IMPIAN MASA LALU
Angin
berhembus membawa hawa dingin di pagi hari. Embun yang terlihat segar kini
berubah terlihat dingin karena hawa dinginnya pagi. Tak banyak terdengar suara
kicauan burung. Mungkin para burung lebih memilih menghangatkan dirinya dan anaknya
daripada berkicau di pagi yang dingin. Tapi, hawa dingin yang hamper seperti es
ini tak bisa memudarkan niat belajar seorang remaja bernama Riko ini. Riko
adalah pemuda yang sangat rajin belajar. Bahkan baginya seperti tiada hari
tanpa belajar.
Riko
berjalan menuju ke sekolahnya yang memang tak jauh dari rumahnya. Hari ini ada
ulangan pada salah satu mata pelajarannya. Tentu saja ia sudah sangat siap
dengan itu. Dalam sejarah sekolahnya, presentasi nilai jelek dan nilai bagusnya
sangat jauh. Sudah bisa ditebak kalau nilai bagusnya lah yang banyak. Jadwalnya
pun tak terelakkan dari les-les privat.
Bel
masuk pun berbunyi nyaring menandakan waktunya masuk. Seorang guru pun masuk dan
memulai pelajaran. Inilah yang banyak ditakuti oleh siswa, ulangan. Ulangan pun
dimulai. Riko mengerjakannya dengan serius dan menelitinya secara baik-baik dan
tak melewatkan kesalahan sedikitpun. Ulangan selesai dan langsung dikoreksi
bersama. “Kalian lihat? Riko selalu mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana
kalian bisa tidak? Contoh anak seperti dia ini!” kata guru itu. “Tak heran
kalau Riko mendapat nilai sempurna. Hidupnya kan hanya belajar,” celetuk salah
seorang murid.
“Apa iya hidupku
hanya belajar saja?” pikir Riko.
Riko
berjalan pulang dengan sedikit tak bersemangat. Bukan karena apa-apa, bahkan
seharusnya ia senang karena mendapat nilai sempurna dalam ulangan. Tapi soal
nilai bagus, itu sudah biasa untuk dirinya. Entah kenapa kata-kata temannya
tadi terus mengiang di telinganya. Apa benar Riko seperti itu? Tapi ia tak bisa
menyangkalnya karena itu memang benar. Hidupnya memang monoton seperti itu-itu
saja. Belajar dan belajar. Bahkan orang tuanya rela menghabiskan banyak uang
untuk mendaftarkannya les privat dimana-mana. Ini untuk pertama kalinya Riko
mulai jenuh dengan kehidupannya yang seperti ini. Dulu Riko tak selalu menyita semua waktunya untuk belajar. Dulu ia senang sekali
mempelajari hal lain. Ia mengikuti beberapa olahraga. Tapi, ia
selalu dikeluarkan karena memang staminanya yang sangat kurang untuk olahraga. Akhirnya, ia menjadi putus asa dan menemukan bahwa belajar adalah
keahliannya.
Riko
menatap langit kemerahan di atasnya. “Aku rasa aku mulai bosan dengan hidupku,”
katanya. Di saat itu, Riko mendengar suara anak-anak kecil.
“Hei! Kau memukul
bola ke arah mana?!” seru anak kecil itu. Riko menoleh dan memperhatikan
sekumpulan anak kecil yang bermain baseball itu. “Sepertinya menyenangkan kalau
bisa berolahraga, ya?” ujar Riko tersenyum miris. Ia pun berjalan pulang.
Bintang-bintang bertaburan dan
kerlap-kerlipnya menghiasi langit bersama bulan. Riko duduk di depan meja
belajarnya. Tentu saja ia sedang belajar. Riko membuka gorden jendela di samping
meja belajarnya. Ia memandangi langit dari balik jendelanya. “Andai saja
badanku sekuat orang biasanya, aku pasti akan berolahraga lagi seperti dulu,”
kata Riko berandai-andai.
Esoknya, di sekolah, Riko hanya
duduk di bangkunya tak melakukan apapun sampai salah seorang temannya datang.
“Riko!”. Riko pun menoleh dan mendapati Ferry di depannya. “Ada apa?” tanya
Riko. “Mm.. Apa kau mau bergabung dalam klub atletik, maksudku lari. Kami
kekurangan anggota,” kata Ferry. Rio terkejut. Bukankah Ferry tahu kalau
staminanya payah? Tapi kenapa ia menawarinya? Apa ia hanya pilihan terakhir dan
terpaksa? Riko pun segera mengusir pikiran itu dan berkata, “Aku akan ikut,” .
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Baiklah, nanti pulang sekolah datanglah ke
lapangan,” kata Ferry lalu pergi.
“Apa aku bisa?”
tanya Riko dalam hati sambil memandang pemandangan di luar jendela. Seperti
yang dikatakan Ferry, Riko berjalan menuju lapangan.
“Riko!” Ferry
melambaikan tangannya. Riko pun mendekat. “Jadi, dia anggota baru klub kita?”
tanya Dan. Ferry mengangguk. “Baiklah, kita mulai latihan besok. Sebulan lagi
ada lomba lari jarak dekat, menengah dan jauh. Kita harus persiapkan semua,” ujar pelatih.
Semua pun bubar. Begitu juga Riko. Lagi-lagi ia berpikir apa ia bisa atau
tidak? Ia memang tak begitu yakin dengan kemampuannya sendiri, tapi ia mencoba
sedikit meyakinkan dirinya sendiri.
Latihan pun dimulai. Latihan pertama
hanya lari mengelilingi lapangan lima kali. Ketika semua temannya di depan,
Riko masih saja berlari terpaut jauh dari teman-temannya. Dan menengok ke
belakang melihat Riko. “Mari kita lihat seberapa semangat dia,” kata Dan lirih.
Riko tetap berlari meskipun tertinggal. Dalam hatinya kali ini ia ingin sekali
bisa ikut lomba lari itu. Ia pun mengerahkan segenap tenaga terakhirnya untuk
putaran terakhir ini.
“Hahh hahh hahh…,”
begitu selesai lima putaran, Riko langsung terduduk lelah di bench. TAP! Dan melempar sebotol air
minum. “Te..Terima kasih,” kata Riko. Dan tak terlalu memperhatikan. “Baiklah,
latihan hari ini cukup. Besok kita latihan lagi,” ujar pelatih. “Dan, kau
jangan pulang dulu,” kata pelatih lagi. Dan pun mengangguk. Ketika semua telah
pulang, Dan berdiri di lapangan berdua dengan pelatih, “bagaimana menurutmu
anak baru itu?” tanya pelatih. “sebagai ketua klub ini, kau harus mengatakan
yang sebenarnya,” sambungnya.
“Yaa, dilihat dari
postur tubuhnya dia memang terlihat tak pernah olahraga. Selain itu staminanya
juga kurang. Tapi, kelihatannya semangatnya menarik. Jadi kita lihat saja
kemajuannya nanti,” jawab Dan. “Hmm.. Kau benar,” kata pelatih setuju dengan
pendapat Dan.
“Aku pulang,” salam Riko sambil
membuka pintu. “Darimana saja kamu?” tanya ibunya. “Latihan lari, Bu,” jawab
Riko lemas. “Apa? Tugasmu itu c belajar! Tak ada yang lain. Tak ada selain
belajar! Jangan sampai kau ikut olahraga-olahraga yang seperti itu, mengerti?!”
seru ibunya. Riko hanya berjalan menuju kamarnya. Kelelahannya sudah tak
tertahankan.
Latihan kedua pun dimulai. Kali ini
benar-benar seperti latihan neraka bagi Riko. Semua disuruh berlari mengelilingi
lapangan sebesar itu selama 15 menit. Seperti kemarin, ia selalu saja
tertinggal dan tertinggal. Beberapa kali ia jatuh tapi ia bangkit lagi. Ia
tetap berlari. “Dia itu semangatnya tinggi ya?” kata Ferry. “Ya, mungkin saja
orang yang kau bawa ini tidak terlalu buruk juga,” ujar Dan yang berlari di
sebelah Ferry. Latihan pun usai pukul 4 sore. Dan Riko harus berbohong pada
ibunya soal latihan ini atau ibunya akan marah besar. Hari Minggu, latihan
libur. Tapi pagi-pagi sekali Riko jogging
dan berlatih sendirian di lapangan. Ia melakukan berbagai latihan untuk
menguatkan staminanya. Ia push-up,
back-up, sit-up dan berlari mengelilingi lapangan beberapa kali. Tapi,
staminanya masih belum kuat. Baru sebentar ia sudah sangat lelah dan terlentang
di tengah lapangan. “Hahh… Hahh.. Hanya sampai di sini kah batasku?” tanya
Riko. “Kenapa aku tak sekuat mereka? Kenapa?!” katanya lagi.
“Kau hanya kurang
berlatih,” kata seseorang di belakang Riko. Riko segera berdiri dan berbalik,
“Dan? Apa yang kau lakukan?” tanya Riko. “Aku hanya jalan-jalan saja dan tak
sengaja lewat sini,” jawab Dan. “Ohh.. Begitu,”
“Berlatihlah yang
giat. Tapi jangan terlalu memaksakan diri karena kau bisa terluka. Kalau kau
memaksakan dirimu, bukannya menjadi makin kuat malah sakit dan tidak bisa ikut
perlombaan,” nasihat Dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Riko yang mematung
di sana.
Sudah 3 minggu sejak Riko masuk klub
atletik. Hari ini adalah pengumuman siapa saja yang akan ikut lomba lari. Riko
benar-benar gugup. Ia sudah berusaha keras selama 3 minggu ini. Dan ia ingin
usahanya membuahkan hasil. “Baiklah, aku akan umumkan 3 orang dari 6 anggota
untuk ikut lomba lari minggu depan. Yang pertama, Dan, lalu Ferry,” kata
pelatih. “Siapa lagi satunya?” tanya Riko dalam hati.
“Satunya lagi ….
Toni. Nah, kalau ada dari tiga yang terpilih absen, aku akan menyeleksi 3
sisanya untuk pengganti. Cukup itu saja pengumuman hari ini,” pelatih pun
pergi.
Riko berdiri sendiri di lapangan
padahal jam hamper menunjukkan pukul setengah 7 malam. “Kenapa aku tak
terpilih?!! Aku sudah berusaha keras tapi masih saja tak terpilih?!! Aku memang
tidak pernah cocok dalam olahraga apapun!” teriak Riko. Dan memandang Riko dari
jauh. Ia pun berjalan menuju lapangan tanpa sepengetahuan Riko. Ferry pun
datang, “ada apa Dan?” tanya Ferry. “Kelihatannya Riko terpukul,” lanjut Ferry.
“Kurasa begitu. Tapi kita lihat, apa ia sanggup bangkit atau tidak,” kata Dan.
“APA YANG KAU
KATAKAN?!! KAU BILANG KITA TIDAK MUNGKIN MENANG??!!” tiba-tiba saja Ferry
berteriak dan membuat Dan terkejut. Begitu juga dengan Riko yang ada di
lapangan. “I..Itu suara Ferry?” tanya Riko. Riko mendengarkan omongan Ferry.
“KENAPA KAU BISA
MENYERAH BEGITU MUDAHNYA PADAHAL ADA ORANG YANG PANTANG MENYERAH PUN MASIH
TETAP TIDAK TERPILIH?!!” lanjut Ferry.
“ Kuberitahu satu
hal. Sampai akhir pun, meskipun kau sudah tahu kalau hasilnya akan kalah,
jangan sampai ada pikiran menyerah di kepalamu. Kau harus tetap berusaha! Jujur
saja sampai sekarang pun aku masih percaya pada dia yang tidak menyerah,” kini
suara Ferry mulai memelan.
“Fe..Ferry? Dia
benar! Aku takkan semudah itu menyerah sekalipun aku tidak terpilih. Aku takkan
menyerah,” kata Riko lirih. Kini semangatnya membara lagi. Ia telah bangkit.
“Hei, Fer. Kenapa
kau bicara pada tembok, ha?” tanya Dan yang memerhatikan Ferry yang sedari tadi
berteriak-teriak pada tembok. “Ini caraku untuk memberinya semangat, tahu!
Sudah kau diam saja,” kata Ferry. “Kau mirip orang gila kau tahu? Lain kali
kalau sampai ada orang yang melihat, aku akan langsung pergi meninggalkanmu,”
Dan pun berjalan meninggalkan Ferry.
“Haa.. Teman macam
apa kau ini, Dan?” kata Ferry. “Mana ada orang yang mau berteman dengan orang
gila,” jawab Dan dengan santainya. “Jadi kau anggap aku orang gila, ha?!!” seru
Ferry tidak terima. “Kau yang mengatakannya, bukan aku,” balas Dan.
Empat hari kemudian, semua anggota
klub berlatih di lapangan. Semua berlatih keras tanpa kecuali. “Tunggu, mana
Toni?” tanya pelatih. “Kami tidak melihatnya hari ini,” jawab Ferry. “Apa dia
tidak masuk?” tanya Dan. “Tadi dia tidak masuk sekolah karena sakit tifus. Saya
rasa itu tidak sebentar,” kata Kenny. “Kau benar. Kalau begitu untuk jaga-jaga,
Kenny, Edo dan Riko. Kalian bertiga akan kuseleksi hari ini juga,” kata
pelatih.
“Apa?
Se..Seleksi?” tanya Riko. “Ya, sebagai pengganti Toni. Kalian akan balapan lari
3 putaran di lapangan ini. Yang menang akan menggantikan Toni. Mengerti?” kata
pelatih lagi. Mereka bertiga pun bersiap di garis start. “Baiklah. Tiga.. Dua..
Satu…” Ferry pun meniup peluit sekeras mungkin dan mereka bertiga pun mulai
berlari.
“Aku harus menang!
Harus menang!” batin Riko sambil terus memacu larinya. Riko memang tertinggal
di putaran pertama, tapi di putaran kedua perlahan-lahan ia menyusul dan mulai
mendahului.
“Sejak kapan
larinya secepat itu?” tanya Edo tak percaya melihat Riko mendahuluinya. Riko
pun masuk garis finish lebih dulu dan
menang.
“Bagus, Riko!”
kata Ferry lalu tos dengan Riko. “Terima kasih,” jawab Riko. “Dengan begini
sudah diputuskan kalau Riko yang menggantikan Toni,” ujar pelatih. “Latihanmu
tidak sia-sia, Riko!” seru Ferry. “Dia tumbuh jadi lebih baik,” pikir pelatih.
Akhirnya hari yang ditunggu telah
tiba. Dan, Riko dan Ferry akan mengikuti lomba lari jarak pendek, menengah dan
jauh. Untuk jarak pendek diwakili Riko, lalu jarak menengah Ferry dan jarak jauh oleh Dan. “Kalian, jangan biarkan lawan
kalian mendahului kalian, mengerti?” nasihat pelatih. Dan, Ferry dan Riko
mengangguk. “Baiklah, kalian berjuanglah,” kata pelatih lagi. Pertandingan pun
dimulai dari lari jarak jauh, jarak menengah lalu diakhiri jarak pendek. Di
akhir perlombaan, Dan berhasil memenangkan juara satu, sedangkan Ferry meraih
tempat kedua dan Riko di tempat ketiga.
“Bagus! Kalian
sudah berusaha dengan baik. Taka pa meskipun Riko berada di tempat ketiga. Yang
jelas usaha kalian patut diacungi jempol,” ujar pelatih yang membuat hati Riko
seakan melayang dan senang sekali. Ia pikir ia akan mengecewakan pelatihnya,
tetapi ternyata justru pelatihnya menyemangatinya. Meskipun Riko hanya meraih
tempat ketiga, ia sangat senang dan bersyukur karena akhirnya ia bisa
mewujudkan impiannya selama ini. Kini keahliannya tidak hanya belajar saja,
tapi juga berolahraga. Hidupnya pun tak menjadi monoton seperti sebelumnya.
Kini hidupnya lebih berwarna dan lebih menantang.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar