Spin

Kamis, 23 Agustus 2012

CERPEN #1

IMPIAN MASA LALU

Angin berhembus membawa hawa dingin di pagi hari. Embun yang terlihat segar kini berubah terlihat dingin karena hawa dinginnya pagi. Tak banyak terdengar suara kicauan burung. Mungkin para burung lebih memilih menghangatkan dirinya dan anaknya daripada berkicau di pagi yang dingin. Tapi, hawa dingin yang hamper seperti es ini tak bisa memudarkan niat belajar seorang remaja bernama Riko ini. Riko adalah pemuda yang sangat rajin belajar. Bahkan baginya seperti tiada hari tanpa belajar.
Riko berjalan menuju ke sekolahnya yang memang tak jauh dari rumahnya. Hari ini ada ulangan pada salah satu mata pelajarannya. Tentu saja ia sudah sangat siap dengan itu. Dalam sejarah sekolahnya, presentasi nilai jelek dan nilai bagusnya sangat jauh. Sudah bisa ditebak kalau nilai bagusnya lah yang banyak. Jadwalnya pun tak terelakkan dari les-les privat.
Bel masuk pun berbunyi nyaring menandakan waktunya masuk. Seorang guru pun masuk dan memulai pelajaran. Inilah yang banyak ditakuti oleh siswa, ulangan. Ulangan pun dimulai. Riko mengerjakannya dengan serius dan menelitinya secara baik-baik dan tak melewatkan kesalahan sedikitpun. Ulangan selesai dan langsung dikoreksi bersama. “Kalian lihat? Riko selalu mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana kalian bisa tidak? Contoh anak seperti dia ini!” kata guru itu. “Tak heran kalau Riko mendapat nilai sempurna. Hidupnya kan hanya belajar,” celetuk salah seorang murid.
“Apa iya hidupku hanya belajar saja?” pikir Riko.
Riko berjalan pulang dengan sedikit tak bersemangat. Bukan karena apa-apa, bahkan seharusnya ia senang karena mendapat nilai sempurna dalam ulangan. Tapi soal nilai bagus, itu sudah biasa untuk dirinya. Entah kenapa kata-kata temannya tadi terus mengiang di telinganya. Apa benar Riko seperti itu? Tapi ia tak bisa menyangkalnya karena itu memang benar. Hidupnya memang monoton seperti itu-itu saja. Belajar dan belajar. Bahkan orang tuanya rela menghabiskan banyak uang untuk mendaftarkannya les privat dimana-mana. Ini untuk pertama kalinya Riko mulai jenuh dengan kehidupannya yang seperti ini. Dulu Riko tak selalu menyita semua waktunya untuk belajar. Dulu ia senang sekali mempelajari hal lain. Ia mengikuti beberapa olahraga. Tapi, ia selalu dikeluarkan karena memang staminanya yang sangat kurang untuk olahraga. Akhirnya, ia menjadi putus asa dan menemukan bahwa belajar adalah keahliannya.
Riko menatap langit kemerahan di atasnya. “Aku rasa aku mulai bosan dengan hidupku,” katanya. Di saat itu, Riko mendengar suara anak-anak kecil.
“Hei! Kau memukul bola ke arah mana?!” seru anak kecil itu. Riko menoleh dan memperhatikan sekumpulan anak kecil yang bermain baseball itu. “Sepertinya menyenangkan kalau bisa berolahraga, ya?” ujar Riko tersenyum miris. Ia pun berjalan pulang.
            Bintang-bintang bertaburan dan kerlap-kerlipnya menghiasi langit bersama bulan. Riko duduk di depan meja belajarnya. Tentu saja ia sedang belajar. Riko membuka gorden jendela di samping meja belajarnya. Ia memandangi langit dari balik jendelanya. “Andai saja badanku sekuat orang biasanya, aku pasti akan berolahraga lagi seperti dulu,” kata Riko berandai-andai.
            Esoknya, di sekolah, Riko hanya duduk di bangkunya tak melakukan apapun sampai salah seorang temannya datang. “Riko!”. Riko pun menoleh dan mendapati Ferry di depannya. “Ada apa?” tanya Riko. “Mm.. Apa kau mau bergabung dalam klub atletik, maksudku lari. Kami kekurangan anggota,” kata Ferry. Rio terkejut. Bukankah Ferry tahu kalau staminanya payah? Tapi kenapa ia menawarinya? Apa ia hanya pilihan terakhir dan terpaksa? Riko pun segera mengusir pikiran itu dan berkata, “Aku akan ikut,” . “Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Baiklah, nanti pulang sekolah datanglah ke lapangan,” kata Ferry lalu pergi.
“Apa aku bisa?” tanya Riko dalam hati sambil memandang pemandangan di luar jendela. Seperti yang dikatakan Ferry, Riko berjalan menuju lapangan.
“Riko!” Ferry melambaikan tangannya. Riko pun mendekat. “Jadi, dia anggota baru klub kita?” tanya Dan. Ferry mengangguk. “Baiklah, kita mulai latihan besok. Sebulan lagi ada lomba lari jarak dekat, menengah dan jauh. Kita harus persiapkan semua,” ujar pelatih. Semua pun bubar. Begitu juga Riko. Lagi-lagi ia berpikir apa ia bisa atau tidak? Ia memang tak begitu yakin dengan kemampuannya sendiri, tapi ia mencoba sedikit meyakinkan dirinya sendiri.
            Latihan pun dimulai. Latihan pertama hanya lari mengelilingi lapangan lima kali. Ketika semua temannya di depan, Riko masih saja berlari terpaut jauh dari teman-temannya. Dan menengok ke belakang melihat Riko. “Mari kita lihat seberapa semangat dia,” kata Dan lirih. Riko tetap berlari meskipun tertinggal. Dalam hatinya kali ini ia ingin sekali bisa ikut lomba lari itu. Ia pun mengerahkan segenap tenaga terakhirnya untuk putaran terakhir ini.
“Hahh hahh hahh…,” begitu selesai lima putaran, Riko langsung terduduk lelah di bench. TAP! Dan melempar sebotol air minum. “Te..Terima kasih,” kata Riko. Dan tak terlalu memperhatikan. “Baiklah, latihan hari ini cukup. Besok kita latihan lagi,” ujar pelatih. “Dan, kau jangan pulang dulu,” kata pelatih lagi. Dan pun mengangguk. Ketika semua telah pulang, Dan berdiri di lapangan berdua dengan pelatih, “bagaimana menurutmu anak baru itu?” tanya pelatih. “sebagai ketua klub ini, kau harus mengatakan yang sebenarnya,” sambungnya.
“Yaa, dilihat dari postur tubuhnya dia memang terlihat tak pernah olahraga. Selain itu staminanya juga kurang. Tapi, kelihatannya semangatnya menarik. Jadi kita lihat saja kemajuannya nanti,” jawab Dan. “Hmm.. Kau benar,” kata pelatih setuju dengan pendapat Dan.
            “Aku pulang,” salam Riko sambil membuka pintu. “Darimana saja kamu?” tanya ibunya. “Latihan lari, Bu,” jawab Riko lemas. “Apa? Tugasmu itu c belajar! Tak ada yang lain. Tak ada selain belajar! Jangan sampai kau ikut olahraga-olahraga yang seperti itu, mengerti?!” seru ibunya. Riko hanya berjalan menuju kamarnya. Kelelahannya sudah tak tertahankan.
            Latihan kedua pun dimulai. Kali ini benar-benar seperti latihan neraka bagi Riko. Semua disuruh berlari mengelilingi lapangan sebesar itu selama 15 menit. Seperti kemarin, ia selalu saja tertinggal dan tertinggal. Beberapa kali ia jatuh tapi ia bangkit lagi. Ia tetap berlari. “Dia itu semangatnya tinggi ya?” kata Ferry. “Ya, mungkin saja orang yang kau bawa ini tidak terlalu buruk juga,” ujar Dan yang berlari di sebelah Ferry. Latihan pun usai pukul 4 sore. Dan Riko harus berbohong pada ibunya soal latihan ini atau ibunya akan marah besar. Hari Minggu, latihan libur. Tapi pagi-pagi sekali Riko jogging dan berlatih sendirian di lapangan. Ia melakukan berbagai latihan untuk menguatkan staminanya. Ia push-up, back-up, sit-up dan berlari mengelilingi lapangan beberapa kali. Tapi, staminanya masih belum kuat. Baru sebentar ia sudah sangat lelah dan terlentang di tengah lapangan. “Hahh… Hahh.. Hanya sampai di sini kah batasku?” tanya Riko. “Kenapa aku tak sekuat mereka? Kenapa?!” katanya lagi.
“Kau hanya kurang berlatih,” kata seseorang di belakang Riko. Riko segera berdiri dan berbalik, “Dan? Apa yang kau lakukan?” tanya Riko. “Aku hanya jalan-jalan saja dan tak sengaja lewat sini,” jawab Dan. “Ohh.. Begitu,”
“Berlatihlah yang giat. Tapi jangan terlalu memaksakan diri karena kau bisa terluka. Kalau kau memaksakan dirimu, bukannya menjadi makin kuat malah sakit dan tidak bisa ikut perlombaan,” nasihat Dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Riko yang mematung di sana.
            Sudah 3 minggu sejak Riko masuk klub atletik. Hari ini adalah pengumuman siapa saja yang akan ikut lomba lari. Riko benar-benar gugup. Ia sudah berusaha keras selama 3 minggu ini. Dan ia ingin usahanya membuahkan hasil. “Baiklah, aku akan umumkan 3 orang dari 6 anggota untuk ikut lomba lari minggu depan. Yang pertama, Dan, lalu Ferry,” kata pelatih. “Siapa lagi satunya?” tanya Riko dalam hati.
“Satunya lagi …. Toni. Nah, kalau ada dari tiga yang terpilih absen, aku akan menyeleksi 3 sisanya untuk pengganti. Cukup itu saja pengumuman hari ini,” pelatih pun pergi.
            Riko berdiri sendiri di lapangan padahal jam hamper menunjukkan pukul setengah 7 malam. “Kenapa aku tak terpilih?!! Aku sudah berusaha keras tapi masih saja tak terpilih?!! Aku memang tidak pernah cocok dalam olahraga apapun!” teriak Riko. Dan memandang Riko dari jauh. Ia pun berjalan menuju lapangan tanpa sepengetahuan Riko. Ferry pun datang, “ada apa Dan?” tanya Ferry. “Kelihatannya Riko terpukul,” lanjut Ferry. “Kurasa begitu. Tapi kita lihat, apa ia sanggup bangkit atau tidak,” kata Dan.
“APA YANG KAU KATAKAN?!! KAU BILANG KITA TIDAK MUNGKIN MENANG??!!” tiba-tiba saja Ferry berteriak dan membuat Dan terkejut. Begitu juga dengan Riko yang ada di lapangan. “I..Itu suara Ferry?” tanya Riko. Riko mendengarkan omongan Ferry.
“KENAPA KAU BISA MENYERAH BEGITU MUDAHNYA PADAHAL ADA ORANG YANG PANTANG MENYERAH PUN MASIH TETAP TIDAK TERPILIH?!!” lanjut Ferry.
“ Kuberitahu satu hal. Sampai akhir pun, meskipun kau sudah tahu kalau hasilnya akan kalah, jangan sampai ada pikiran menyerah di kepalamu. Kau harus tetap berusaha! Jujur saja sampai sekarang pun aku masih percaya pada dia yang tidak menyerah,” kini suara Ferry mulai memelan.
“Fe..Ferry? Dia benar! Aku takkan semudah itu menyerah sekalipun aku tidak terpilih. Aku takkan menyerah,” kata Riko lirih. Kini semangatnya membara lagi. Ia telah bangkit.
“Hei, Fer. Kenapa kau bicara pada tembok, ha?” tanya Dan yang memerhatikan Ferry yang sedari tadi berteriak-teriak pada tembok. “Ini caraku untuk memberinya semangat, tahu! Sudah kau diam saja,” kata Ferry. “Kau mirip orang gila kau tahu? Lain kali kalau sampai ada orang yang melihat, aku akan langsung pergi meninggalkanmu,” Dan pun berjalan meninggalkan Ferry.
“Haa.. Teman macam apa kau ini, Dan?” kata Ferry. “Mana ada orang yang mau berteman dengan orang gila,” jawab Dan dengan santainya. “Jadi kau anggap aku orang gila, ha?!!” seru Ferry tidak terima. “Kau yang mengatakannya, bukan aku,” balas Dan.
            Empat hari kemudian, semua anggota klub berlatih di lapangan. Semua berlatih keras tanpa kecuali. “Tunggu, mana Toni?” tanya pelatih. “Kami tidak melihatnya hari ini,” jawab Ferry. “Apa dia tidak masuk?” tanya Dan. “Tadi dia tidak masuk sekolah karena sakit tifus. Saya rasa itu tidak sebentar,” kata Kenny. “Kau benar. Kalau begitu untuk jaga-jaga, Kenny, Edo dan Riko. Kalian bertiga akan kuseleksi hari ini juga,” kata pelatih.
“Apa? Se..Seleksi?” tanya Riko. “Ya, sebagai pengganti Toni. Kalian akan balapan lari 3 putaran di lapangan ini. Yang menang akan menggantikan Toni. Mengerti?” kata pelatih lagi. Mereka bertiga pun bersiap di garis start. “Baiklah. Tiga.. Dua.. Satu…” Ferry pun meniup peluit sekeras mungkin dan mereka bertiga pun mulai berlari.
“Aku harus menang! Harus menang!” batin Riko sambil terus memacu larinya. Riko memang tertinggal di putaran pertama, tapi di putaran kedua perlahan-lahan ia menyusul dan mulai mendahului.
“Sejak kapan larinya secepat itu?” tanya Edo tak percaya melihat Riko mendahuluinya. Riko pun masuk garis finish lebih dulu dan menang.
“Bagus, Riko!” kata Ferry lalu tos dengan Riko. “Terima kasih,” jawab Riko. “Dengan begini sudah diputuskan kalau Riko yang menggantikan Toni,” ujar pelatih. “Latihanmu tidak sia-sia, Riko!” seru Ferry. “Dia tumbuh jadi lebih baik,” pikir pelatih.
            Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Dan, Riko dan Ferry akan mengikuti lomba lari jarak pendek, menengah dan jauh. Untuk jarak pendek diwakili Riko, lalu jarak menengah Ferry dan jarak  jauh oleh Dan. “Kalian, jangan biarkan lawan kalian mendahului kalian, mengerti?” nasihat pelatih. Dan, Ferry dan Riko mengangguk. “Baiklah, kalian berjuanglah,” kata pelatih lagi. Pertandingan pun dimulai dari lari jarak jauh, jarak menengah lalu diakhiri jarak pendek. Di akhir perlombaan, Dan berhasil memenangkan juara satu, sedangkan Ferry meraih tempat kedua dan Riko di tempat ketiga.
“Bagus! Kalian sudah berusaha dengan baik. Taka pa meskipun Riko berada di tempat ketiga. Yang jelas usaha kalian patut diacungi jempol,” ujar pelatih yang membuat hati Riko seakan melayang dan senang sekali. Ia pikir ia akan mengecewakan pelatihnya, tetapi ternyata justru pelatihnya menyemangatinya. Meskipun Riko hanya meraih tempat ketiga, ia sangat senang dan bersyukur karena akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya selama ini. Kini keahliannya tidak hanya belajar saja, tapi juga berolahraga. Hidupnya pun tak menjadi monoton seperti sebelumnya. Kini hidupnya lebih berwarna dan lebih menantang.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar