela nafas. Tapi, ketika mereka membuka pintu…
“Mau kemana kalian?” Tanya seorang wanita dengan sebuah pistol di depan mereka.
“O..Ohh.. Tidak..”
“Hm…. Mencoba kabur? Takkan berhasil.” ujar wanita itu tersenyum menyeringai.
CKLEK
Wanita itu mengunci pintunya lagi. Ia menodongkan pistol pada Rinka dan Naima.
“B..Bagaimana, Rinka…?”
“Tenanglah, Naima..”
“Kalian akan…….-“
“NAIMAAA!!!!! RINKAAA!!”
“Heh, mereka berhasil menemukan tempat ini, ya? Kelihatannya waktu penderitaan kalian akan tertunda.” Wanita itu pergi begitu saja dan meninggalkan sesuatu.

‘I..Itu…’
Benar saja, wanita itu meninggalkan gas tidur dan membuat Naima dan Rinka tertidur.

“Tak ada jawaban. Apa mungkin tidak di sini?” Tanya John.
“John..!!”
“A.. Paman?” kata John pada seorang polisi.
“Apa mereka di sini?”
“Entahlah, tapi….” John tidak melanjutkan kalimatnya.
TAP TAP
“Ternyata kau di sini, May Roselia…” sambung John. May muncul dari balik gelap malam.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang polisi.
“Saya hanya berjalan-jalan mencari udara segar.” Jawab May.
“Benarkah? Atau kau melihat keadaan kedua sanderamu?” tutur John tanpa basa-basi.
“Jadi kau menuduhku sebagai penculik? Benar-benar bodoh.” kata May mengelak.
“John? Apa maksudmu?”
“Ini…” John mengeluarkan kertas dari sakunya.
“Ini kertas yang tergeletak di tempat laki-laki pendek yang kau serang.” kata John.
“Apa?” May terbelalak ketika mendengar perkataan John.
‘Laki-laki itu tidak mati, huh?’
“Lihat baik-baik..” John mengangkat kertas itu ke atas dengan tulisan di depan. Karena sinar bulan, tanda ‘lebih dari’ yang terlihat menjadi ‘kurang dari’ jika dilihat dari arah sebaliknya menjadikan tulisan itu terbaca ‘Month A Yes’.
“Apa maksudmu?” tanya May lagi.
“Apa tidak aneh dengan tulisan ini? Huruf ‘A’ seharusnya ditulis dengan huruf kecil. Jika diangkat seperti ini dan terkena sinar bulan, coba kau baca saja huruf kapital di kertas ini sesuai arah ‘kurang dari’ yang kau lihat.” jelas John.
“M…May?” kata May.
“Ya, kau benar. Satu lagi, Dion memberitahuku kalau ia mendengar perkataan aneh darimu.” kata John lagi.
“Apa itu?”
“Setelah Pak Hito menerima telepon dari Inspektur, tak ada yang memberitahu kalau Rinka juga diculik. Yang kita ketahui hanyalah Naima yang diculik. Tapi kau menagatakan ‘Jadi, kedua gadis itu bagaimana?’ padahal Pak Hito belum mengatakan kalau Rinka diculik dan tak ada yang mengatakan padamu sebelumnya.” tutur John lagi.
“Jadi, jika aku pelakunya, bagaimana aku menculik Naima sedangkan aku berada di luar gua?” tanya May.
“Kau menyuruh laki-laki pendek itu dan ia berpura-pura ketika di luar gua.” Jawab John.
“Apa hubunganku dengan laki-laki yang tak bisa menjalankan tugas dengan baik itu? Dan kenapa aku harus menyerangnya?” tanya May lagi. John tertawa pelan.
“Apa ada yang lucu?”
“Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia tidak bisa menjalankan tugas dengan baik kalau kau tak mengenalnya? Kau menyerangnya mungkin karena kau tidak ingin membagi keuntungan jika saja kau mengancam Danna Gray, pemilik perusahaan besar itu supaya memberi tebusan untuk Naima, anaknya.” ujar John. May menggertakkan  giginya dan mengepalkan tangan.
“Lalu, bagaimana aku bisa menculik Rinka? Bahkan ketika pukul 11.00 tak ada yang hilang, kan?” tanya May.
“Mudah saja. Kau menggunakan cara licik karena kau tahu Naima adalah sahabat baik Rinka. Lalu dengan sedikit mengancam Rinka lalu membuatnya datang dengan sendirinya.” jelas John lagi.
“Satu lagi, kamera di depan kamar laki-laki pendek itu merekam kedatangan dan kepergianmu. Apa kau tak menyadarinya?” tukas John lagi.
“K..Kau… Huh, aku ketahuan ya?” kata May mengakui.
“Angkat tanganmu dan jangan bergerak!” seru seorang polisi yang bersama Valen.
“Valen?” tanya John.
“T..Tunggu, wanita itu… Di kakinya..!!” seru John. Wanita itu mengambil sesuatu dari kakinya.
“Kau cukup jeli sampai tahu aku menyembunyikan pistol ini di kakiku.” Kata May.
“Jika kalian, Polisi, tidak menjatuhkan pistol kalian aku akan membuat kedua anak itu tamat.” Ancam May.
“Kenapa… Kenapa kau lakukan ini?” tanya Valen.
“Kenapa? Kau tanya kenapa? Kalian yang membuat Henry masuk penjara!!” seru May sambil menodongkan pistol pada John dan Valen.
“Bukankah itu pantas karena ia mencoba membunuh atasannya?” kata Valen.
“Pantas katamu? Kau tak tahu bagaimana hidupku tanpanya..!!” seru May lagi.
“Dan terutama padamu, John!!” sambung May.
“Kau… Tidak, ayahmu yang membuat ayah Henry masuk penjara hingga ia mati di sana!!”
“Dia ya? Orang yang melakukan pembunuhan karena hutang dan ancaman?” kata John.
“Kalian membuat mereka dipenjara. Dan sekarang aku akan membalasnya pada kalian melalu dua teman yang kalian sayangi itu.” ujar May.
“T..Tunggu!” seru Valen.
“Jika kalian ingin mereka selamat, ikutlah denganku kalian berdua. Kalian polisi tetaplah di sini!!” tawar May. Valen dan John pun berjalan di depan May. Mereka naik ke lantai dua dan membuka pintu.
CKLEK
“Naima, Rinka!!” seru Valen. Mereka berdua menghampiri Rinka dan Naima.
“Sekarang kalian akan tahu.” May melempar kunci itu dan menembaknya.
“Sekarang kita takkan bisa keluar. Lihat itu…” May menunjuk sebuah kotak yang tertulis 10 menit di layarnya.
“Apa itu??” tanya Valen.
“Benda itu berisi racun yang berbahaya. Jika tak bisa keluar dari sini kita semua akan mati.”
May menodongkan pistol pada John dan Valen.
“Kau benar-benar tak tahu bagaimana rasanya hidup sendirian. Tak ada siapapun..” kata May. Valen mengetahui kalau May sedikit mengendorkan pegangannya pada pistol. Tanpa buang waktu, ia menendang tangan May dan membuat pistol itu terlempar. May terduduk dan menangis. John mengambil pistol itu.
“Bodoh… Kalau sudah begini apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kau lakukan?” kata May mulai menyesali perbuatannya.
“Kau hanya akan menjadikan dirimu semakin buruk jika membalas dendam.” Kata John.
“John, benda itu…” kata Valen.
“Bagaimana kita membuatnya berhenti, ha?” tanya John.
“Bola itu..!!” Valen mengambil benda itu dan memainkan bola.
“Ini bukan saatnya main-main, Valen!” seru John.
“Lihat ini!” Valen melempar benda itu dan menendangnya dengan bola dan melesat melalui kaca lalu masuk ke sungai kecil.
“Dengan begitu aman.” Kata Valen.
BRAKKK!!
Beberapa polisi datang dan segera meringkus May. Naima dan Rinka pun terbangun.
“Kalian?” tanya Naima.
“Ya, semuanya berakhir. “ jawab Valen. Akhirnya semua berakhir. May ditangkap polisi karena kasus penculikan dan percobaan pembunuhan. Naima dan Rinka selamat dan tak ada yang terluka. May yang melakukan balas dendam itu pun akan dipenjara cukup lama.Camping tak berjalan lancar dan jadi menginap di penginapan. Meskipun begitu, mereka menikmatinya dan hampir bisa melupakan apa yang terjadi hari ini. Keesokan harinya mereka semua kembali ke Kota Green dengan selamat.

~THE END~


THANKS FOR READING
SEE YA

Jaa ne~

*ZULAIKHAH*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar