KADO TERINDAH
Hujan turun dengan derasnya
membasahi jalanan pagi di sebuah Kota yang cukup padat. Seorang gadis manis
bernama Leni, bergidik kedinginan. Hawa dingin pagi yang bercampur dengan hujan
menusuk kulitnya. Ia pun segera meraih jaket putih di balik pintu kamarnya.
Leni adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia tinggal
hanya bersama seorang pelayan di rumah gedongnya itu karena kedua orang tuanya
bekerja di luar negeri.
Seperti bisaa, setelah sarapan ia
berbincang sedikit dengan pelayan rumahnya. “Bi, apa ayah dan ibu mengirim
surat atau telpon?” Tanya Leni pada seorang wanita yang ia panggil Bibi.
“Sepertinya tidak.” Jawab wanita itu dengan lembut. Leni hanya mengangguk
mengerti. Lalu, Leni memandangi kalender di dekat almari. Menunjukkan tanggal
12 Oktober. Ia menyunggingkan sebuah senyuman. Leni pun merebahkan badannya di
sofa di depan televisi. Ia memandang ke arah jendela. Hujan masih belum mereda.
Uap air hujan membuat kaca jendela tertutupi. Leni berjalan menuju ke jendela.
Ia mengelap sebagian kaca jendela. ‘Hmmph….. Apa tidak ada yang ingat ya?’
tanyanya dalam hati. Leni kembali duduk di sofa dan menonton televisi untuk
sekedar menghilangkan kejenuhan. Karena hujan, ia tidak bisa kemana mana di
Hari Minggu ini.
Setengah jam kemudian, hujan
reda. Leni masih duduk menonton televisi. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam
dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Leni beranjak dari sofa dan membuka
pintu. “Bi, aku jalan-jalan sebentar ya..!” pamitnya lalu menghilang di balik
pintu. Ia berjalan sambil menikmati suasana pagi. Ia berjalan menuju taman.
Mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang menarik. Ketika ia berjalan di pinggir
taman, ia melihat seorang anak kecil bersama kedua orang tuanya. “Ibu, Ayah, nanti belikan aku sepeda ketika
aku ulang tahun yaaa…..!!” seru anak kecil itu dengan riang. Kedua orang tuanya
mengangguk dan tersenyum. Leni pun ikut tersenyum. Ketika ia berjalan, ia
bertemu Rio temannya. “Hai, kenapa kau sendirian?” sapa Rio. “Hmm…. Tidak
apa-apa. Kau mau kemana?” Tanya Leni. “Ooh… Aku mau membeli ice cream di sana.
Mau ikut?” ajaknya. “Apa? Padahal dingin-dingin begini kau mau beli ice cream?”
Leni mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa? Mau ikut tidak? Kalau tidak ya
sudah…” tawarya sekali lagi. Leni mengangguk. Leni dan Rio memang sudah akrab.
Karena mereka adalah teman masa kecil dan selalu satu sekolah.
Mereka pun menuju ke kedai Ice
cream yang tak jauh dari taman. Rio menuju ke penjual ice cream itu dan memesan
2 ice cream double scoop. Tak lama setelah itu, Rio menyodorkan ice cream
kepada Leni. “Ini..” kata Rio. “Mm… Untukku??” Tanya Leni menunjuk dirinya
sendiri. “Bukan. Untuk bangku di sebelahmu itu. Tentu saja untukmu. Siapa
lagi?” kata Rio menyipitkan matanya. “Terima kasih..” ujar Leni tersenyum.
Mereka pun memakan ice cream sambil berjalan pulang. “Eh, Rio.. hari ini
tanggal berapa sih?” Tanya Leni. “Hm..? 12 Oktober, hari Minggu. Memangnya
kenapa?” Tanya Rion lalu kembali menjilati ice creamnya. “Apa kau tidak lupa
sesuatu?” pancing Leni. “Lupa? Lupa apa?” Rio berbalik Tanya. “Entah. Sesuatu
mungkin.” Leni masih belum menyerah. “Apa sih? Memang kenapa?” Rio masih menjilat
ice creamnya tanpa menoleh kea rah lawan bicaranya. “Hmm… tidak apa-apa” kata
Leni menunduk. ‘Dasar. Ternyata dia juga lupa. Huhh.!! Sahabat macam apa
sih..??’ gerutu Leni dalam hati.
‘Hahaha… maaf Leni. Ini kejutan. Tunggu saja nanti malam.’ Batin Rio tersenyum
tipis. “Kenapa kau tersenyum? Ada yang lucu?” Tanya Leni. Rio menggeleng cepat.
Leni mengernyitkan dahinya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Leni
dan ice cream mereka pun telah habis. “Aku duluan ya…” pamit Leni melambai.
“Ya.. Sampai jumpa.” Balas Rio. Leni pun masuk ke rumahnya. Ia Nampak kesal,
benar-benar kesal. Bagaimana tidak? Karena tak seorang pun yang ingat akan
ulang tahunnya yang ke 14. Benar-benar. Ia pun membuka pintu rumahnya.
“Aku pulang..!!” salamnya. Ia
disambut pelayan wanita yang setia di rumahnya itu dengan senyuman. Leni hanya
melenggang pergi menuju kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan menutupnya
dengan keras. BLAM!! Leni menutup pintu kamarnya. Untung saja pintu itu kuat.
Kalau tidak, entah apa jadinya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Memasang earphone dan mendengarkan lagu yang bisa membuatnya lupa akan hal yang
menyebalkan hari ini. Ia pun tertidur.
Sore harinya, Leni bangun dan
segera mandi. Tak butuh waktu lama untuknya, ia sudah usai mandi. Ia keluar
menuju beranda. Ia memandangi langit sore dan sang mentari yang bersiap untuk
menghilang di balik gunung di ufuk barat. Leni memainkan hp-nya. Tak ada pesan
ataupun telpon dari orang tuanya. Ia menghela nafas. Ia berpikir semua
melupakan ulang tahunnya. Ia masuk ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dan
memeluk boneka kesayangannya. Seakan ia berbicara dengan boneka kesayangannya.
“Hmmph….. Bear. Kenapa tak ada yang ingat ulang tahunku ya??” tanyanya pada
boneka beruangnya. Tentu saja takkan ada jawaban apapun karena boneka tak
bernyawa. Ia mengelus bulu-bulu halus boneka itu. ia merebahkan tubuhnya lagi.
Entah sudah yang keberapa kali.
Pukul 22.00, seseorang mengetuk
pintu kamar Leni. Leni terbangun. Ia berdiri dan mencoba menyalakan lampu. Tapi
lampunya tidak menyala. “Eeh?? Mati lampu? Siapa sih malam-malam begini?”
tanyanya agak kesal. Terpaksa ia membuka pintu dengan sempoyongan dan hamper
saja menabrak laci karena gelap. CKLEK!! Ia membuka pintu kamarnya. “HAPPY
BIRTHDAYY..!!!!” seru kira-kira empat orang yang dilihat Leni. “KYAAAA!!!”
teriaknya karena kaget. Seseorang menghidupkan saklarnya. Lampu pun menyala.
Semua terlihat jelas. Ada ayah, ibu, Rio
dan pelayan rumahnya. Ibu Leni membawa sebuah kue tart coklat yang sudah
ditancapi lilin berangka empat belas. “K..Kalian???” kata leni terbata-bata. Ia
senang. Sangat senang. Pikirnya tadi tak ada yang ingat ulang tahunnya, ternyata
tidak.
“Selamat ulang tahun Leni..!!”
seru kedua orang tuanya. “Iya. Selamat ya…” sambung Rio. “Eeh… Ayah dan Ibu
kenapa tidak menelponku??” Tanya Leni. “Kejutan..!!” seru Ibu Leni bersemangat.
“Kau juga Rio?” Tanya Leni lagi. “Ini semua idenya Rio..” kata ayah Leni.
“hahahaha. Ternyata kau juga ingat. Jadi tadi pagi itu kau pura-pura lupa??”
kata Leni seakan ingin menjitak kepala Rio. “Iya.. Itu benar sekali. Seratus
untukmu.” Rio menjulurkan lidahnya. “Ayo, tiup lilinya.” Ujar ibu Leni. Leni
pun meniup lilin itu dan memohon sebuah permintaan. “Ooh ya! Ini kami
membelikanmu alat-alat lukis baru. Punyamu kan sudah habis.” Kata Ayahnya.
“Kalau dariku sudah tadi pagi kan ice creamnya. Anggap saja itu kado dariku.”
Kata Rio nyengir. “Kamu ini..!” seru Leni. Leni benar-benar senang sekali.
Ternyata yang ia pikirkan salah. Ternyata orang-orang di sekitarnya mengingat
ulang tahunnya dan memeberikan kado istimewa untuknya. Ia benar-benar senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar