UPDATE UPDATE UPDATE !!! Akhirnya selesai~ Fuuhh......... Yak, ENJOY IT, GUYS ^^
TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 6 : Pembalasan dendam yang gagal (PART 1)
“Hmf….. Dimana Naima?”
“Tak usah terburu-buru. Sebaiknya nikmati
dulu pemandangan langit sore dengan beristirahat sejenak.” Orang itu pun berlari
menuju Rinka dengan cepat dan bermaksud membiusnya tapi Rinka melawan. Rinka
menepis tangannya. Orang itu berbalik memutar tangan Rinka. Rinka menendang
orang itu hingga ia mundur beberapa langkah. Orang itu berlari mendekat lagi
dan membungkam mulut dan hidung Rinka dengan sapu tangan.
GREB
“Ukhh…”
“Ahh, ternyata ‘malaikat’ kecil ini masih
melawan. Tak kusangka ia membuat perutku sakit. Hmm… Tapi biarlah. Sebaiknya
dua bocah laki-laki itu terkejut karena tiba-tiba satu orang menghilang lagi.”
Rinka pun dibawa menuju sebuah rumah kosong.
“Tidur yang nyenyak ‘tuan putri’ dan
‘malaikat’ kecil…”
CKLEK
SREKKK
“Uhh…… Benar-benar orang yang merepotkan.”
Kata Rinka.
“Naima?” kata Rinka lagi menoleh ke
sebelahnya dan Naima tertidur. Rinka melepas ikatan di tangannya dan mencoba
membangunkan Naima.
“Naima?” panggil Rinka.
“Uhh… Mmmhh…. Ri..Rinka?” Tanya Naima.
Rinka hanya tersenyum.
“Rinkaaaaaaa!!!!!!” seru Naima mencoba
memeluk Rinka tapi saying tanggannya terikat.
“Hahahaha….. Iya iya. Sebentar.” Rinka
membuka ikatan Naima.
“Tunggu, Kenapa kau bisa ada di sini?”
Tanya Naima bingung.
“Mana John, dan Valen?” Tanyanya lagi.
“Aku ke sini karena ada yang menyuruhku.
Aku turuti saja siapa tahu aku bisa menyelamatkanmu.” Jawab Rinka.
“Dan kau juga terjebak karena dibius
olehnya?” tebak Naima.
“Dibius? Siapa bilang. Memang tadi dia
mencoba membiusku. Tapi aku menahan nafas dan pura-pura pingsan lalu ia
membawaku ke sini.” Jelas Rinka.
“Kau memang pandai menipu.” Ujar Naima.
“Jadi, bagaimana cara kita keluar?” Tanya
Rinka.
“Entahlah, tapi setidaknya kita tahu kalau
May adalah pelakunya. Tapi ada seorang lagi yang aku belum tahu.” Jawab Naima.
“Di sana ada pintu.” Rinka menunjuk sebuah
pintu yang dipalang oleh kayu.
“Ayolah, itu tak bisa dibuka.” Kata Naima.
“Pintu itu terbuat dari triplek, tending
saja sampai berlubang.” Kata Rinka.
“Ha?”
Penginapan
“Rinkaa, ayo keluar??” panggil Dion sambil
membuka pintu.
“Lho? Kemana dia?” Dion pun kembali menutup
pintu dan bermaksdu bertanya pada Valen dan John.
“Hei… Kalian tahu dimana Rinka?” Tanya
Dion.
“Ha? Dari tadi dia ada di kamar.” Jawab
Valen.
“Tak ada. Aku barusan ke sana.” Kata Dion.
“Mungkin ke toilet atau jalan-jalan.” Sela
Rio.
“Tapi, kami sudah berencana jalan-jalan
sore ini tapi kenapa dia pergi?” kata Dion lagi.
“Sudahlah… Nanti juga kembali.” Ujar Rio.
Hingga pukul 19.00 Rinka tak kunjung
kembali dan membuat Dion makin khawatir.
“Aduh, kemana Rinka? Tak biasanya sampai
jam segini…” kata Dion.
“Apa Rinka sudah kembali?” Tanya Valen.
“Belum…” jawab Dion.
“Jangan-jangan dia diculik..” sela Rio.
“Hah.. Ngawur aja kamu! Tapi tak biasanya
Rinka keluar sampai jam segini.” Kata Valen.
“Kita beritahu John.” Mereka bertiga pun
menuju kamar John.
Kamar
John
DRRT DRRT
“Hn?”
“Halo?”
“Kau
kalah lagi. ‘Malaikat’ sudah ada di tanganku.” John terbelalak ketika mendengar itu.
“Apa katamu? B..Bagaimana bisa?”
“Yang
jelas, kalian punya waktu 2 jam karena jika kalian terlalu lama, aku khawatir
racun itu akan menyebar di ruangan tempat mereka disekap. Sampai jumpa dan
semoga berhasil.”
“Sial!!” John menggebrak mejanya.
“Kalau begitu…” John pun membuka pintu
dengan tergesa-gesa bersamaan dengan Valen membuka pintu dan menabraknya.
BRUKK
“Uhh…” Valen dan John jatuh.
“Ahh, John!!” seru Valen.
“Rinka….” Sambung Valen.
“Dia diculik!” sela John.
“APAAA?!!!!”
“Kita harus segera ke Inspektur!!” seru
John.
“Tidak, tunggu. Kita ke tempat laki-laki
yang bersama penjaga hutan itu.” kata Valen.
“Maksudmu?” Tanya Dion.
“Aku curiga padanya.” Kata Valen. Mereka
pun menuju ke tempat laki-laki pendek itu menginap.
.
“Bagaimana
dengan ‘malaikat’ mu itu?”
“Dia
sudah beres.”
“Jadi,
aku akan dapat setengah keuntungan dari bocah Danna kaya itu, ya?”
“Tentu
saja. Tapi aku akan memberimu sesuatu dulu.”
“Apa
itu.”
“Ini…”
BRUAKKK
“K..Kau…
Apa…..”
“Hmm……
Terima kasih atas bantuanmu. Dan tidurlah yang nyenyak.”
CKLEK
“Kau……”
BRAKK!!
Valen menendang pintu itu dengan keras.
“Haruskah kau menendangnya?” Tanya Dion.
“Sudahlah..” Mereka pun masuk. Betapa
terkejutnya mereka ketika melihat laki-laki itu tergeltak degan darah di
kepalanya.
“Sudah kuduga dia..!!” Valen dan John pun
masuk. John menyentuh leher laki-laki itu.
“Dia masih hidup. Rio, Dion kau beritahu
Inspektur!” kata John.
“Jadi, apa dia mencoba bunuh diri?” Tanya
Valen dengan nada marah.
“Entahlah.” Jawab John. Ia memperhatikan
sekeliling. Ia menemukan secarik kertas di sebelah laki-laki itu. Ia pun
memungutnya.
Yes
, A Month
Begitulah yang tertulis di kertas itu.
“Ha? Apa itu, John?” Tanya Valen.
“Aku tidak mengerti, tapi kelihatannya
petunjuk.” Kata John. Ia membalik kertas itu. Di situ tergambar 2 lambang
‘lebih dari’ dalam rumus matematika. Tak lama kemudian Inspektur datang membawa
orang-orang medis.
“Ada apa ini?” Tanya Inspektur.
“Kelihatannya dia mencoba bunuh diri.” Kata
Valen. Opsir Ron pun masuk dan mengecek. Di sana ada sebuah patung perunggu
yang kelihatannya digunakan untuk memukul.
“Tidak, kelihatannya ini percobaan
pembunuhan.” Jawab Opsir Ron.
“Apa?”
“Tak ada sidik jari korban di patung ini.”
“Apa dia diserang pelaku penculikan ini?”
Tanya Inspektur Ryu.
“E..Inspektur, apa anda tahu beberapa
tempat kosong di daerah ini?” Tanya John.
“Hmm…. Ada tiga tempat. Di belakang
penginapan korban ini, lalu arah timur dari sini kira-kira 25 ada sebuah gudang.
Dan ada lagi di dekat halte tapi di sebelah baratnya kira-kira 15 meter dari
sana.” Jelas Inspektur Ryu.
“Kenapa?” Tanya Inspektur.
“Rinka juga diculik. Aku mendapat telepon
lagi dan kami harus segera mencarinya.” Jawab John.
“Baiklah aku akan menyertakan 2 orang
dengan kalian.” Kata Inspektur. Mereka pun memulai pencarian.
.
Penginapan
“Pak Hito!!” seru Dion.
“Ada apa kalian berlarian.” Kata Pak Hito.
“Seorang murid diculik lagi.” Ujar Rio. Hp
pak Hito berdering. Inspektur menelpon.
“Ahh… Begitukah?” Tanya Pak Hito di telpon.
“Baiklah terima kasih.” Kata Pak Hito.
“Ya, memang ada yang diculik. Dan John
bersama Valen sedang mencarinya.” Kata Pak Hito.
“Jadi, kedua gadis itu bagaimana?” Tanya
May.
“Kita tunggu informasinya.”
“Begitu ya? Kalau begitu saya akan menyuruh
anak-anak agar tidak kemanapun.” May pun beranjak.
~ To Be Continue~
Lanjutan
ada di atas posting ini ^^
*ZULAIKHAH*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar