Spin

Rabu, 18 April 2012

The End



TEEN DETECTIVES Special
“ Mimpi Buruk II “

“Kalian takkan bisa lari!!” Pria itu menyerang Valen. Valen menghindar dan melompat ke meja.
BUGHH
“Tindakan bagus, John,” ujar Valen yang melihat John memukul kepala pria itu dengan tiang bendera dari kayu.
“Bocah… Kau memang benar-benar..”  pria di belakang Rinka bangkit lagi. Benar-benar orang yang kuat.
BUKK
BRUGH
Kali ini Valen yang memukulnya dengan tiang bendera. Tak bisa menggunakan tangan atau kaki, tiang pun jadi.
“Kau meniruku, Val?” lirik John.
“Hahaha… Apa boleh buat?”
Mereka pun mengendap-endap menuju ruang uatama. Masih ada 4 orang yang belum mereka temui. Entah itu beserta bos mereka atau tidak.
“Aku dan Rinka akan masuk duluan. Kalian menyusul, oke?” ujar John. Mereka mengangguk. John dan Rinka membuka pintu secara perlahan. Pintu terbuka sedikit sehingga memberi ruang untuk mereka agar bisa melihat keadaan di dalam.
“Berapa orang yang disandera?” tanya John lirih.
“Angka yang besar. Aku melihat Paman Danna di sana,” jawab Rinka tak kalah lirih.
“Bagaimana dengan perampoknya?” tanya John lagi.
“Aku hanya melihat dua orang bersenjata,” jawab Rinka.
“Mungkin yang lain menyelinap di antara para sandera atau bahkan mengawasi kita,” tutur John.
“Mungkin. Jadi bagaimana? Apa kita harus masuk dan jadi sanderanya juga?” tanya Rinka.
BRUAKK
“Papa!!!” seru Naima.
“Naima, apa yang kau….” Panggil Rinka.
“Val, ada apa?” tanya John.
“Dia memaksa! Dia bilang Papanya dalam bahaya,” jawab Valen.
“Wah wah wah…. Ada tamu tak terduga rupanya,” sapa seorang pria berbadan kekar berbaju hitam membawa sebuah pistol.
“Naima!!” panggil Danna Gray, Papa Naima.
“Jadi, dia putrimu? Hmm… Akan menarik ini,” pria berpakaian hitam yang terlihat sebagai bos itu pun menghampiri Naima. Tapi, tak semulus perkiraannya. Valen dan John berdiri di depan Naima.
“Mengesankan. Kalian begitu berani melawan orang sepertiku,” kata pria itu.
“Akan kulayani…,” sambung pria itu lagi. Pria itu mencoba menangkap Valen dan John. John segera menyuruh Naima dan Rinka menjauh. Naima dan Rinka menuju para sandera.
“Kalian mau kemana?!!” seru salah seorang anak buah pria kekar itu.
“Aaaaa!!” Naima berteriak karena pria itu mendekat.
JDUAKK BRUKK
Ketika Naima membuka matanya, pria yang menjadi anak buah pria kekar itu sudah terkapar tak berdaya.
“Ri..Rin…Kau..?” tanya Naima.
“Sudahlah, cepat,” Rinka menarik lengan Naima. Rinka dan Naima pun melepaskan ikatan Papa Naima dan juga sandera yang lain satu per satu. Sedangkan John dan Valen masih berurusan dengan bos para perampok itu.
SIINNG
Seseorang di belakang Naima mencoba memukulnya dengan balok kayu tapi ditendang oleh Rinka.
“Di..Dia… Perampok juga?” tanya Naima syok.
“Khukhukhu...,”
BRUKK
Tapi sebelum seorang perampok lagi yang menyamar menjadi sandera mencoba menyerang Naima lagi, Rinka menendengan laki-laki itu lagi.
“Dengan begini hanya tinggal bosnya….,” kata Rinka.
“Sebaiknya kalian semua segera keluar dan mencari bantuan dan panggil polisi,” ujar Danna Gray.
“T..Tapi Direktur?” tanya seorang pegawai.
“Cepat!!” akhirnya kira-kira 10 orang pegawai keluar dari ruangan itu dan segera mencari bantuan.
“Kurang ajar kalian!!!!” seru bos perampok itu menyingkirkan Valen dan John yang ada di depannya. Ketika Rinka tak melihat, bos perampok itu memiting Naima.
“Hahahaha……, “ tawa laki-laki berbadan kekar itu menggema. Rinka menoleh. Ia sangat terkejut karena Naima ada pada bos perampok itu.
“Naima!” seru Danna Gray.
“Papa!”
“Sial..!!” Valen mencoba menyerang laki-laki itu lagi.
“Awas kau!!” seru Valen.
BUAGHH BRUAKK
Valen terlempar karena tangan kekar bos perampok itu hingga membentur tembok.
“Valen!!” seru Naima.
“Lepaskan aku!!” erang Naima.
“Jadi dia ini anakmu, Gray?” tanya lelaki berbadan kekar itu.
“Apa maumu?” tanya Danna Gray geram.
“Serahkan semua assetmu atau gadis kesayanganmu ini dalam bahaya,” ancam laki-laki itu.
“Tapi sebagai gantinya, kau lepaskan putriku,” balas Danna Gray.
“Setuju,”  Danna Gray pun menghubungi bawahannya untuk mengambil surat-surat penting padanya.
“Aku sudah memberitahu anak buahku untuk memberikannya padamu,” ujar Danna Gray.
“Sekarang lepaskan putriku,”
“P..Papa…,” panggil Naima lirih.
Lelaki berbadan kekar itu melepaskan tangannya dari Naima dan membiarkannya menuju ke Danna Gray.
“Khukhu..,” tapi tak sepenuhnya yang dikatakan laki-laki itu benar. Begitu Naima dekat dengan Papanya, laki-laki itu mengacungkan handgun dan mengarahkannya pada Naima dengan senyuman menyeringai. Pertanda buruk. Dengan cepat, Danna Gray mengambil posisi melindungi Naima dan memeluknya.
DORR DORR
Dua tembakan dilepas. Naima tak bisa melihat apapun karena terhalan tubuh Danna Gray yang melindunginya.
“Naima, kau tidak apa?” tanya Danna Gray.
“Papa.. Aku taka pa. Papa, apa baik-baik saja?” tanya Naima. Danna Gray mengangguk.
“J..Jadi, tembakan barusan….,?” tanya Naima tergagap. Ketika Danna Gray menggeser badannya Naima melihat sesuatu yang mengerikan.
“T…Tidak mungkin. I..Itu….” Naima tergagap begitu melihat apa yang ada di depannya. Orang yang sangat dikenalnya, ambruk di depannya.
“Cih, aku salah sasaran,” Lelaki berbadan kekar itu berdecak kesal sambil mengisi ulang peluru pistolnya.
“Rinkaaaa!!!! Joooohn!!!!” seru Naima dengan meneteskan air mata. Ia segera berlari menuju kedua temannya yang tersungkur di lantai.
“A..Apa.. Kalian ..?” tanya Naima menangis di hadapan mereka.
“Hm… Kau.. Baik-baik saja.. ya?”
“Diamlah John! Aku akan membawa kalian ke rumah sakit!” seru Naima.
“Hm…” Rinka dan John tersenyum.
“Kau terlambat. Kedua peluruku menembus paru-paru mereka. Jadi, cepat atau lambat mereka akan mati,” kata laki-laki berbadan kekar itu tanpa dosa layaknya tak terjadi apapun. Ia seperti hanya menembak dua ekor burung yang terbang lalu terjatuh ke tanah.
“Kalau begitu, lebih baik sekalian…,” kata laki-laki kejam itu lagi.
DORR
Naima terbelalak. Kali ini ia tak bisa membendung air matanya lagi. Danna Gray jatuh tersungkur ke lantai.
“PAPAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
“A..Ada apa, Nona Naima?” tanya seseorang memasuki kamar Naima.
“Bi..Bibi?” tanya Naima yang terbangun dengan keringat dingin bercucuran.
“Anda kenapa, Nona? Apa anda baik-baik saja?” tanya wanita itu lagi.
“Papa! Mana Papa??!” tanya Naima sambil menggoyang pundak wanita di depannya.
“T..Tuan Gray ada di ruangannya bersama Nyonya.,” jawab wanita itu bingung dengan apa yang terjadi. Naima langsung melompat dan segera turun menuju ruang Papanya.
BRAKK
Naima membuka pintu denga kasarnya hingga membuat kedua orang di dalamnya terkejut.
“Ada apa Naima? Kenapa kau membanting pintu?” tanya Danna Gray.
“Papa?” tanya Naima.
“Kenapa, Naima? Ada apa denganmu?” tanya Sarah, ibu Naima.
“Papa, syukurlah kau taka pa…,” Naima berlari memeluk Papanya. Danna Gray dan Sarah hanya saling bertatapan dengan bingung.
“Ada apa, Naima? Apa kau mimpi buruk?” tanya Sarah.
“K..Kurasa iya,” jawab Naima.
“Ahh, bukankah kamu berjanji akan pergi bersama Rinka, Valen dan John?” kata Sarah mengingatkan.
“Ah.. Itu? Benar!! Iya, janji dengan mereka!!” Naima pun langsung berlari menuju kamarnya lagi dan hampir menabrak pembantu rumah tangga yang sedang membawa minuman.
“Hati-hati, Nona..!” seru wanita itu. Naima langsung berlari menaikki tangga dan segera mandi dan ganti baju. Tak lama kemudian ia berlari keluar dan menuju taman, tempat yang ditetapkan mereka.
“Semoga mimpiku tak jadi kenyataan..!” seru Naima dalam hati. Ia berlari menuju taman. Dilihatnya ketiga temannya sedang berdiri di bawah pohon yang rindang.
“Haaaaiii!!!” seru Naima sambil terus berlari.
“Kenapa dengannya? Kelihatannya tergesa-gesa sekali?”  tanya Valen.
“Kutebak dia baru saja mendapat mimpi buruk,” ujar John.
Naima berlari dengan cepat dan langsung memeluk Rinka.
GREB
“A..Apa-apaan ini, Naima? Aku tak bisa bernafas!” seru Rinka.
“Huaaaaa… Ternyata hanya mimpi!!!” seru Naima. Valen melirik John dengan tatapan seakan mengatakan ‘kau-benar-soal-mimpi-buruk-itu-John’ dan John menatap Valen seakan mengatakan ‘sudah-ku-bilang-kan?’.
“Kau mimpi buruk tentang kami?” tanya Valen. Mereka pun berjalan menuju tempat rekreasi seperti rencana mereka. Naima pun menceritakannya sambil berjalan.
.
“Hahaha… Aku jadi ingin tahu bagaimana ekspresimu kalau seperti itu,” kata Rinka.
“Rinka! Kau tahu, aku hamper jantungan tahu!!” seru Naima.
“Iya, bagaimana Naima kalau itu benar-benar terjadi?” tanya John dengan nada mengejek.
“Kalian mengejekku?” tanya Naima cemberut.
“Aku rasa kau terlalu banyak menonton film horror jadi kau bermimpi sampai seperti itu.” sambung Rinka.
“Ah, apa kau mengompol ketika bangun tadi?” ejek Valen.
“Apa yang kau katakaaannn!!!!!!!” Valen berlari dan dikejar Naima yang siap menjatuhkan sebuah jitakan mantab. Sedangkan John dan Rinka hanya tertawa.
“Untunglah itu hanya mimpi, “ kata Rinka.
“Ya, untung saja,” sambung John.

~THE END~
Deg-degan nggak? Kurang serem ya? Hahaha…. Saya repot sendiri bikin ceritanya dan ternyata akhirnya ‘hanya mimpi’, hahaha #dihajar#. Sekali-sekali bikin pembaca jantungan kan ndak papa, iya kan? #dihajar lagi# . Ya sudahlah, ini hanya cerita belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan apapun. Ini asli produk kepala eh maksudnya asli imajinasi saya yang kadang terlalu aneh sampai menghasilkan cerita aneh pula. Ya begini deh jadinya.
Thanks for reading
See ya
Jaa ne~


*Zulaikhah*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar