Spin

Jumat, 24 Februari 2012

Story


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”
           
DATA 1 : The mysterious white man
Angin berhembus begitu kencang di Kota Green. Pepohonan pun merunduk karena angin yang berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun keluar di malam sepi dan berangin itu. Cahaya bulan purnama terang menghiasi langit malam yang gelap nan kelam itu. Kala itu, Mike, kolektor batu langka tengah terlelap.
WUUSSSSSHHHHHH!!
Angin bertiup dengan kencang hingga membuat tirai jendela besar kediaman seorang kolektor terkenal bernama Mike itu berkibar.
GREKK!!
Bayangan putih turun dari langit malam dan tengah berdiri menatap ruangan milik Mike yang sepi. Bagaimana tidak? Sang pemilik tengah terlelap.
“Khukhukhu……” bayangan putih itu pun berjalan dengan sangat tenang dan tanpa rasa takut menuju ruang koleksi batu-batu langka.
“Ini dia…. Kali ini, cahaya birumu akan sirna bersamaan dengan ditelannya bulan oleh sang kegelapan.”  Bayangan putih itu tiba-tiba saja menghilang secepat kilat, bersamaan dengan itu ,secarik kertas tertinggal di dalam kaca penyimpanan batu itu.

Keesokan harinya
Pagi yang cerah menghiasi Kota Green yang barusaja dihampiri oleh tiupan angin kencang. Pagi ini berbeda, tak ada angin. Hanya hawa pagi saja yang terasa. Tak terkecuali 4 anak bersahabat ini. Ya, Rinka, John, Naima dan Valen.
“Berbeda sekali dengan semalam yang anginnya seperti ingin mengangkat rumah.” Ujar Naima pada Rinka.
“Yah, bersyukurlah rumahmu tak terangkat oleh angin semalam.” Kata Rinka.
“Kalau seandainya begitu juga tidak apa. Kita bisa terbebas dari kebodohan Naima Danna.” Ejek Valen.
“Valeeeeennnn……!!!” seru Naima yang tengah bersiap meluncurkan jitakan spesial pada Valen.
“Hentikan itu. Kalian akan bertengkar sepanjang hari….” Komentar John menyipitkan mata.
“Ayolah… Setidaknya hilangkan sikap dinginmu itu, John. Kau bisa membeku karena itu.” sahut Naima.
“Terserah….” Jawab John.
            Ketika mereka tengah asik membicarakan hal –hal yang menarik, pandangan mereka tertuju pada sebuah rumah yang tak asing bagi mereka dikerumuni 3 mobil patroli. Mereka pun menghampiri rumah bergaya Eropa itu.
“Ada apa ini?” Tanya Valen.
“Ahh…. Rupanya kalian?” sapa seorang pria berkumis dengan badan gemuk.
“Paman Mike, ada apa?” Tanya Naima.
“Hmm…… Blue Stone dicuri. Kelihatannya tadi malam. Tapi, bahkan tak ada tanda-tanda pencuri masuk. Bahkan bekas congkelan ataupun pecahan kaca pun tidak ada.” Jelas Mike dengan nada agak lirih.
“Pencuri professional.” Komentar Valen.
“Apa benar tidak ada bukti sama sekali?” Tanya John.
“Tidak….-“ belum selesai Mike berbicara, mereka mendengar suara seorang opsir yang berteriak.
“Inspektur!! Kami menemukan sesuatu!!” seru pria dengan tinggi kira-kira 170cm itu.
“Ada apa, Ron?” Tanya seorang pria di depannya.
“Secarik kertas. Kelihatannya tersangka pencurian ini sudah ditetapkan.” Ujar Ron.
“White Lupin?” Tanya Inspektur.
“Iya, benar Inspektur Ryu.” Jawab Ron.
“Paman Ryu?” panggil Rinka.
“Oh, Rinka… Wah kebetulan kalian di sini.” Jawab Ryu.
“Iya, jadi pelakunya siapa?” Tanya Rinka to the point.
“Di kertas ini tertulis White Lupin.” Jawab Ryu sambil menunjukkan secarik kertas.
“Ehh? White Lupin? Siapa dia?” Tanya Naima.
“Hahh…. Dia pencuri professional yang mencuri benda-benda langka. Dan ia selalu mengenakan pakaian putih. Itu sebabnya dijuluki ‘White Lupin’….” Jelas Valen panjang lebar.
“Oohh….”
“Boleh kulihat tulisan di kertas itu, paman?” Tanya John.
“Yeah… Silahkan.” Ujar Ryu menyodorkan secarik kertas.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang. Kotak berlian akan menhiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“A….Apa-apaan itu?” Tanya Valen.
“Apa maksudnya? Cahaya biru?” Tanya Naima.
“Konon, Blue Stone dapat memancarkan cahaya biru ketika malam hari. Tapi memang terlihat berkilau ketika malam hari. Mungkin begitu maksudnya.” Sela Mike.
“Eh?”
‘Cahaya Blue Stone? Menghilangnya bulan? Sinar memanjang? Burung putih?’ ujar John dalam hati.
“Hei, John… Apa yang kita pikirkan sama?” Tanya Rinka.
“Mungkin. Kurasa juga begitu. Kelihatannya di antara kata dalam surat ini mengandung sebuah petunjuk penting.” Ujar John tersenyum.
“Hmm…. Kelihatannya kita akan melakukannya hari ini. Benar kan?” tebak Valen.
“Kau benar, Valen.” Sambung Naima.
“Yeah, ini akan menarik.” Timpal John.

~TO BE CONTINUE~

>ZULAIKHAH<

Minggu, 19 Februari 2012

Cerpen #2


KADO TERINDAH

Hujan turun dengan derasnya membasahi jalanan pagi di sebuah Kota yang cukup padat. Seorang gadis manis bernama Leni, bergidik kedinginan. Hawa dingin pagi yang bercampur dengan hujan menusuk kulitnya. Ia pun segera meraih jaket putih di balik pintu kamarnya. Leni adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia tinggal hanya bersama seorang pelayan di rumah gedongnya itu karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri.
Seperti bisaa, setelah sarapan ia berbincang sedikit dengan pelayan rumahnya. “Bi, apa ayah dan ibu mengirim surat atau telpon?” Tanya Leni pada seorang wanita yang ia panggil Bibi. “Sepertinya tidak.” Jawab wanita itu dengan lembut. Leni hanya mengangguk mengerti. Lalu, Leni memandangi kalender di dekat almari. Menunjukkan tanggal 12 Oktober. Ia menyunggingkan sebuah senyuman. Leni pun merebahkan badannya di sofa di depan televisi. Ia memandang ke arah jendela. Hujan masih belum mereda. Uap air hujan membuat kaca jendela tertutupi. Leni berjalan menuju ke jendela. Ia mengelap sebagian kaca jendela. ‘Hmmph….. Apa tidak ada yang ingat ya?’ tanyanya dalam hati. Leni kembali duduk di sofa dan menonton televisi untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Karena hujan, ia tidak bisa kemana mana di Hari Minggu ini.
Setengah jam kemudian, hujan reda. Leni masih duduk menonton televisi. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Leni beranjak dari sofa dan membuka pintu. “Bi, aku jalan-jalan sebentar ya..!” pamitnya lalu menghilang di balik pintu. Ia berjalan sambil menikmati suasana pagi. Ia berjalan menuju taman. Mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang menarik. Ketika ia berjalan di pinggir taman, ia melihat seorang anak kecil bersama kedua orang tuanya.  “Ibu, Ayah, nanti belikan aku sepeda ketika aku ulang tahun yaaa…..!!” seru anak kecil itu dengan riang. Kedua orang tuanya mengangguk dan tersenyum. Leni pun ikut tersenyum. Ketika ia berjalan, ia bertemu Rio temannya. “Hai, kenapa kau sendirian?” sapa Rio. “Hmm…. Tidak apa-apa. Kau mau kemana?” Tanya Leni. “Ooh… Aku mau membeli ice cream di sana. Mau ikut?” ajaknya. “Apa? Padahal dingin-dingin begini kau mau beli ice cream?” Leni mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa? Mau ikut tidak? Kalau tidak ya sudah…” tawarya sekali lagi. Leni mengangguk. Leni dan Rio memang sudah akrab. Karena mereka adalah teman masa kecil dan selalu satu sekolah.
Mereka pun menuju ke kedai Ice cream yang tak jauh dari taman. Rio menuju ke penjual ice cream itu dan memesan 2 ice cream double scoop. Tak lama setelah itu, Rio menyodorkan ice cream kepada Leni. “Ini..” kata Rio. “Mm… Untukku??” Tanya Leni menunjuk dirinya sendiri. “Bukan. Untuk bangku di sebelahmu itu. Tentu saja untukmu. Siapa lagi?” kata Rio menyipitkan matanya. “Terima kasih..” ujar Leni tersenyum. Mereka pun memakan ice cream sambil berjalan pulang. “Eh, Rio.. hari ini tanggal berapa sih?” Tanya Leni. “Hm..? 12 Oktober, hari Minggu. Memangnya kenapa?” Tanya Rion lalu kembali menjilati ice creamnya. “Apa kau tidak lupa sesuatu?” pancing Leni. “Lupa? Lupa apa?” Rio berbalik Tanya. “Entah. Sesuatu mungkin.” Leni masih belum menyerah. “Apa sih? Memang kenapa?” Rio masih menjilat ice creamnya tanpa menoleh kea rah lawan bicaranya. “Hmm… tidak apa-apa” kata Leni menunduk. ‘Dasar. Ternyata dia juga lupa. Huhh.!! Sahabat macam apa sih..??’ gerutu  Leni dalam hati. ‘Hahaha… maaf Leni. Ini kejutan. Tunggu saja nanti malam.’ Batin Rio tersenyum tipis. “Kenapa kau tersenyum? Ada yang lucu?” Tanya Leni. Rio menggeleng cepat. Leni mengernyitkan dahinya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Leni dan ice cream mereka pun telah habis. “Aku duluan ya…” pamit Leni melambai. “Ya.. Sampai jumpa.” Balas Rio. Leni pun masuk ke rumahnya. Ia Nampak kesal, benar-benar kesal. Bagaimana tidak? Karena tak seorang pun yang ingat akan ulang tahunnya yang ke 14. Benar-benar. Ia pun membuka pintu rumahnya.
“Aku pulang..!!” salamnya. Ia disambut pelayan wanita yang setia di rumahnya itu dengan senyuman. Leni hanya melenggang pergi menuju kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras. BLAM!! Leni menutup pintu kamarnya. Untung saja pintu itu kuat. Kalau tidak, entah apa jadinya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memasang earphone dan mendengarkan lagu yang bisa membuatnya lupa akan hal yang menyebalkan hari ini. Ia pun tertidur.
Sore harinya, Leni bangun dan segera mandi. Tak butuh waktu lama untuknya, ia sudah usai mandi. Ia keluar menuju beranda. Ia memandangi langit sore dan sang mentari yang bersiap untuk menghilang di balik gunung di ufuk barat. Leni memainkan hp-nya. Tak ada pesan ataupun telpon dari orang tuanya. Ia menghela nafas. Ia berpikir semua melupakan ulang tahunnya. Ia masuk ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dan memeluk boneka kesayangannya. Seakan ia berbicara dengan boneka kesayangannya. “Hmmph….. Bear. Kenapa tak ada yang ingat ulang tahunku ya??” tanyanya pada boneka beruangnya. Tentu saja takkan ada jawaban apapun karena boneka tak bernyawa. Ia mengelus bulu-bulu halus boneka itu. ia merebahkan tubuhnya lagi. Entah sudah yang keberapa kali.
Pukul 22.00, seseorang mengetuk pintu kamar Leni. Leni terbangun. Ia berdiri dan mencoba menyalakan lampu. Tapi lampunya tidak menyala. “Eeh?? Mati lampu? Siapa sih malam-malam begini?” tanyanya agak kesal. Terpaksa ia membuka pintu dengan sempoyongan dan hamper saja menabrak laci karena gelap. CKLEK!! Ia membuka pintu kamarnya. “HAPPY BIRTHDAYY..!!!!” seru kira-kira empat orang yang dilihat Leni. “KYAAAA!!!” teriaknya karena kaget. Seseorang menghidupkan saklarnya. Lampu pun menyala. Semua terlihat jelas. Ada ayah, ibu,  Rio dan pelayan rumahnya. Ibu Leni membawa sebuah kue tart coklat yang sudah ditancapi lilin berangka empat belas. “K..Kalian???” kata leni terbata-bata. Ia senang. Sangat senang. Pikirnya tadi tak ada yang ingat ulang tahunnya, ternyata tidak.
“Selamat ulang tahun Leni..!!” seru kedua orang tuanya. “Iya. Selamat ya…” sambung Rio. “Eeh… Ayah dan Ibu kenapa tidak menelponku??” Tanya Leni. “Kejutan..!!” seru Ibu Leni bersemangat. “Kau juga Rio?” Tanya Leni lagi. “Ini semua idenya Rio..” kata ayah Leni. “hahahaha. Ternyata kau juga ingat. Jadi tadi pagi itu kau pura-pura lupa??” kata Leni seakan ingin menjitak kepala Rio. “Iya.. Itu benar sekali. Seratus untukmu.” Rio menjulurkan lidahnya. “Ayo, tiup lilinya.” Ujar ibu Leni. Leni pun meniup lilin itu dan memohon sebuah permintaan. “Ooh ya! Ini kami membelikanmu alat-alat lukis baru. Punyamu kan sudah habis.” Kata Ayahnya. “Kalau dariku sudah tadi pagi kan ice creamnya. Anggap saja itu kado dariku.” Kata Rio nyengir. “Kamu ini..!” seru Leni. Leni benar-benar senang sekali. Ternyata yang ia pikirkan salah. Ternyata orang-orang di sekitarnya mengingat ulang tahunnya dan memeberikan kado istimewa untuknya. Ia benar-benar senang.