TEEN
DETECTIVES Special
“ Mimpi
Buruk II “
“Kalian takkan
bisa lari!!” Pria itu menyerang Valen. Valen menghindar dan melompat ke meja.
BUGHH
“Tindakan bagus,
John,” ujar Valen yang melihat John memukul kepala pria itu dengan tiang
bendera dari kayu.
“Bocah… Kau memang
benar-benar..” pria di belakang Rinka
bangkit lagi. Benar-benar orang yang kuat.
BUKK
BRUGH
Kali ini Valen
yang memukulnya dengan tiang bendera. Tak bisa menggunakan tangan atau kaki,
tiang pun jadi.
“Kau meniruku,
Val?” lirik John.
“Hahaha… Apa boleh
buat?”
Mereka pun
mengendap-endap menuju ruang uatama. Masih ada 4 orang yang belum mereka temui.
Entah itu beserta bos mereka atau tidak.
“Aku dan Rinka
akan masuk duluan. Kalian menyusul, oke?” ujar John. Mereka mengangguk. John
dan Rinka membuka pintu secara perlahan. Pintu terbuka sedikit sehingga memberi
ruang untuk mereka agar bisa melihat keadaan di dalam.
“Berapa orang yang
disandera?” tanya John lirih.
“Angka yang besar.
Aku melihat Paman Danna di sana,” jawab Rinka tak kalah lirih.
“Bagaimana dengan
perampoknya?” tanya John lagi.
“Aku hanya melihat
dua orang bersenjata,” jawab Rinka.
“Mungkin yang lain
menyelinap di antara para sandera atau bahkan mengawasi kita,” tutur John.
“Mungkin. Jadi
bagaimana? Apa kita harus masuk dan jadi sanderanya juga?” tanya Rinka.
BRUAKK
“Papa!!!” seru
Naima.
“Naima, apa yang
kau….” Panggil Rinka.
“Val, ada apa?”
tanya John.
“Dia memaksa! Dia
bilang Papanya dalam bahaya,” jawab Valen.
“Wah wah wah…. Ada
tamu tak terduga rupanya,” sapa seorang pria berbadan kekar berbaju hitam
membawa sebuah pistol.
“Naima!!” panggil
Danna Gray, Papa Naima.
“Jadi, dia
putrimu? Hmm… Akan menarik ini,” pria berpakaian hitam yang terlihat sebagai
bos itu pun menghampiri Naima. Tapi, tak semulus perkiraannya. Valen dan John
berdiri di depan Naima.
“Mengesankan.
Kalian begitu berani melawan orang sepertiku,” kata pria itu.
“Akan kulayani…,”
sambung pria itu lagi. Pria itu mencoba menangkap Valen dan John. John segera
menyuruh Naima dan Rinka menjauh. Naima dan Rinka menuju para sandera.
“Kalian mau
kemana?!!” seru salah seorang anak buah pria kekar itu.
“Aaaaa!!” Naima
berteriak karena pria itu mendekat.
JDUAKK BRUKK
Ketika Naima
membuka matanya, pria yang menjadi anak buah pria kekar itu sudah terkapar tak
berdaya.
“Ri..Rin…Kau..?”
tanya Naima.
“Sudahlah, cepat,”
Rinka menarik lengan Naima. Rinka dan Naima pun melepaskan ikatan Papa Naima
dan juga sandera yang lain satu per satu. Sedangkan John dan Valen masih
berurusan dengan bos para perampok itu.
SIINNG
Seseorang di
belakang Naima mencoba memukulnya dengan balok kayu tapi ditendang oleh Rinka.
“Di..Dia… Perampok
juga?” tanya Naima syok.
“Khukhukhu...,”
BRUKK
Tapi sebelum
seorang perampok lagi yang menyamar menjadi sandera mencoba menyerang Naima
lagi, Rinka menendengan laki-laki itu lagi.
“Dengan begini
hanya tinggal bosnya….,” kata Rinka.
“Sebaiknya kalian
semua segera keluar dan mencari bantuan dan panggil polisi,” ujar Danna Gray.
“T..Tapi
Direktur?” tanya seorang pegawai.
“Cepat!!” akhirnya
kira-kira 10 orang pegawai keluar dari ruangan itu dan segera mencari bantuan.
“Kurang ajar
kalian!!!!” seru bos perampok itu menyingkirkan Valen dan John yang ada di
depannya. Ketika Rinka tak melihat, bos perampok itu memiting Naima.
“Hahahaha……, “
tawa laki-laki berbadan kekar itu menggema. Rinka menoleh. Ia sangat terkejut
karena Naima ada pada bos perampok itu.
“Naima!” seru
Danna Gray.
“Papa!”
“Sial..!!” Valen
mencoba menyerang laki-laki itu lagi.
“Awas kau!!” seru
Valen.
BUAGHH BRUAKK
Valen terlempar
karena tangan kekar bos perampok itu hingga membentur tembok.
“Valen!!” seru
Naima.
“Lepaskan aku!!”
erang Naima.
“Jadi dia ini
anakmu, Gray?” tanya lelaki berbadan kekar itu.
“Apa maumu?” tanya
Danna Gray geram.
“Serahkan semua
assetmu atau gadis kesayanganmu ini dalam bahaya,” ancam laki-laki itu.
“Tapi sebagai
gantinya, kau lepaskan putriku,” balas Danna Gray.
“Setuju,” Danna Gray pun menghubungi bawahannya untuk
mengambil surat-surat penting padanya.
“Aku sudah
memberitahu anak buahku untuk memberikannya padamu,” ujar Danna Gray.
“Sekarang lepaskan
putriku,”
“P..Papa…,”
panggil Naima lirih.
Lelaki berbadan
kekar itu melepaskan tangannya dari Naima dan membiarkannya menuju ke Danna
Gray.
“Khukhu..,” tapi
tak sepenuhnya yang dikatakan laki-laki itu benar. Begitu Naima dekat dengan
Papanya, laki-laki itu mengacungkan handgun
dan mengarahkannya pada Naima dengan senyuman menyeringai. Pertanda buruk.
Dengan cepat, Danna Gray mengambil posisi melindungi Naima dan memeluknya.
DORR DORR
Dua tembakan
dilepas. Naima tak bisa melihat apapun karena terhalan tubuh Danna Gray yang
melindunginya.
“Naima, kau tidak
apa?” tanya Danna Gray.
“Papa.. Aku taka
pa. Papa, apa baik-baik saja?” tanya Naima. Danna Gray mengangguk.
“J..Jadi, tembakan
barusan….,?” tanya Naima tergagap. Ketika Danna Gray menggeser badannya Naima
melihat sesuatu yang mengerikan.
“T…Tidak mungkin.
I..Itu….” Naima tergagap begitu melihat apa yang ada di depannya. Orang yang
sangat dikenalnya, ambruk di depannya.
“Cih, aku salah
sasaran,” Lelaki berbadan kekar itu berdecak kesal sambil mengisi ulang peluru
pistolnya.
“Rinkaaaa!!!!
Joooohn!!!!” seru Naima dengan meneteskan air mata. Ia segera berlari menuju
kedua temannya yang tersungkur di lantai.
“A..Apa.. Kalian
..?” tanya Naima menangis di hadapan mereka.
“Hm… Kau..
Baik-baik saja.. ya?”
“Diamlah John! Aku
akan membawa kalian ke rumah sakit!” seru Naima.
“Hm…” Rinka dan
John tersenyum.
“Kau terlambat.
Kedua peluruku menembus paru-paru mereka. Jadi, cepat atau lambat mereka akan
mati,” kata laki-laki berbadan kekar itu tanpa dosa layaknya tak terjadi
apapun. Ia seperti hanya menembak dua ekor burung yang terbang lalu terjatuh ke
tanah.
“Kalau begitu,
lebih baik sekalian…,” kata laki-laki kejam itu lagi.
DORR
Naima terbelalak.
Kali ini ia tak bisa membendung air matanya lagi. Danna Gray jatuh tersungkur
ke lantai.
“PAPAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
“A..Ada apa, Nona
Naima?” tanya seseorang memasuki kamar Naima.
“Bi..Bibi?” tanya
Naima yang terbangun dengan keringat dingin bercucuran.
“Anda kenapa,
Nona? Apa anda baik-baik saja?” tanya wanita itu lagi.
“Papa! Mana
Papa??!” tanya Naima sambil menggoyang pundak wanita di depannya.
“T..Tuan Gray ada
di ruangannya bersama Nyonya.,” jawab wanita itu bingung dengan apa yang
terjadi. Naima langsung melompat dan segera turun menuju ruang Papanya.
BRAKK
Naima membuka
pintu denga kasarnya hingga membuat kedua orang di dalamnya terkejut.
“Ada apa Naima?
Kenapa kau membanting pintu?” tanya Danna Gray.
“Papa?” tanya
Naima.
“Kenapa, Naima?
Ada apa denganmu?” tanya Sarah, ibu Naima.
“Papa, syukurlah
kau taka pa…,” Naima berlari memeluk Papanya. Danna Gray dan Sarah hanya saling
bertatapan dengan bingung.
“Ada apa, Naima?
Apa kau mimpi buruk?” tanya Sarah.
“K..Kurasa iya,”
jawab Naima.
“Ahh, bukankah
kamu berjanji akan pergi bersama Rinka, Valen dan John?” kata Sarah
mengingatkan.
“Ah.. Itu? Benar!!
Iya, janji dengan mereka!!” Naima pun langsung berlari menuju kamarnya lagi dan
hampir menabrak pembantu rumah tangga yang sedang membawa minuman.
“Hati-hati,
Nona..!” seru wanita itu. Naima langsung berlari menaikki tangga dan segera
mandi dan ganti baju. Tak lama kemudian ia berlari keluar dan menuju taman,
tempat yang ditetapkan mereka.
“Semoga mimpiku
tak jadi kenyataan..!” seru Naima dalam hati. Ia berlari menuju taman.
Dilihatnya ketiga temannya sedang berdiri di bawah pohon yang rindang.
“Haaaaiii!!!” seru
Naima sambil terus berlari.
“Kenapa dengannya?
Kelihatannya tergesa-gesa sekali?” tanya
Valen.
“Kutebak dia baru
saja mendapat mimpi buruk,” ujar John.
Naima berlari
dengan cepat dan langsung memeluk Rinka.
GREB
“A..Apa-apaan ini,
Naima? Aku tak bisa bernafas!” seru Rinka.
“Huaaaaa… Ternyata
hanya mimpi!!!” seru Naima. Valen melirik John dengan tatapan seakan mengatakan
‘kau-benar-soal-mimpi-buruk-itu-John’ dan John menatap Valen seakan mengatakan
‘sudah-ku-bilang-kan?’.
“Kau mimpi buruk
tentang kami?” tanya Valen. Mereka pun berjalan menuju tempat rekreasi seperti
rencana mereka. Naima pun menceritakannya sambil berjalan.
.
“Hahaha… Aku jadi
ingin tahu bagaimana ekspresimu kalau seperti itu,” kata Rinka.
“Rinka! Kau tahu,
aku hamper jantungan tahu!!” seru Naima.
“Iya, bagaimana
Naima kalau itu benar-benar terjadi?” tanya John dengan nada mengejek.
“Kalian
mengejekku?” tanya Naima cemberut.
“Aku rasa kau
terlalu banyak menonton film horror jadi kau bermimpi sampai seperti itu.”
sambung Rinka.
“Ah, apa kau
mengompol ketika bangun tadi?” ejek Valen.
“Apa yang kau
katakaaannn!!!!!!!” Valen berlari dan dikejar Naima yang siap menjatuhkan
sebuah jitakan mantab. Sedangkan John dan Rinka hanya tertawa.
“Untunglah itu
hanya mimpi, “ kata Rinka.
“Ya, untung saja,”
sambung John.
~THE END~
Deg-degan nggak?
Kurang serem ya? Hahaha…. Saya repot sendiri bikin ceritanya dan ternyata
akhirnya ‘hanya mimpi’, hahaha #dihajar#. Sekali-sekali bikin pembaca jantungan
kan ndak papa, iya kan? #dihajar lagi# . Ya sudahlah, ini hanya cerita belaka
dan tidak ada sangkut pautnya dengan apapun. Ini asli produk kepala eh
maksudnya asli imajinasi saya yang kadang terlalu aneh sampai menghasilkan
cerita aneh pula. Ya begini deh jadinya.
Thanks for reading
See ya
Jaa ne~
*Zulaikhah*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar