Spin

Senin, 12 Maret 2012

Story


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”

DATA 1 : A Mysterious Letter

Langit senja yang terlihat kemerahan dan matahari yang bersiap menghilang, membuat semua orang takjub akan keindahannya. Begitu juga dengan Rinka, Naima, Valen dan John.
“Duduk di tepi danau sambil melihat matahari tenggelam memang menyenangkan.” Ujar Naima. Rinka menengok jam tangannya. Hampir pukul 6 sore.
“Naima, sebaiknya kita bergegas. Ibu akan marah jika kita pulang terlambat.” Ajak Rinka.
“Lho? Naima menginap di rumah Rinka, ya?” Tanya Valen.
“Ya. Orang tuanya ke luar kota lagi. Teman kita yang satu ini mengatakan kalau dia kesepian. Jadi dengan terpaksa aku harus menampungnya.” Jelas Rinka sedikit mengejek.
“Kamu kira aku ini air pakai ditampung? Jadi kamu terpaksa, Rin? Kau ke-jam..” rengek Naima.
“Ayolaaah… Kau sudah mengenalku berapa lama sih? Baru kemarin? Masa’ bercanda seperti itu sudah ngambek sih?” balas Rinka.
“Hehehe….. Just kidding.” Naima nyengir.
“Baiklah, sampai jumpa.” Pamit Rinka. Naima melambaikan tangan pada Valen dan John dan segera menghilang tapi bukan berarti menghilang seperti hantu.
“John, ayo pulang?” Ajak Valen.
“Yeah..” John pun berdiri dan membersihkan celananya. John dan Valen pun berjalan menuju rumah mereka.
“Jadi, orang tuamu belum pulang?” Tanya Valen.
“Hm? Mereka bilang bulan depan. Hahh…. Membosankan.” Jawab John dengan malas.
“Bagaimana kalau besok ke toko buku? Aku mau cari komik.” Ajak Valen.
“Dasar. Kau yang beli aku yang pinjam, oke?” tawar John.
“Enak saja! Dasar kau ini tak mau mengeluarkan uang.” Balas Valen.
“Kau tahu, lebih baik meminjam daripada beli jika bosan hanya ditaruh?” ujar John membela diri.
“Sudahlah… Tapi ada satu syarat.” Kata Valen. John memiringkan kepalanya tanda bingung.
“Berani bayar berapa kau?” Tanya Valen.
“Lupakan. Aku tidak jadi pinjam.” Jawab John memalingkan wajah. Valen terkekeh. Memang biasanya John selalu bersikap dingin. Tapi, tetap saja di hadapan Valen, sahabatnya sejak kecil, ia tetaplah John yang Valen kenal.
Ketika John sampai di depan rumahnya, ia mendapati sebuah surat di mulut kotak suratnya.
“Apa itu, John?” Tanya Valen menaikkan sebelah alisnya. John menaikkan bahunya. Ia pun mengambil surat itu.
“Hm??”
A Challenge Letter for John and Valen.

“Apa?” seru Valen terkejut.
Ketika permainan dimulai, tuan putri akan menghilang dan disusul oleh hilangnya sang malaikat. Jika kalian terlambat, kalian akan menyesal. Permainan rumah melengkung.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Valen.
“Aku tahu maksudnya.” Jawab John.
“Hmm…. Kurasa aku juga tahu. Jadi, haruskah kita beritahu mereka?” Tanya Valen.
“Tidak usah. Ini tantangan untuk kita. Jangan libatkan orang lain.” Jawab John.
“Yeah. Aku takkan biarkan orang ini melakukan sesuatu pada mereka. Aku akan melindungi mereka.” Ujar Valen.
“Begitu juga denganku.” Sambung John.

~To Be Continue~

 --ZULAIKHAH--

Sabtu, 10 Maret 2012

Story > Continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”
Continue        
DATA 3 : White Man and Blue Stone

“APA?!!! Jadi kalian sudah mendapatkan petunjuk di mana munculnya White Lupin dan Blue Stone?” tanya Ryu.
“Kira-kira begitu.” Jawab John singkat.
“Baiklah kita akan ke sana malam ini. Terima kasih untuk kalian.” Ujar Ryu.
Mereka pun segera menuju tempat yang telah diberitahukan oleh John. Tempat yang ingin diberitahukan oleh White Lupin.

Malam cerah yang disinari oleh bulan purnama benar-benar indah. Sang bulan menampakkan sinarnya.
“Di saat inilah, Blue Stone akan bersinar…” kata Mike.
“Kita akan temukan batu kesayangan paman itu..” ujar Naima menenangkan.
“Iya.” Jawab Mike.
Nampak 5 mobil patrol berjaga di depan Green Tower yang menjulang tinggi. Beberapa polisi pun menjaga di depan pintu dan banyak orang menyaksikan di bawah. Inspektur Ryu, Opsir Ron, Mike, John, Valen, Rinka dan Naima berada di dalam tower.
“Apa sudah terlihat, Naima?” tanya John pada Naima yang sedang meneropong melalui jendela tower.
“Belum. Lagipula bulannya masih terlihat sangat terang.” Jawab Naima yang masih terus meneropong.
“Kau jangan hanya melihat bulan saja! Lihat yang datang!!” sahut Valen.
“Iya iya…. Dasar cerewet.” Balas Naima.
“Apa benar ini tempatnya? Jika salah, ini akan berantakan.” Tanya Ron.
“Aku percaya pada mereka.” Jawab Ryu.
Sekitar 25 menit mereka mengawasi, akhirnya sang bulan mulai tertutup awan.
“Bulannya mulai tertutup awan!” seru Naima.
“Baiklah, semua bersiap!” ujar Ryu.

WUSSSSSHHHH

“Wah, tak kusangka mereka berada di tempat dan waktu yang benar. Kelihatannya ada penunjuk jalan di sini. Siapa ya? Aku jadi semakin tertarik untuk melihat apa kejutan orang-orang di bawah.”
Bayangan putih seperti burung yang terbang di atas langit malam dan tepat di atas tower itu mulai menurunkan ketinggian.
“Hmmm…….. Menarik.”

CKLAK KLAK KLAK

Beberapa lampu sorot berukuran besar diarahkan pada puncak tower untuk menyinari sang White Lupin.
“Wah, kejutan besar.”
“White Lupin, kau terkepung! Kau tak bisa lari dari kami! Serahkan kembali Blue Stone.” seru Ron menggunakan megaphone di bawah.
“Tenang, aku akan menyerahkannya. Tapi, aku akan menunjukkan sedikit pertunjukan.” Ujar White Lupin. Tak lama kemudian, beberapa polisi berada di puncak tower mengelilingi White Lupin dengan menodongkan pistol.
“Wah wah….. Baiklah. Apa kalian masih bisa melawan jika begini?” White Lupin langsung membuka sayap belakang bajunya dan yang terlihat hanya kepala dan tangannya saja. Badannya seakan menghilang.
“A..Apa-apaan itu? Kemana badannya?”
“Fufufu…. Sampai jumpa..!” White Lupin langsung berlari melewati mereka.

PRANG!!

Ternyata hilangnya badan White Lupin hanyalah sebuah trik kaca. Badannya terlihat lagi karena kaca penutup sudah pecah. White Lupin segera memunculkan hangglider-nya dan terbang.
“Dia kabur!!”
“Wah, kelihatannya tidak seru kalau begini. Lebih baik aku tinggalkan saja batu ini. Lagipula untuk apa jika kumiliki?” White Lupin menuju ke sebuah pohon besar dan meletakkan kotak berisi Blue Stone di atasnya. Ia pun turun dan menghilang lagi.
“Kemana dia?” tanya Ron.
“Menghilang. Tapi Pak, Blue Stone ada di atas pohon.” Jelas seorang polisi.
“Cepat ambil!” ujar Ron.
‘Dengan begini mereka takkan bisa menangkapku.’
“White Lupin…..” seru suara dari balik gang kecil.
“Ah… Jadi kalian penunjuk jalannya ya?”
“Benar..” kata John.
“Memang kami.” Sambung Valen. Mereka berempat kini berada di depan White Lupin yang mengenakan jaket hitam.
“Aku ingin tahu bagaimana kalian bisa menemukan tempat itu?” tanya White Lupin.
“Ya, di suratmu ada petunjuk. Yang pertama ‘sirnanya bulan’ bukan berarti akhir bulan, tapi ketika bulan tertutup awan. Lalu ‘sinar memanjang’ yang artinya lampu Green Tower yang terlihat memanjang.” Jelas John.
“Kotak berlian berarti toko perhiasan.” Sambung Valen.
“Dan burung putih artinya kau yang terbang menggunakan hangglider mu itu.” Tambah Rinka.
“Hahahaha…… Kalian cukup menghibur. Dan bagaimana kalian bisa tahu aku lewat jalan ini?” tanya White Lupin lagi.
“Karena kau tiba-tiba menghilang. Jadi, aku rasa kau menyamar dan membaur dengan kerumunan orang, lalu berlari berlawanan arah dengan arah kau terbang agar tidak dicurigai polisi sebagai White Lupin.” Jelas Valen.
“Kalian memang menarik. Baiklah, kita berjumpa lain kali. Sampai jumpa…” tiba-tiba White Lupin menhilang.
“Eh? Kemana dia?” tanya Naima.
“Sebaiknya sekarang kita mendatangi Paman Mike. Aku rasa dia sedang bahagia karena Blue Stone kembali. Dan mungkin kita bisa melihat sinar Blue Stone yang terkenal itu..” ajak Rinka.
“Ayoo…!!”

~THE END~
>ZULAIKHAH<

Minggu, 04 Maret 2012

Story >continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”

Continue….
DATA 2 : Meaningfull Letter

John, Rinka, Valen dan Naima membantu penyelidikan hilangnya ‘Blue Stone’ yang konon dapat memancarkan sinar biru ketika malam, terutama di bawah sinar bulan purnama.
“John, bisa aku lihat surat itu?” tanya Ryu.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang. Kotak berlian akan menghiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“White Lupin ya? Aku sama sekali tak tahu maksud surat ini. Kelihatannya ia sengaja menaruh surat ini untuk membingungkan polisi.” Ujar Ryu.
“WHITE LUPIN HARUS SEGERA DITANGKAP!!!” seru seorang pria berkumis kotak.
“Apa yang anda katakan Inspektur Aron?” tanya Ryu.
 “Tak apa. Tapi, ini adalah tugasku untuk menangkap pencuri itu. Karena hanya akulah yang bisa Hahahahahaha…” seru Aron dengan bangganya.
“Inspektur yang terlalu percaya diri.” Bisik Valen pada John.
“Apa-apaan itu.” Timpal Naima sambil menatap Inspektur Aron seakan berkata ‘Bodoh’.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Aron.
“Ng.. Omong-omong Paman Ryu, bagaimana kesimpulannya?” tanya John.
 “Hmm… Itu……,-“ belul selesai Ryu melanjutkan, Aron menyela.
“Itu berarti, kita tunggu sampai tak ada bulan yang berarti akhir bulan ini!” serunya dengan bangga lagi.
“Apa maksud anda? Mungkinkah selama itu? Ini baru saja awal bulan.” Bantah Ryu.
“Iya. Lalu bagaimana anda menjelaskan tentang ‘sinar memanjang’ dan ‘burung putih’ ?” tanya Rinka.
“I..Itu…” jawab Aron tergagap.
“Tapi yang jelas itu akhir bulan ini, titik!!” lanjutnya lagi tak mau kalah.
“Inspektur payah.” Komentar Naima.
“Apa katamu, bocah?!!” bentak Aron.
“Kelihatannya kami tak bisa mempercayai kesimpulan anda barusan. Karena itu sangat mustahil. “ sela Ryu.
“Ya, perkataan Paman Ryu benar.” sambung John.
“Kalian ini masih bocah. Kalian tahu apa tentang penyelidikan dan kriminal?” tanya Aron meremehkan.
“Kau jangan remehkan mereka, Aron. Mereka anak-anak kepercayaanku. Selain itu, mereka mengerti banyak tentang kasus.” Jelas Ryu.
 “Daripada itu, sebaiknya kita segera mencari tahu apa maksud surat ini. Benar kan Paman Ryu?” usul John.
‘Lagi-lagi dia mengabaikanku..’ gerutu Aron yang terlihat kesal dengan tingkah John.

Kepolisian Kota Green.
“Bagaimana ini, Ron?” tanya Ryu pada bawahannya.
“Kami masih belum bisa memastikannya.” Jawab Ron.
“Baiklah, kita harus segera mencari tahu maksud surat itu. White Lupin sangat licik. Dia bahkan sangat pintar.” Ujar Ryu.

Sore hari di Green Park.
“Hei, bagaimana menurutmu tentang surat itu?” tanya Valen.
“Hah….. Aku masih belum tahu.” Jawab John.
“Hei, Rin. Kau kan paling jago soal memecahkan kode. Jadi apa maksud surat itu?” tanya Naima.
“Apa ya? Entahlah… Aku belum bisa menangkap sesuatu.” Jawab Rinka sambil memainkan bunga mawar di depannya.
“Omong-omong apa maksudnya ‘sinar memanjang’, ‘burung putih’ , dan ‘sirnanya bulan’ ?” tanya Naima.
“Entah..Tapi, mana ada burung putih yang terbang pada malam hari? Sinar memanjang di malam hari juga apa ? Kalau lampu yang berkelip-kelip memanjang masih ada.” Kata Valen.
‘Eh? Lampu memanjang?’ batin John.
“Tapi mungkin di dalam surat itu tersirat tempat dan waktunya, tapi kita tidak menyadarinya.” Ujar Naima.
“Tapi, kalau kita menurut perkataan inspektur aneh itu, apa kita harus menunggu sampai akhir bulan ini? Kurasa mustahil. Mungkin ketika akhir bulan ini, Blue Stone sudah dijual di pelelangan.” Tambah Valen.
“Jadi apa maksudnya bersama sirnanya bulan? Apa ketika bulan tidak terlihat karena tertutup awan. Bukankah bulan sering terlihat menghilang ketika tertutup awan?” tanya Naima.
“ITU DIA!!” seru John dan Rinka bersamaan.
“Ah? Ada apa?” tanya Valen.
“Kalian berdua jenius. Itulah maksud surat itu.” Ujar Rinka.
“Maksudnya?” tanya Naima.
“Hanya tinggal satu yang belum terpecahkan. Apa maksud dari ‘kotak berlian’ dan ‘sinar memanjang’…” ujar John.
“Hei, mungkinkah itu toko perhiasan? Toko itu kan berada di dekat Green Tower yang mempunyai lampu memanjang dari atas ke bawah?” tanya Naima.
“Itu… Yeah… Kurasa Naima benar. Jadi malam ini, ya?” tanya Rinka.
“Malam ketika sang bulan ditelan gelap malam.” Sambung John.
“Sinar memanjang yang menggantikan sinar Blue Stone.” Sambung Valen.
“Tapi, apa maksud ‘burung puitih’ ?” tanya Naima lagi.
“Kurasa aku tahu apa maksudnya. Rin, apa perkiraanmu juga sama denganku?” tanya John.
“Mungkin. Kurasa burung putih adalah White Lupin itu sendiri yang akan terbang di atas Green Tower.” Jawab Rinka.
“Tepat sekali! Sekarang, kita beritahu Inspektur Ryu. Tapi jangan beritahu inspektur aneh itu oke?” usul Valen.

Malam harinya…..
“Hmm…… Angin bertiup dengan lembut, membuatku tidak tahan mengelabuhi para polisi itu. Aku yakin mereka mengira ini akhir bulan ini. Fufufu….. Baiklah, waktunya beraksi.”
WUSSSSHHHHH



~TO BE CONTINUE~

>ZULAIKHAH<