Spin

Sabtu, 14 April 2012

T.D. Special #1


TEEN DETECTIVES Special
“ Mimpi Buruk “

Langit siang hari yang begitu cerah dengan teriknya sinar matahari membuat semua orang di bawahnya merasakan dahaga yang tak tertahankan. Naima, Rinka, John dan Valen yang berada di taman pun mulai tak tahan dengan keadaan itu.
“Haus….” rintih Valen sambil memegangi lehernya.
“Beli minum. Haus kenapa pakai laporan segala?” sahut Naima. Kali ini Valen tak berniat untuk bertengkar lagi dengan Naima karena kehausannya.
“Sudahlah. Hei, ayo kita beli minum di seberang sana!” ajak Rinka sambil menunjuk sebuah toko kecil. Mereka pun pergi ke sana dan membeli minum.
“Huaaahh… Leganyaaaa….!!” seru Valen lalu melempar botol minuman ke tempat sampah.
“Secepat itu kau habiskan minum?” tanya Naima cengo.
“Valen memang kalau minum seperti unta. Jadi tak perlu terkejut begitu.” tutur John.
“Kau menghina atau menjatuhkanku, John?” Valen melirik John yang sedang minum.
“Kau mau yang mana? Dijatuhkan atau dihina? Dua-duanya pun tak apa kalau kau mau.” Jawab John enteng.
“Dasar!”
Setelah mereka minum, mereka berniat jalan-jalan entah kemana. Ketika mereka melewati depan gedung ‘Danna Corporation’, Naima mengajak mereka ke sana karena papanya sedang senggang.
“Hei, ayo ke kantor Papa?” ajak Naima.
“Untuk apa?” tanya Valen.
“Papa bilang ada yang menarik. Jadi kita ke sana bagaimana?” ajak Naima sekali lagi. Mereka pun masuk ke bangunan pencakar langit itu.
“Aneh…” kata Naima.
“Kenapa?” tanya John.
Lobby ini terlalu sepi dan tidak ada pegawai sama sekali,” jawab Naima.
“Mungkin mereka sedang makan siang. Ini masih jam makan siang,” kata Valen.
“Mungkin juga. Ayo ke ruangan Papa,” ajak Naima. Mereka memasuki lift dan menuju ke lantai 4 ruangan Papa Naima berada.
“Sepi sekali?” tanya Valen.
“Entahlah….,” jawab Naima.
CKLEK
“Papa……,” panggil Naima. Tapi di ruangan itu pun kosong, tak ada siapa pun.
“Kemana semua orang?” tanya Rinka. Tak lama kemudian, mereka mendengar beberapa orang berbicara di luar ruangan.
“Kalian segera bawa mereka ke ruang utama. Kumpulkan mereka. Dan kau, menuju ke brankas. Ambil semua barang penting.”
“Apa Direktur perusahaan ini sudah kau urus?”
“Dia ada di ruang utama bersama para pegawai yang kami sandera,”
“Bagus! Kerjakan apa yang kukatakan tadi,”
Begitulah percakapan yang mereka dengar.
“A..Apa?!” seru Naima.
“Ssstt…. Diamlah.” Valen membungkan mulut Naima.
“Kelihatannya perusahaan ini dirampok seperti yang mereka katakan tadi,” tutur John.
“Dan mereka disekap di ruang utama, lalu ada yang menuju brankas,” sambung Rinka.
“Jadi, bagaimana?” tanya John pada Naima.
“Ayo selamatkan Papa!” jawab Naima tegas.
“Sebelum itu, Naima dimana tempat brankas?” tanya John.
“Di lantai 4 ini. Aku tahu tempatnya.” Jawab Naima.
“Baiklah, ayo ke sana.”
Mereka pun mengikuti Naima sambil berusaha bersembunyi dari perampok-perampok itu.
“Di sini!” seru Naima. Seorang perampok menoleh. Mereka segera sembunyi di dekat toilet. Perampok itu pun pergi.
“Fuuhh… aman. Kelihatannya di dalam ruang brankas itu ada orang,” kata Valen.
“Tentu saja. Mereka sedang mengambil barang-barang penting,” sahut John.
Mereka pun membuka pintu dengan perlahan. Ada satu orang di sana. Tanpa basa-basi, John memukul tengkuk pria di depannya itu.
BRUGH
Pria itu ambruk.
“Wow, sekali pukulan langsung strike,” Naima memuji.
“Mari kita lihat,” John merogoh saku pria yang pingsan di depannya itu.
“Hmm…. Untuk apa ponsel itu?” tanya Valen.
“Kita bisa mencari info jika ia pernah memanggil rekan sesama perampoknya,” jawab Rinka.
“Apa ini? Naga?” ujar John.
“Mungkin itu nama komplotan mereka,” kata Valen.
“Tadi, di baju mereka terlihat ada gambar naga,” seu Naima lirih.
“Begitu ya? Pantas saja ada banyak. Hmm….. 10 orang ya?” John membawa ponsel itu.
“Ada berapa orang?” tanya Rinka.
“Kira-kira 10 orang yang ada di ponsel ini. Tapi itu termasuk ketua mereka atau tidak aku belum tahu,” jelas John.
“Yang jelas kita harus menuju ke ruang utama untuk menyelamatkan Papa Naima dan yang lain kalau bisa,” kata Valen. Mereka pun menuju ke ruang utama yang ada di lantai 2.
“Beruntung sekali ketika kita datang tak ada yang menyadari,” kata Valen.
TING
Pintu lift pun terbuka. Ketika di depan lift mereka telah disambut oleh 2 orang perampok
“Wah, ada anak kecil di sini?”
“Kalian sebaiknya ikut dengan kami!”
“Wah, sambutan buruk,” komentar Valen.
“He..Hei.. Tunggu dulu!” seru Naima.
“Serahkan pada kami!” John dan Valen pun menghajar mereka berdua.
“Hah, jangan terkejut kalau mereka ahli bela diri,” kata Rinka.
“Bukankah, kau juga?” tanya Naima.
“Hmm…. “
“Bocah kurang ajar!! Beraninya kauu!!!”
BUAGH
Valen memukul perut salah satu perampok itu dan menendangnya hingga terpental lalu menatap tembok di dekatnya. Satu orang beres.
“Mau kemana kau!!” seru perampok yang lain.
JDUAKK BRAKK PRANGG
John memukul orang itu dan menendangnya hingga mengenai meja dan memecahkannya. Dua orang beres.
“Fuhh….”
“Ayo!” ajak Valen.
“Ruang utama masih cukup jauh dari sini. Kurasa aka nada orang yang menjaga lagi,” kata Naima mengingatkan. Mereka berbelok ke kanan.
“Hahahahahahahaha!! BINGO!!” kali ini ada 1 orang.
KRETEK BRUAKK
Rinka memutar tangan pria itu dan memukul perutnya. John menambahi dengan memukul punggungnya dengan siku. Satu lagi beres.
“Tinggal 6 orang lagi..,” ujar Valen.
“Dimana ruang utama?” tanya Rinka.
“Masih lurus lalu belok kiri setelah itu lurus lagi dan ada tepat di depan sana,” jelas Naima.
“Tapi sebelum itu kelihatannya kita disambut lagi…,” kata Valen.
“Ohh tidak….!! Aku tidak bisa karate..” rutuk Naima.
“Kau kira kami akan membiarkannya?” tanya Rinka.
“Tapi…”
Benar perkataan Valen. Ketika belok ke kiri ada 2 orang menunggu. Kali ini mereka terlihat berbadan lebih besar.
“Secara fisik mereka membuat lawan mereka down sebelum bertarung,” ujar Naima.
“Ada tikus – tikus kecil rupanya…,” kata salah seorang dari 2 pria berbadan kekar itu. Salah satu pria itu datang dan menyerang mereka. Ketika pria itu berlari, Valen dengan sengaja meluruskan kakinya untuk menjegal pria itu.
BRUGGHH
Tepat sasaran.
“Hati-hati langkahmu, Tuan,” ejek Valen.
“Bocah kurang ajar!!” pria itu bangkit dan mencoba menangkap mereka.
JDUAKK
Rinka menendang pria itu.
“Uhh, badannya seperti beton. Keras sekali!” seru Rinka.
“Tentu saja! Lihat saja tubuhnya yang berotot itu, Rinkaaaa......,” seru Naima.
“Valen, awas!!” Naima berseru lagi. Pria kekar yang satu lagi menyerang.
“Kalian takkan bisa lari!!” Pria itu menyerang Valen.


To Be Continue

Penasaran?? Enggak ya? (_ _)” Daripada saya pundung sendiri lebih baik saya sudahi. Baca lanjutannya, okeh??

Jaa ne~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar