TEEN
DETECTIVES Special
“ Mimpi
Buruk “
Langit siang hari
yang begitu cerah dengan teriknya sinar matahari membuat semua orang di
bawahnya merasakan dahaga yang tak tertahankan. Naima, Rinka, John dan Valen
yang berada di taman pun mulai tak tahan dengan keadaan itu.
“Haus….” rintih
Valen sambil memegangi lehernya.
“Beli minum. Haus
kenapa pakai laporan segala?” sahut Naima. Kali ini Valen tak berniat untuk
bertengkar lagi dengan Naima karena kehausannya.
“Sudahlah. Hei,
ayo kita beli minum di seberang sana!” ajak Rinka sambil menunjuk sebuah toko
kecil. Mereka pun pergi ke sana dan membeli minum.
“Huaaahh…
Leganyaaaa….!!” seru Valen lalu melempar botol minuman ke tempat sampah.
“Secepat itu kau
habiskan minum?” tanya Naima cengo.
“Valen memang
kalau minum seperti unta. Jadi tak perlu terkejut begitu.” tutur John.
“Kau menghina atau
menjatuhkanku, John?” Valen melirik John yang sedang minum.
“Kau mau yang
mana? Dijatuhkan atau dihina? Dua-duanya pun tak apa kalau kau mau.” Jawab John
enteng.
“Dasar!”
Setelah mereka
minum, mereka berniat jalan-jalan entah kemana. Ketika mereka melewati depan
gedung ‘Danna Corporation’, Naima
mengajak mereka ke sana karena papanya sedang senggang.
“Hei, ayo ke
kantor Papa?” ajak Naima.
“Untuk apa?” tanya
Valen.
“Papa bilang ada
yang menarik. Jadi kita ke sana bagaimana?” ajak Naima sekali lagi. Mereka pun
masuk ke bangunan pencakar langit itu.
“Aneh…” kata
Naima.
“Kenapa?” tanya
John.
“Lobby ini terlalu sepi dan tidak ada
pegawai sama sekali,” jawab Naima.
“Mungkin mereka
sedang makan siang. Ini masih jam makan siang,” kata Valen.
“Mungkin juga. Ayo
ke ruangan Papa,” ajak Naima. Mereka memasuki lift dan menuju ke lantai 4 ruangan Papa Naima berada.
“Sepi sekali?”
tanya Valen.
“Entahlah….,”
jawab Naima.
CKLEK
“Papa……,” panggil
Naima. Tapi di ruangan itu pun kosong, tak ada siapa pun.
“Kemana semua
orang?” tanya Rinka. Tak lama kemudian, mereka mendengar beberapa orang
berbicara di luar ruangan.
“Kalian segera bawa mereka ke ruang utama.
Kumpulkan mereka. Dan kau, menuju ke brankas. Ambil semua barang penting.”
“Apa Direktur perusahaan ini sudah kau
urus?”
“Dia ada di ruang utama bersama para
pegawai yang kami sandera,”
“Bagus! Kerjakan apa yang kukatakan tadi,”
Begitulah
percakapan yang mereka dengar.
“A..Apa?!” seru
Naima.
“Ssstt…. Diamlah.”
Valen membungkan mulut Naima.
“Kelihatannya
perusahaan ini dirampok seperti yang mereka katakan tadi,” tutur John.
“Dan mereka
disekap di ruang utama, lalu ada yang menuju brankas,” sambung Rinka.
“Jadi, bagaimana?”
tanya John pada Naima.
“Ayo selamatkan
Papa!” jawab Naima tegas.
“Sebelum itu,
Naima dimana tempat brankas?” tanya John.
“Di lantai 4 ini.
Aku tahu tempatnya.” Jawab Naima.
“Baiklah, ayo ke
sana.”
Mereka pun
mengikuti Naima sambil berusaha bersembunyi dari perampok-perampok itu.
“Di sini!” seru
Naima. Seorang perampok menoleh. Mereka segera sembunyi di dekat toilet.
Perampok itu pun pergi.
“Fuuhh… aman.
Kelihatannya di dalam ruang brankas itu ada orang,” kata Valen.
“Tentu saja.
Mereka sedang mengambil barang-barang penting,” sahut John.
Mereka pun membuka
pintu dengan perlahan. Ada satu orang di sana. Tanpa basa-basi, John memukul
tengkuk pria di depannya itu.
BRUGH
Pria itu ambruk.
“Wow, sekali
pukulan langsung strike,” Naima
memuji.
“Mari kita lihat,”
John merogoh saku pria yang pingsan di depannya itu.
“Hmm…. Untuk apa
ponsel itu?” tanya Valen.
“Kita bisa mencari
info jika ia pernah memanggil rekan sesama perampoknya,” jawab Rinka.
“Apa ini? Naga?”
ujar John.
“Mungkin itu nama
komplotan mereka,” kata Valen.
“Tadi, di baju
mereka terlihat ada gambar naga,” seu Naima lirih.
“Begitu ya? Pantas
saja ada banyak. Hmm….. 10 orang ya?” John membawa ponsel itu.
“Ada berapa
orang?” tanya Rinka.
“Kira-kira 10
orang yang ada di ponsel ini. Tapi itu termasuk ketua mereka atau tidak aku
belum tahu,” jelas John.
“Yang jelas kita
harus menuju ke ruang utama untuk menyelamatkan Papa Naima dan yang lain kalau
bisa,” kata Valen. Mereka pun menuju ke ruang utama yang ada di lantai 2.
“Beruntung sekali
ketika kita datang tak ada yang menyadari,” kata Valen.
TING
Pintu lift pun terbuka. Ketika di depan lift mereka telah disambut oleh 2 orang
perampok
“Wah, ada anak
kecil di sini?”
“Kalian sebaiknya
ikut dengan kami!”
“Wah, sambutan
buruk,” komentar Valen.
“He..Hei.. Tunggu
dulu!” seru Naima.
“Serahkan pada
kami!” John dan Valen pun menghajar mereka berdua.
“Hah, jangan
terkejut kalau mereka ahli bela diri,” kata Rinka.
“Bukankah, kau
juga?” tanya Naima.
“Hmm…. “
“Bocah kurang
ajar!! Beraninya kauu!!!”
BUAGH
Valen memukul
perut salah satu perampok itu dan menendangnya hingga terpental lalu menatap
tembok di dekatnya. Satu orang beres.
“Mau kemana kau!!”
seru perampok yang lain.
JDUAKK BRAKK
PRANGG
John memukul orang
itu dan menendangnya hingga mengenai meja dan memecahkannya. Dua orang beres.
“Fuhh….”
“Ayo!” ajak Valen.
“Ruang utama masih
cukup jauh dari sini. Kurasa aka nada orang yang menjaga lagi,” kata Naima
mengingatkan. Mereka berbelok ke kanan.
“Hahahahahahahaha!!
BINGO!!” kali ini ada 1 orang.
KRETEK BRUAKK
Rinka memutar
tangan pria itu dan memukul perutnya. John menambahi dengan memukul punggungnya
dengan siku. Satu lagi beres.
“Tinggal 6 orang
lagi..,” ujar Valen.
“Dimana ruang
utama?” tanya Rinka.
“Masih lurus lalu
belok kiri setelah itu lurus lagi dan ada tepat di depan sana,” jelas Naima.
“Tapi sebelum itu
kelihatannya kita disambut lagi…,” kata Valen.
“Ohh tidak….!! Aku
tidak bisa karate..” rutuk Naima.
“Kau kira kami
akan membiarkannya?” tanya Rinka.
“Tapi…”
Benar perkataan
Valen. Ketika belok ke kiri ada 2 orang menunggu. Kali ini mereka terlihat
berbadan lebih besar.
“Secara fisik
mereka membuat lawan mereka down
sebelum bertarung,” ujar Naima.
“Ada tikus – tikus
kecil rupanya…,” kata salah seorang dari 2 pria berbadan kekar itu. Salah satu
pria itu datang dan menyerang mereka. Ketika pria itu berlari, Valen dengan
sengaja meluruskan kakinya untuk menjegal pria itu.
BRUGGHH
Tepat sasaran.
“Hati-hati
langkahmu, Tuan,” ejek Valen.
“Bocah kurang
ajar!!” pria itu bangkit dan mencoba menangkap mereka.
JDUAKK
Rinka menendang
pria itu.
“Uhh, badannya
seperti beton. Keras sekali!” seru Rinka.
“Tentu saja! Lihat
saja tubuhnya yang berotot itu, Rinkaaaa......,” seru Naima.
“Valen, awas!!”
Naima berseru lagi. Pria kekar yang satu lagi menyerang.
“Kalian takkan
bisa lari!!” Pria itu menyerang Valen.
To Be Continue
Penasaran?? Enggak
ya? (_ _)” Daripada saya pundung sendiri lebih baik saya sudahi. Baca
lanjutannya, okeh??
Jaa ne~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar