TEEN
DETECTIVES
“White
Lupin and The Light of Blue Stone”
DATA 1 : The
mysterious white man
Angin
berhembus begitu kencang di Kota Green. Pepohonan pun merunduk karena angin
yang berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun keluar di malam sepi dan berangin
itu. Cahaya bulan purnama terang menghiasi langit malam yang gelap nan kelam
itu. Kala itu, Mike, kolektor batu langka tengah terlelap.
WUUSSSSSHHHHHH!!
Angin bertiup
dengan kencang hingga membuat tirai jendela besar kediaman seorang kolektor
terkenal bernama Mike itu berkibar.
GREKK!!
Bayangan putih
turun dari langit malam dan tengah berdiri menatap ruangan milik Mike yang
sepi. Bagaimana tidak? Sang pemilik tengah terlelap.
“Khukhukhu……”
bayangan putih itu pun berjalan dengan sangat tenang dan tanpa rasa takut
menuju ruang koleksi batu-batu langka.
“Ini dia…. Kali
ini, cahaya birumu akan sirna bersamaan dengan ditelannya bulan oleh sang
kegelapan.” Bayangan putih itu tiba-tiba
saja menghilang secepat kilat, bersamaan dengan itu ,secarik kertas tertinggal
di dalam kaca penyimpanan batu itu.
Keesokan harinya
Pagi yang cerah
menghiasi Kota Green yang barusaja dihampiri oleh tiupan angin kencang. Pagi
ini berbeda, tak ada angin. Hanya hawa pagi saja yang terasa. Tak terkecuali 4
anak bersahabat ini. Ya, Rinka, John, Naima dan Valen.
“Berbeda sekali
dengan semalam yang anginnya seperti ingin mengangkat rumah.” Ujar Naima pada
Rinka.
“Yah, bersyukurlah
rumahmu tak terangkat oleh angin semalam.” Kata Rinka.
“Kalau seandainya
begitu juga tidak apa. Kita bisa terbebas dari kebodohan Naima Danna.” Ejek
Valen.
“Valeeeeennnn……!!!”
seru Naima yang tengah bersiap meluncurkan jitakan spesial pada Valen.
“Hentikan itu.
Kalian akan bertengkar sepanjang hari….” Komentar John menyipitkan mata.
“Ayolah…
Setidaknya hilangkan sikap dinginmu itu, John. Kau bisa membeku karena itu.”
sahut Naima.
“Terserah….” Jawab
John.
Ketika mereka tengah asik
membicarakan hal –hal yang menarik, pandangan mereka tertuju pada sebuah rumah
yang tak asing bagi mereka dikerumuni 3 mobil patroli. Mereka pun menghampiri
rumah bergaya Eropa itu.
“Ada apa ini?”
Tanya Valen.
“Ahh…. Rupanya
kalian?” sapa seorang pria berkumis dengan badan gemuk.
“Paman Mike, ada
apa?” Tanya Naima.
“Hmm…… Blue Stone
dicuri. Kelihatannya tadi malam. Tapi, bahkan tak ada tanda-tanda pencuri
masuk. Bahkan bekas congkelan ataupun pecahan kaca pun tidak ada.” Jelas Mike
dengan nada agak lirih.
“Pencuri
professional.” Komentar Valen.
“Apa benar tidak
ada bukti sama sekali?” Tanya John.
“Tidak….-“ belum
selesai Mike berbicara, mereka mendengar suara seorang opsir yang berteriak.
“Inspektur!! Kami
menemukan sesuatu!!” seru pria dengan tinggi kira-kira 170cm itu.
“Ada apa, Ron?”
Tanya seorang pria di depannya.
“Secarik kertas.
Kelihatannya tersangka pencurian ini sudah ditetapkan.” Ujar Ron.
“White Lupin?”
Tanya Inspektur.
“Iya, benar
Inspektur Ryu.” Jawab Ron.
“Paman Ryu?”
panggil Rinka.
“Oh, Rinka… Wah
kebetulan kalian di sini.” Jawab Ryu.
“Iya, jadi
pelakunya siapa?” Tanya Rinka to the
point.
“Di kertas ini
tertulis White Lupin.” Jawab Ryu sambil menunjukkan secarik kertas.
“Ehh? White Lupin?
Siapa dia?” Tanya Naima.
“Hahh…. Dia
pencuri professional yang mencuri benda-benda langka. Dan ia selalu mengenakan
pakaian putih. Itu sebabnya dijuluki ‘White Lupin’….” Jelas Valen panjang
lebar.
“Oohh….”
“Boleh kulihat
tulisan di kertas itu, paman?” Tanya John.
“Yeah… Silahkan.”
Ujar Ryu menyodorkan secarik kertas.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan
dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan
tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang.
Kotak berlian akan menhiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan
burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“A….Apa-apaan
itu?” Tanya Valen.
“Apa
maksudnya? Cahaya biru?” Tanya Naima.
“Konon,
Blue Stone dapat memancarkan cahaya biru ketika malam hari. Tapi memang
terlihat berkilau ketika malam hari. Mungkin begitu maksudnya.” Sela Mike.
“Eh?”
‘Cahaya
Blue Stone? Menghilangnya bulan? Sinar memanjang? Burung putih?’ ujar John
dalam hati.
“Hei,
John… Apa yang kita pikirkan sama?” Tanya Rinka.
“Mungkin.
Kurasa juga begitu. Kelihatannya di antara kata dalam surat ini mengandung
sebuah petunjuk penting.” Ujar John tersenyum.
“Hmm….
Kelihatannya kita akan melakukannya hari ini. Benar kan?” tebak Valen.
“Kau
benar, Valen.” Sambung Naima.
“Yeah,
ini akan menarik.” Timpal John.
~TO BE CONTINUE~
>ZULAIKHAH<