Spin

Selasa, 10 April 2012

Story > Continue

UPDATE UPDATE UPDATE !!!  Akhirnya selesai~ Fuuhh......... Yak, ENJOY IT, GUYS ^^


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 6 : Pembalasan dendam yang gagal  (PART 1)

“Hmf….. Dimana Naima?”
“Tak usah terburu-buru. Sebaiknya nikmati dulu pemandangan langit sore dengan beristirahat sejenak.” Orang itu pun berlari menuju Rinka dengan cepat dan bermaksud membiusnya tapi Rinka melawan. Rinka menepis tangannya. Orang itu berbalik memutar tangan Rinka. Rinka menendang orang itu hingga ia mundur beberapa langkah. Orang itu berlari mendekat lagi dan membungkam mulut dan hidung Rinka dengan sapu tangan.

GREB
“Ukhh…”
“Ahh, ternyata ‘malaikat’ kecil ini masih melawan. Tak kusangka ia membuat perutku sakit. Hmm… Tapi biarlah. Sebaiknya dua bocah laki-laki itu terkejut karena tiba-tiba satu orang menghilang lagi.” Rinka pun dibawa menuju sebuah rumah kosong.

“Tidur yang nyenyak ‘tuan putri’ dan ‘malaikat’ kecil…”
CKLEK

SREKKK
“Uhh…… Benar-benar orang yang merepotkan.” Kata Rinka.
“Naima?” kata Rinka lagi menoleh ke sebelahnya dan Naima tertidur. Rinka melepas ikatan di tangannya dan mencoba membangunkan Naima.
“Naima?” panggil Rinka.
“Uhh… Mmmhh…. Ri..Rinka?” Tanya Naima. Rinka hanya tersenyum.
“Rinkaaaaaaa!!!!!!” seru Naima mencoba memeluk Rinka tapi saying tanggannya terikat.
“Hahahaha….. Iya iya. Sebentar.” Rinka membuka ikatan Naima.
“Tunggu, Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Naima bingung.
“Mana John, dan Valen?” Tanyanya lagi.
“Aku ke sini karena ada yang menyuruhku. Aku turuti saja siapa tahu aku bisa menyelamatkanmu.” Jawab Rinka.
“Dan kau juga terjebak karena dibius olehnya?” tebak Naima.
“Dibius? Siapa bilang. Memang tadi dia mencoba membiusku. Tapi aku menahan nafas dan pura-pura pingsan lalu ia membawaku ke sini.” Jelas Rinka.
“Kau memang pandai menipu.” Ujar Naima.
“Jadi, bagaimana cara kita keluar?” Tanya Rinka.
“Entahlah, tapi setidaknya kita tahu kalau May adalah pelakunya. Tapi ada seorang lagi yang aku belum tahu.” Jawab Naima.
“Di sana ada pintu.” Rinka menunjuk sebuah pintu yang dipalang oleh kayu.
“Ayolah, itu tak bisa dibuka.” Kata Naima.
“Pintu itu terbuat dari triplek, tending saja sampai berlubang.” Kata Rinka.
“Ha?”  

Penginapan
“Rinkaa, ayo keluar??” panggil Dion sambil membuka pintu.
“Lho? Kemana dia?” Dion pun kembali menutup pintu dan bermaksdu bertanya pada Valen dan John.
“Hei… Kalian tahu dimana Rinka?” Tanya Dion.
“Ha? Dari tadi dia ada di kamar.” Jawab Valen.
“Tak ada. Aku barusan ke sana.” Kata Dion.
“Mungkin ke toilet atau jalan-jalan.” Sela Rio.
“Tapi, kami sudah berencana jalan-jalan sore ini tapi kenapa dia pergi?” kata Dion lagi.
“Sudahlah… Nanti juga kembali.” Ujar Rio.
Hingga pukul 19.00 Rinka tak kunjung kembali dan membuat Dion makin khawatir.
“Aduh, kemana Rinka? Tak biasanya sampai jam segini…” kata Dion.
“Apa Rinka sudah kembali?” Tanya Valen.
“Belum…” jawab Dion.
“Jangan-jangan dia diculik..” sela Rio.
“Hah.. Ngawur aja kamu! Tapi tak biasanya Rinka keluar sampai jam segini.” Kata Valen.
“Kita beritahu John.” Mereka bertiga pun menuju kamar John.

Kamar John
DRRT DRRT
“Hn?”
“Halo?”
“Kau kalah lagi. ‘Malaikat’ sudah ada di tanganku.” John terbelalak ketika mendengar itu.
“Apa katamu? B..Bagaimana bisa?”
“Yang jelas, kalian punya waktu 2 jam karena jika kalian terlalu lama, aku khawatir racun itu akan menyebar di ruangan tempat mereka disekap. Sampai jumpa dan semoga berhasil.”
Sial!!” John menggebrak mejanya.
“Kalau begitu…” John pun membuka pintu dengan tergesa-gesa bersamaan dengan Valen membuka pintu dan menabraknya.
BRUKK
“Uhh…” Valen dan John jatuh.
“Ahh, John!!” seru Valen.
“Rinka….” Sambung Valen.
“Dia diculik!” sela John.
“APAAA?!!!!”
“Kita harus segera ke Inspektur!!” seru John.
“Tidak, tunggu. Kita ke tempat laki-laki yang bersama penjaga hutan itu.” kata Valen.
“Maksudmu?” Tanya Dion.
“Aku curiga padanya.” Kata Valen. Mereka pun menuju ke tempat laki-laki pendek itu menginap.
.
“Bagaimana dengan ‘malaikat’ mu itu?”
“Dia sudah beres.”
“Jadi, aku akan dapat setengah keuntungan dari bocah Danna kaya itu, ya?”
“Tentu saja. Tapi aku akan memberimu sesuatu dulu.”
“Apa itu.”
“Ini…”
BRUAKKK
“K..Kau… Apa…..”
“Hmm…… Terima kasih atas bantuanmu. Dan tidurlah yang nyenyak.”
CKLEK
“Kau……”

BRAKK!!
Valen menendang pintu itu dengan keras.
“Haruskah kau menendangnya?” Tanya Dion.
“Sudahlah..” Mereka pun masuk. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat laki-laki itu tergeltak degan darah di kepalanya.
“Sudah kuduga dia..!!” Valen dan John pun masuk. John menyentuh leher laki-laki itu.
“Dia masih hidup. Rio, Dion kau beritahu Inspektur!” kata John.
“Jadi, apa dia mencoba bunuh diri?” Tanya Valen dengan nada marah.
“Entahlah.” Jawab John. Ia memperhatikan sekeliling. Ia menemukan secarik kertas di sebelah laki-laki itu. Ia pun memungutnya.
Yes , A Month
Begitulah yang tertulis di kertas itu.
“Ha? Apa itu, John?” Tanya Valen.
“Aku tidak mengerti, tapi kelihatannya petunjuk.” Kata John. Ia membalik kertas itu. Di situ tergambar 2 lambang ‘lebih dari’ dalam rumus matematika. Tak lama kemudian Inspektur datang membawa orang-orang medis.
“Ada apa ini?” Tanya Inspektur.
“Kelihatannya dia mencoba bunuh diri.” Kata Valen. Opsir Ron pun masuk dan mengecek. Di sana ada sebuah patung perunggu yang kelihatannya digunakan untuk memukul.
“Tidak, kelihatannya ini percobaan pembunuhan.” Jawab Opsir Ron.
“Apa?”
“Tak ada sidik jari korban di patung ini.”
“Apa dia diserang pelaku penculikan ini?” Tanya Inspektur Ryu.
“E..Inspektur, apa anda tahu beberapa tempat kosong di daerah ini?” Tanya John.
“Hmm…. Ada tiga tempat. Di belakang penginapan korban ini, lalu arah timur dari sini kira-kira 25 ada sebuah gudang. Dan ada lagi di dekat halte tapi di sebelah baratnya kira-kira 15 meter dari sana.” Jelas Inspektur Ryu.
“Kenapa?” Tanya Inspektur.
“Rinka juga diculik. Aku mendapat telepon lagi dan kami harus segera mencarinya.” Jawab John.
“Baiklah aku akan menyertakan 2 orang dengan kalian.” Kata Inspektur. Mereka pun memulai pencarian.
.
Penginapan
“Pak Hito!!” seru Dion.
“Ada apa kalian berlarian.” Kata Pak Hito.
“Seorang murid diculik lagi.” Ujar Rio. Hp pak Hito berdering. Inspektur menelpon.
“Ahh… Begitukah?” Tanya Pak Hito di telpon.
“Baiklah terima kasih.” Kata Pak Hito.
“Ya, memang ada yang diculik. Dan John bersama Valen sedang mencarinya.” Kata Pak Hito.
“Jadi, kedua gadis itu bagaimana?” Tanya May.
“Kita tunggu informasinya.”
“Begitu ya? Kalau begitu saya akan menyuruh anak-anak agar tidak kemanapun.” May pun beranjak.




~ To Be Continue~

Lanjutan ada di atas posting ini ^^



*ZULAIKHAH*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar