Spin

Senin, 27 Agustus 2012

PROFILKU



PROFIL

                Hai, selamat datang di blog saya. Nama saya Zulaikhah Dwi Rahmawati, siswa kelas X-6 SMA NEGERI 8 MALANG. Saya dilahirkan di ‘bumi arema’ Kota Malang pada tanggal 13 Januari tahun 1998. Sekarang umur saya masih 14 tahun. Saya tinggal di Jalan Kertorahayu 28 Malang bersama kedua orang tua, kakak dan adik saya. Ayah saya bernama Imam Ghozali, Ibu saya bernama Sunarti, Kakak saya bernama Fajar Shodiq dan adik saya bernama Dina Nazila Rahmah. Hal yang saya sukai adalah berolahraga, mendengarkan musik dan menggambar terutama kartun. Cita-cita saya adalah ingin menjadi dosen serta orang sukses yang bisa membanggakan orang tua dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Sekian profil singkat saya. Terima kasih telah membaca.

CERPEN #2


KADO TERINDAH

Hujan turun dengan derasnya membasahi jalanan pagi di sebuah Kota yang cukup padat. Seorang gadis manis bernama Leni, bergidik kedinginan. Hawa dingin pagi yang bercampur dengan hujan menusuk kulitnya. Ia pun segera meraih jaket putih di balik pintu kamarnya. Leni adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia tinggal hanya bersama seorang pelayan di rumah gedongnya itu karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri.
Seperti bisaa, setelah sarapan ia berbincang sedikit dengan pelayan rumahnya. “Bi, apa ayah dan ibu mengirim surat atau telpon?” Tanya Leni pada seorang wanita yang ia panggil Bibi. “Sepertinya tidak.” Jawab wanita itu dengan lembut. Leni hanya mengangguk mengerti. Lalu, Leni memandangi kalender di dekat almari. Menunjukkan tanggal 12 Oktober. Ia menyunggingkan sebuah senyuman. Leni pun merebahkan badannya di sofa di depan televisi. Ia memandang ke arah jendela. Hujan masih belum mereda. Uap air hujan membuat kaca jendela tertutupi. Leni berjalan menuju ke jendela. Ia mengelap sebagian kaca jendela. ‘Hmmph….. Apa tidak ada yang ingat ya?’ tanyanya dalam hati. Leni kembali duduk di sofa dan menonton televisi untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Karena hujan, ia tidak bisa kemana mana di Hari Minggu ini.
Setengah jam kemudian, hujan reda. Leni masih duduk menonton televisi. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Leni beranjak dari sofa dan membuka pintu. “Bi, aku jalan-jalan sebentar ya..!” pamitnya lalu menghilang di balik pintu. Ia berjalan sambil menikmati suasana pagi. Ia berjalan menuju taman. Mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang menarik. Ketika ia berjalan di pinggir taman, ia melihat seorang anak kecil bersama kedua orang tuanya.  “Ibu, Ayah, nanti belikan aku sepeda ketika aku ulang tahun yaaa…..!!” seru anak kecil itu dengan riang. Kedua orang tuanya mengangguk dan tersenyum. Leni pun ikut tersenyum. Ketika ia berjalan, ia bertemu Rio temannya. “Hai, kenapa kau sendirian?” sapa Rio. “Hmm…. Tidak apa-apa. Kau mau kemana?” Tanya Leni. “Ooh… Aku mau membeli ice cream di sana. Mau ikut?” ajaknya. “Apa? Padahal dingin-dingin begini kau mau beli ice cream?” Leni mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa? Mau ikut tidak? Kalau tidak ya sudah…” tawarya sekali lagi. Leni mengangguk. Leni dan Rio memang sudah akrab. Karena mereka adalah teman masa kecil dan selalu satu sekolah.
Mereka pun menuju ke kedai Ice cream yang tak jauh dari taman. Rio menuju ke penjual ice cream itu dan memesan 2 ice cream double scoop. Tak lama setelah itu, Rio menyodorkan ice cream kepada Leni. “Ini..” kata Rio. “Mm… Untukku??” Tanya Leni menunjuk dirinya sendiri. “Bukan. Untuk bangku di sebelahmu itu. Tentu saja untukmu. Siapa lagi?” kata Rio menyipitkan matanya. “Terima kasih..” ujar Leni tersenyum. Mereka pun memakan ice cream sambil berjalan pulang. “Eh, Rio.. hari ini tanggal berapa sih?” Tanya Leni. “Hm..? 12 Oktober, hari Minggu. Memangnya kenapa?” Tanya Rion lalu kembali menjilati ice creamnya. “Apa kau tidak lupa sesuatu?” pancing Leni. “Lupa? Lupa apa?” Rio berbalik Tanya. “Entah. Sesuatu mungkin.” Leni masih belum menyerah. “Apa sih? Memang kenapa?” Rio masih menjilat ice creamnya tanpa menoleh kea rah lawan bicaranya. “Hmm… tidak apa-apa” kata Leni menunduk. ‘Dasar. Ternyata dia juga lupa. Huhh.!! Sahabat macam apa sih..??’ gerutu  Leni dalam hati. ‘Hahaha… maaf Leni. Ini kejutan. Tunggu saja nanti malam.’ Batin Rio tersenyum tipis. “Kenapa kau tersenyum? Ada yang lucu?” Tanya Leni. Rio menggeleng cepat. Leni mengernyitkan dahinya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Leni dan ice cream mereka pun telah habis. “Aku duluan ya…” pamit Leni melambai. “Ya.. Sampai jumpa.” Balas Rio. Leni pun masuk ke rumahnya. Ia Nampak kesal, benar-benar kesal. Bagaimana tidak? Karena tak seorang pun yang ingat akan ulang tahunnya yang ke 14. Benar-benar. Ia pun membuka pintu rumahnya.
“Aku pulang..!!” salamnya. Ia disambut pelayan wanita yang setia di rumahnya itu dengan senyuman. Leni hanya melenggang pergi menuju kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras. BLAM!! Leni menutup pintu kamarnya. Untung saja pintu itu kuat. Kalau tidak, entah apa jadinya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memasang earphone dan mendengarkan lagu yang bisa membuatnya lupa akan hal yang menyebalkan hari ini. Ia pun tertidur.
Sore harinya, Leni bangun dan segera mandi. Tak butuh waktu lama untuknya, ia sudah usai mandi. Ia keluar menuju beranda. Ia memandangi langit sore dan sang mentari yang bersiap untuk menghilang di balik gunung di ufuk barat. Leni memainkan hp-nya. Tak ada pesan ataupun telpon dari orang tuanya. Ia menghela nafas. Ia berpikir semua melupakan ulang tahunnya. Ia masuk ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dan memeluk boneka kesayangannya. Seakan ia berbicara dengan boneka kesayangannya. “Hmmph….. Bear. Kenapa tak ada yang ingat ulang tahunku ya??” tanyanya pada boneka beruangnya. Tentu saja takkan ada jawaban apapun karena boneka tak bernyawa. Ia mengelus bulu-bulu halus boneka itu. ia merebahkan tubuhnya lagi. Entah sudah yang keberapa kali.
Pukul 22.00, seseorang mengetuk pintu kamar Leni. Leni terbangun. Ia berdiri dan mencoba menyalakan lampu. Tapi lampunya tidak menyala. “Eeh?? Mati lampu? Siapa sih malam-malam begini?” tanyanya agak kesal. Terpaksa ia membuka pintu dengan sempoyongan dan hamper saja menabrak laci karena gelap. CKLEK!! Ia membuka pintu kamarnya. “HAPPY BIRTHDAYY..!!!!” seru kira-kira empat orang yang dilihat Leni. “KYAAAA!!!” teriaknya karena kaget. Seseorang menghidupkan saklarnya. Lampu pun menyala. Semua terlihat jelas. Ada ayah, ibu,  Rio dan pelayan rumahnya. Ibu Leni membawa sebuah kue tart coklat yang sudah ditancapi lilin berangka empat belas. “K..Kalian???” kata leni terbata-bata. Ia senang. Sangat senang. Pikirnya tadi tak ada yang ingat ulang tahunnya, ternyata tidak.
“Selamat ulang tahun Leni..!!” seru kedua orang tuanya. “Iya. Selamat ya…” sambung Rio. “Eeh… Ayah dan Ibu kenapa tidak menelponku??” Tanya Leni. “Kejutan..!!” seru Ibu Leni bersemangat. “Kau juga Rio?” Tanya Leni lagi. “Ini semua idenya Rio..” kata ayah Leni. “hahahaha. Ternyata kau juga ingat. Jadi tadi pagi itu kau pura-pura lupa??” kata Leni seakan ingin menjitak kepala Rio. “Iya.. Itu benar sekali. Seratus untukmu.” Rio menjulurkan lidahnya. “Ayo, tiup lilinya.” Ujar ibu Leni. Leni pun meniup lilin itu dan memohon sebuah permintaan. “Ooh ya! Ini kami membelikanmu alat-alat lukis baru. Punyamu kan sudah habis.” Kata Ayahnya. “Kalau dariku sudah tadi pagi kan ice creamnya. Anggap saja itu kado dariku.” Kata Rio nyengir. “Kamu ini..!” seru Leni. Leni benar-benar senang sekali. Ternyata yang ia pikirkan salah. Ternyata orang-orang di sekitarnya mengingat ulang tahunnya dan memeberikan kado istimewa untuknya. Ia benar-benar senang.

Kamis, 23 Agustus 2012

TIPS



Daya baterai Blackberry memang tidak bisa diandalkan. Namun itulah resiko yang harus dihadapi oleh sebagian besar ponsel pintar, termasuk Blackberry.
Untuk mengantisipasinya, terdapat beberapa tip yang bisa Anda gunakan agar Blackberry Anda lebih tahan lama:

1. Matikan beberapa fitur yang tidak digunakan seperti wifi dan bluetooth.
2. Tingkat keterangan layar bisa diatur ke tingkat yang paling rendah.
3. Pengaturan backlight time out secepat mungkin.
4. Ketika handheld tidak digunakan, ada baiknya aktifkan standby mode.
5. Pilih salah satu network saja sebagai 'jalan' untuk Blackberry beroperasi (bisa 3G atau 2G saja). Jika berada di wilayah yang tidak terdapat sinyal jaringan, jangan ambil resiko. Matikan saja Blackberry Anda karena secara otomatis perangkat Anda akan melakukan pencarian sinyal. Hal inilah yang semakin menyedot banyak tenaga baterai.

6. Penggunaan nada dering memang sangat menarik. Namun adakalanya nada dering digunakan bersamaan dengan fitur getar. Penggunaan keduanya disinyalir membutuhkan daya baterai yang cukup besar. Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda menggunakan satu fitur saja, nada dering atau getar saja.
7. Jika Anda sudah menggunakan ringtone atau nada getar saja, penggunaan LED indicator sepertinya tidak terlalu berpengaruh di Blackberry. Oleh karena itu, jika LED indicator diposisikan dalam keadaan off maka proses ini dapat membuat baterai lebih irit.
8. Ada baiknya jika Anda mengatur email dan sms yang masuk ke dalam perangkat. Diprediksi, kuantitas akses informasi yang masuk ke Blackberry akan mempengaruhi daya tahan baterai. Semakin banyak email/sms yang masuk maka semakin cepat baterai Blackberry tersebut mengalami low.
9. Setel perangkat BlackBerry Anda untuk hidup dan mati secara otomatis.
10. Jagalah kebersihan sambungan baterai. Setiap beberapa bulan, gunakan pembersih telinga atau kain kering untuk membersihkan kontak logam pada baterai dan perangkat.
11. Hapus pesan asli bila Anda mengirim balasan.
12. Kirim pesan ke beberapa kontak sekaligus menggunakan Tambah Ke, Tambah Cc, atau Tambah Bcc.
13. Matikan lampu kilat (flash) di kamera.
14. Tutuplah aplikasi pihak ketiga dari menu aplikasi bila Anda selesai menggunakannya.
15. Ubah opsi browser Anda untuk grafik animasi agar tidak sering diulang pada halaman web.

Intinya, semakin sering Anda mengoperasikan Blackberry kesayangan maka Anda juga harus mau menghadapi resiko baterai cepat terkuras. Tetapi resiko baterai cepat low juga dialami oleh hampir semua smartphone. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya jika Anda selalu menyediakan baterai cadangan yang sudah terisi penuh, untuk menghindari perangkat ini mati di tengah Anda mengerjakan pekerjaan kantor. (indosat/cax)

Source : http://www.kapanlagi.com

PUISI - PUISI


PAHLAWAN

Derap langkah tanpa gentar
Menggetarkan tanah peperangan
Berbekal tekat dan satu tujuan
Demi memerdekakan bangsa
Maju melawan penjajah
Bertaruh jiwa dan raga
Tak peduli nyawa melayang
Demi kebebasan bangsa
Kau berdiri di garis depan
Berbekal bambu berujung tajam
Melawan ratusan meriam
Menyerukan impian kebebasan


WAKTU

Jarum berputar tanpa henti
Detik, menit dan jam
Sekali berputar tak bisa dihambat
Tak ada yang bisa menghentikan
Waktu berlari mengejar
Manusia berhenti jadi sia-sia
Kesalahan lama tak dapat dihapus
Masa lalu tak dapat diulang
Waktu, bagai pedang bermata dua
Menghargainya berarti kesuksesan
Mengacuhkannya berarti kehancuran


SAHABAT

Sahabat,
Kawan dalam suka duka
Dalam tawa dalam tangis
Dalam terang dalam gelap
Sahabat,
Tertawa menangis bersama
Hadapi tantangan silih berganti
Kau tetap di sini

Tanpa sahabat bagaikan sebatang pohon
Pohon yang sendirian
Menghadapi angin dan hujan
Tanpa ada kawan

CERPEN #1

IMPIAN MASA LALU

Angin berhembus membawa hawa dingin di pagi hari. Embun yang terlihat segar kini berubah terlihat dingin karena hawa dinginnya pagi. Tak banyak terdengar suara kicauan burung. Mungkin para burung lebih memilih menghangatkan dirinya dan anaknya daripada berkicau di pagi yang dingin. Tapi, hawa dingin yang hamper seperti es ini tak bisa memudarkan niat belajar seorang remaja bernama Riko ini. Riko adalah pemuda yang sangat rajin belajar. Bahkan baginya seperti tiada hari tanpa belajar.
Riko berjalan menuju ke sekolahnya yang memang tak jauh dari rumahnya. Hari ini ada ulangan pada salah satu mata pelajarannya. Tentu saja ia sudah sangat siap dengan itu. Dalam sejarah sekolahnya, presentasi nilai jelek dan nilai bagusnya sangat jauh. Sudah bisa ditebak kalau nilai bagusnya lah yang banyak. Jadwalnya pun tak terelakkan dari les-les privat.
Bel masuk pun berbunyi nyaring menandakan waktunya masuk. Seorang guru pun masuk dan memulai pelajaran. Inilah yang banyak ditakuti oleh siswa, ulangan. Ulangan pun dimulai. Riko mengerjakannya dengan serius dan menelitinya secara baik-baik dan tak melewatkan kesalahan sedikitpun. Ulangan selesai dan langsung dikoreksi bersama. “Kalian lihat? Riko selalu mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana kalian bisa tidak? Contoh anak seperti dia ini!” kata guru itu. “Tak heran kalau Riko mendapat nilai sempurna. Hidupnya kan hanya belajar,” celetuk salah seorang murid.
“Apa iya hidupku hanya belajar saja?” pikir Riko.
Riko berjalan pulang dengan sedikit tak bersemangat. Bukan karena apa-apa, bahkan seharusnya ia senang karena mendapat nilai sempurna dalam ulangan. Tapi soal nilai bagus, itu sudah biasa untuk dirinya. Entah kenapa kata-kata temannya tadi terus mengiang di telinganya. Apa benar Riko seperti itu? Tapi ia tak bisa menyangkalnya karena itu memang benar. Hidupnya memang monoton seperti itu-itu saja. Belajar dan belajar. Bahkan orang tuanya rela menghabiskan banyak uang untuk mendaftarkannya les privat dimana-mana. Ini untuk pertama kalinya Riko mulai jenuh dengan kehidupannya yang seperti ini. Dulu Riko tak selalu menyita semua waktunya untuk belajar. Dulu ia senang sekali mempelajari hal lain. Ia mengikuti beberapa olahraga. Tapi, ia selalu dikeluarkan karena memang staminanya yang sangat kurang untuk olahraga. Akhirnya, ia menjadi putus asa dan menemukan bahwa belajar adalah keahliannya.
Riko menatap langit kemerahan di atasnya. “Aku rasa aku mulai bosan dengan hidupku,” katanya. Di saat itu, Riko mendengar suara anak-anak kecil.
“Hei! Kau memukul bola ke arah mana?!” seru anak kecil itu. Riko menoleh dan memperhatikan sekumpulan anak kecil yang bermain baseball itu. “Sepertinya menyenangkan kalau bisa berolahraga, ya?” ujar Riko tersenyum miris. Ia pun berjalan pulang.
            Bintang-bintang bertaburan dan kerlap-kerlipnya menghiasi langit bersama bulan. Riko duduk di depan meja belajarnya. Tentu saja ia sedang belajar. Riko membuka gorden jendela di samping meja belajarnya. Ia memandangi langit dari balik jendelanya. “Andai saja badanku sekuat orang biasanya, aku pasti akan berolahraga lagi seperti dulu,” kata Riko berandai-andai.
            Esoknya, di sekolah, Riko hanya duduk di bangkunya tak melakukan apapun sampai salah seorang temannya datang. “Riko!”. Riko pun menoleh dan mendapati Ferry di depannya. “Ada apa?” tanya Riko. “Mm.. Apa kau mau bergabung dalam klub atletik, maksudku lari. Kami kekurangan anggota,” kata Ferry. Rio terkejut. Bukankah Ferry tahu kalau staminanya payah? Tapi kenapa ia menawarinya? Apa ia hanya pilihan terakhir dan terpaksa? Riko pun segera mengusir pikiran itu dan berkata, “Aku akan ikut,” . “Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Baiklah, nanti pulang sekolah datanglah ke lapangan,” kata Ferry lalu pergi.
“Apa aku bisa?” tanya Riko dalam hati sambil memandang pemandangan di luar jendela. Seperti yang dikatakan Ferry, Riko berjalan menuju lapangan.
“Riko!” Ferry melambaikan tangannya. Riko pun mendekat. “Jadi, dia anggota baru klub kita?” tanya Dan. Ferry mengangguk. “Baiklah, kita mulai latihan besok. Sebulan lagi ada lomba lari jarak dekat, menengah dan jauh. Kita harus persiapkan semua,” ujar pelatih. Semua pun bubar. Begitu juga Riko. Lagi-lagi ia berpikir apa ia bisa atau tidak? Ia memang tak begitu yakin dengan kemampuannya sendiri, tapi ia mencoba sedikit meyakinkan dirinya sendiri.
            Latihan pun dimulai. Latihan pertama hanya lari mengelilingi lapangan lima kali. Ketika semua temannya di depan, Riko masih saja berlari terpaut jauh dari teman-temannya. Dan menengok ke belakang melihat Riko. “Mari kita lihat seberapa semangat dia,” kata Dan lirih. Riko tetap berlari meskipun tertinggal. Dalam hatinya kali ini ia ingin sekali bisa ikut lomba lari itu. Ia pun mengerahkan segenap tenaga terakhirnya untuk putaran terakhir ini.
“Hahh hahh hahh…,” begitu selesai lima putaran, Riko langsung terduduk lelah di bench. TAP! Dan melempar sebotol air minum. “Te..Terima kasih,” kata Riko. Dan tak terlalu memperhatikan. “Baiklah, latihan hari ini cukup. Besok kita latihan lagi,” ujar pelatih. “Dan, kau jangan pulang dulu,” kata pelatih lagi. Dan pun mengangguk. Ketika semua telah pulang, Dan berdiri di lapangan berdua dengan pelatih, “bagaimana menurutmu anak baru itu?” tanya pelatih. “sebagai ketua klub ini, kau harus mengatakan yang sebenarnya,” sambungnya.
“Yaa, dilihat dari postur tubuhnya dia memang terlihat tak pernah olahraga. Selain itu staminanya juga kurang. Tapi, kelihatannya semangatnya menarik. Jadi kita lihat saja kemajuannya nanti,” jawab Dan. “Hmm.. Kau benar,” kata pelatih setuju dengan pendapat Dan.
            “Aku pulang,” salam Riko sambil membuka pintu. “Darimana saja kamu?” tanya ibunya. “Latihan lari, Bu,” jawab Riko lemas. “Apa? Tugasmu itu c belajar! Tak ada yang lain. Tak ada selain belajar! Jangan sampai kau ikut olahraga-olahraga yang seperti itu, mengerti?!” seru ibunya. Riko hanya berjalan menuju kamarnya. Kelelahannya sudah tak tertahankan.
            Latihan kedua pun dimulai. Kali ini benar-benar seperti latihan neraka bagi Riko. Semua disuruh berlari mengelilingi lapangan sebesar itu selama 15 menit. Seperti kemarin, ia selalu saja tertinggal dan tertinggal. Beberapa kali ia jatuh tapi ia bangkit lagi. Ia tetap berlari. “Dia itu semangatnya tinggi ya?” kata Ferry. “Ya, mungkin saja orang yang kau bawa ini tidak terlalu buruk juga,” ujar Dan yang berlari di sebelah Ferry. Latihan pun usai pukul 4 sore. Dan Riko harus berbohong pada ibunya soal latihan ini atau ibunya akan marah besar. Hari Minggu, latihan libur. Tapi pagi-pagi sekali Riko jogging dan berlatih sendirian di lapangan. Ia melakukan berbagai latihan untuk menguatkan staminanya. Ia push-up, back-up, sit-up dan berlari mengelilingi lapangan beberapa kali. Tapi, staminanya masih belum kuat. Baru sebentar ia sudah sangat lelah dan terlentang di tengah lapangan. “Hahh… Hahh.. Hanya sampai di sini kah batasku?” tanya Riko. “Kenapa aku tak sekuat mereka? Kenapa?!” katanya lagi.
“Kau hanya kurang berlatih,” kata seseorang di belakang Riko. Riko segera berdiri dan berbalik, “Dan? Apa yang kau lakukan?” tanya Riko. “Aku hanya jalan-jalan saja dan tak sengaja lewat sini,” jawab Dan. “Ohh.. Begitu,”
“Berlatihlah yang giat. Tapi jangan terlalu memaksakan diri karena kau bisa terluka. Kalau kau memaksakan dirimu, bukannya menjadi makin kuat malah sakit dan tidak bisa ikut perlombaan,” nasihat Dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Riko yang mematung di sana.
            Sudah 3 minggu sejak Riko masuk klub atletik. Hari ini adalah pengumuman siapa saja yang akan ikut lomba lari. Riko benar-benar gugup. Ia sudah berusaha keras selama 3 minggu ini. Dan ia ingin usahanya membuahkan hasil. “Baiklah, aku akan umumkan 3 orang dari 6 anggota untuk ikut lomba lari minggu depan. Yang pertama, Dan, lalu Ferry,” kata pelatih. “Siapa lagi satunya?” tanya Riko dalam hati.
“Satunya lagi …. Toni. Nah, kalau ada dari tiga yang terpilih absen, aku akan menyeleksi 3 sisanya untuk pengganti. Cukup itu saja pengumuman hari ini,” pelatih pun pergi.
            Riko berdiri sendiri di lapangan padahal jam hamper menunjukkan pukul setengah 7 malam. “Kenapa aku tak terpilih?!! Aku sudah berusaha keras tapi masih saja tak terpilih?!! Aku memang tidak pernah cocok dalam olahraga apapun!” teriak Riko. Dan memandang Riko dari jauh. Ia pun berjalan menuju lapangan tanpa sepengetahuan Riko. Ferry pun datang, “ada apa Dan?” tanya Ferry. “Kelihatannya Riko terpukul,” lanjut Ferry. “Kurasa begitu. Tapi kita lihat, apa ia sanggup bangkit atau tidak,” kata Dan.
“APA YANG KAU KATAKAN?!! KAU BILANG KITA TIDAK MUNGKIN MENANG??!!” tiba-tiba saja Ferry berteriak dan membuat Dan terkejut. Begitu juga dengan Riko yang ada di lapangan. “I..Itu suara Ferry?” tanya Riko. Riko mendengarkan omongan Ferry.
“KENAPA KAU BISA MENYERAH BEGITU MUDAHNYA PADAHAL ADA ORANG YANG PANTANG MENYERAH PUN MASIH TETAP TIDAK TERPILIH?!!” lanjut Ferry.
“ Kuberitahu satu hal. Sampai akhir pun, meskipun kau sudah tahu kalau hasilnya akan kalah, jangan sampai ada pikiran menyerah di kepalamu. Kau harus tetap berusaha! Jujur saja sampai sekarang pun aku masih percaya pada dia yang tidak menyerah,” kini suara Ferry mulai memelan.
“Fe..Ferry? Dia benar! Aku takkan semudah itu menyerah sekalipun aku tidak terpilih. Aku takkan menyerah,” kata Riko lirih. Kini semangatnya membara lagi. Ia telah bangkit.
“Hei, Fer. Kenapa kau bicara pada tembok, ha?” tanya Dan yang memerhatikan Ferry yang sedari tadi berteriak-teriak pada tembok. “Ini caraku untuk memberinya semangat, tahu! Sudah kau diam saja,” kata Ferry. “Kau mirip orang gila kau tahu? Lain kali kalau sampai ada orang yang melihat, aku akan langsung pergi meninggalkanmu,” Dan pun berjalan meninggalkan Ferry.
“Haa.. Teman macam apa kau ini, Dan?” kata Ferry. “Mana ada orang yang mau berteman dengan orang gila,” jawab Dan dengan santainya. “Jadi kau anggap aku orang gila, ha?!!” seru Ferry tidak terima. “Kau yang mengatakannya, bukan aku,” balas Dan.
            Empat hari kemudian, semua anggota klub berlatih di lapangan. Semua berlatih keras tanpa kecuali. “Tunggu, mana Toni?” tanya pelatih. “Kami tidak melihatnya hari ini,” jawab Ferry. “Apa dia tidak masuk?” tanya Dan. “Tadi dia tidak masuk sekolah karena sakit tifus. Saya rasa itu tidak sebentar,” kata Kenny. “Kau benar. Kalau begitu untuk jaga-jaga, Kenny, Edo dan Riko. Kalian bertiga akan kuseleksi hari ini juga,” kata pelatih.
“Apa? Se..Seleksi?” tanya Riko. “Ya, sebagai pengganti Toni. Kalian akan balapan lari 3 putaran di lapangan ini. Yang menang akan menggantikan Toni. Mengerti?” kata pelatih lagi. Mereka bertiga pun bersiap di garis start. “Baiklah. Tiga.. Dua.. Satu…” Ferry pun meniup peluit sekeras mungkin dan mereka bertiga pun mulai berlari.
“Aku harus menang! Harus menang!” batin Riko sambil terus memacu larinya. Riko memang tertinggal di putaran pertama, tapi di putaran kedua perlahan-lahan ia menyusul dan mulai mendahului.
“Sejak kapan larinya secepat itu?” tanya Edo tak percaya melihat Riko mendahuluinya. Riko pun masuk garis finish lebih dulu dan menang.
“Bagus, Riko!” kata Ferry lalu tos dengan Riko. “Terima kasih,” jawab Riko. “Dengan begini sudah diputuskan kalau Riko yang menggantikan Toni,” ujar pelatih. “Latihanmu tidak sia-sia, Riko!” seru Ferry. “Dia tumbuh jadi lebih baik,” pikir pelatih.
            Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Dan, Riko dan Ferry akan mengikuti lomba lari jarak pendek, menengah dan jauh. Untuk jarak pendek diwakili Riko, lalu jarak menengah Ferry dan jarak  jauh oleh Dan. “Kalian, jangan biarkan lawan kalian mendahului kalian, mengerti?” nasihat pelatih. Dan, Ferry dan Riko mengangguk. “Baiklah, kalian berjuanglah,” kata pelatih lagi. Pertandingan pun dimulai dari lari jarak jauh, jarak menengah lalu diakhiri jarak pendek. Di akhir perlombaan, Dan berhasil memenangkan juara satu, sedangkan Ferry meraih tempat kedua dan Riko di tempat ketiga.
“Bagus! Kalian sudah berusaha dengan baik. Taka pa meskipun Riko berada di tempat ketiga. Yang jelas usaha kalian patut diacungi jempol,” ujar pelatih yang membuat hati Riko seakan melayang dan senang sekali. Ia pikir ia akan mengecewakan pelatihnya, tetapi ternyata justru pelatihnya menyemangatinya. Meskipun Riko hanya meraih tempat ketiga, ia sangat senang dan bersyukur karena akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya selama ini. Kini keahliannya tidak hanya belajar saja, tapi juga berolahraga. Hidupnya pun tak menjadi monoton seperti sebelumnya. Kini hidupnya lebih berwarna dan lebih menantang.

TAMAT