Spin

Sabtu, 10 Maret 2012

Story > Continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”
Continue        
DATA 3 : White Man and Blue Stone

“APA?!!! Jadi kalian sudah mendapatkan petunjuk di mana munculnya White Lupin dan Blue Stone?” tanya Ryu.
“Kira-kira begitu.” Jawab John singkat.
“Baiklah kita akan ke sana malam ini. Terima kasih untuk kalian.” Ujar Ryu.
Mereka pun segera menuju tempat yang telah diberitahukan oleh John. Tempat yang ingin diberitahukan oleh White Lupin.

Malam cerah yang disinari oleh bulan purnama benar-benar indah. Sang bulan menampakkan sinarnya.
“Di saat inilah, Blue Stone akan bersinar…” kata Mike.
“Kita akan temukan batu kesayangan paman itu..” ujar Naima menenangkan.
“Iya.” Jawab Mike.
Nampak 5 mobil patrol berjaga di depan Green Tower yang menjulang tinggi. Beberapa polisi pun menjaga di depan pintu dan banyak orang menyaksikan di bawah. Inspektur Ryu, Opsir Ron, Mike, John, Valen, Rinka dan Naima berada di dalam tower.
“Apa sudah terlihat, Naima?” tanya John pada Naima yang sedang meneropong melalui jendela tower.
“Belum. Lagipula bulannya masih terlihat sangat terang.” Jawab Naima yang masih terus meneropong.
“Kau jangan hanya melihat bulan saja! Lihat yang datang!!” sahut Valen.
“Iya iya…. Dasar cerewet.” Balas Naima.
“Apa benar ini tempatnya? Jika salah, ini akan berantakan.” Tanya Ron.
“Aku percaya pada mereka.” Jawab Ryu.
Sekitar 25 menit mereka mengawasi, akhirnya sang bulan mulai tertutup awan.
“Bulannya mulai tertutup awan!” seru Naima.
“Baiklah, semua bersiap!” ujar Ryu.

WUSSSSSHHHH

“Wah, tak kusangka mereka berada di tempat dan waktu yang benar. Kelihatannya ada penunjuk jalan di sini. Siapa ya? Aku jadi semakin tertarik untuk melihat apa kejutan orang-orang di bawah.”
Bayangan putih seperti burung yang terbang di atas langit malam dan tepat di atas tower itu mulai menurunkan ketinggian.
“Hmmm…….. Menarik.”

CKLAK KLAK KLAK

Beberapa lampu sorot berukuran besar diarahkan pada puncak tower untuk menyinari sang White Lupin.
“Wah, kejutan besar.”
“White Lupin, kau terkepung! Kau tak bisa lari dari kami! Serahkan kembali Blue Stone.” seru Ron menggunakan megaphone di bawah.
“Tenang, aku akan menyerahkannya. Tapi, aku akan menunjukkan sedikit pertunjukan.” Ujar White Lupin. Tak lama kemudian, beberapa polisi berada di puncak tower mengelilingi White Lupin dengan menodongkan pistol.
“Wah wah….. Baiklah. Apa kalian masih bisa melawan jika begini?” White Lupin langsung membuka sayap belakang bajunya dan yang terlihat hanya kepala dan tangannya saja. Badannya seakan menghilang.
“A..Apa-apaan itu? Kemana badannya?”
“Fufufu…. Sampai jumpa..!” White Lupin langsung berlari melewati mereka.

PRANG!!

Ternyata hilangnya badan White Lupin hanyalah sebuah trik kaca. Badannya terlihat lagi karena kaca penutup sudah pecah. White Lupin segera memunculkan hangglider-nya dan terbang.
“Dia kabur!!”
“Wah, kelihatannya tidak seru kalau begini. Lebih baik aku tinggalkan saja batu ini. Lagipula untuk apa jika kumiliki?” White Lupin menuju ke sebuah pohon besar dan meletakkan kotak berisi Blue Stone di atasnya. Ia pun turun dan menghilang lagi.
“Kemana dia?” tanya Ron.
“Menghilang. Tapi Pak, Blue Stone ada di atas pohon.” Jelas seorang polisi.
“Cepat ambil!” ujar Ron.
‘Dengan begini mereka takkan bisa menangkapku.’
“White Lupin…..” seru suara dari balik gang kecil.
“Ah… Jadi kalian penunjuk jalannya ya?”
“Benar..” kata John.
“Memang kami.” Sambung Valen. Mereka berempat kini berada di depan White Lupin yang mengenakan jaket hitam.
“Aku ingin tahu bagaimana kalian bisa menemukan tempat itu?” tanya White Lupin.
“Ya, di suratmu ada petunjuk. Yang pertama ‘sirnanya bulan’ bukan berarti akhir bulan, tapi ketika bulan tertutup awan. Lalu ‘sinar memanjang’ yang artinya lampu Green Tower yang terlihat memanjang.” Jelas John.
“Kotak berlian berarti toko perhiasan.” Sambung Valen.
“Dan burung putih artinya kau yang terbang menggunakan hangglider mu itu.” Tambah Rinka.
“Hahahaha…… Kalian cukup menghibur. Dan bagaimana kalian bisa tahu aku lewat jalan ini?” tanya White Lupin lagi.
“Karena kau tiba-tiba menghilang. Jadi, aku rasa kau menyamar dan membaur dengan kerumunan orang, lalu berlari berlawanan arah dengan arah kau terbang agar tidak dicurigai polisi sebagai White Lupin.” Jelas Valen.
“Kalian memang menarik. Baiklah, kita berjumpa lain kali. Sampai jumpa…” tiba-tiba White Lupin menhilang.
“Eh? Kemana dia?” tanya Naima.
“Sebaiknya sekarang kita mendatangi Paman Mike. Aku rasa dia sedang bahagia karena Blue Stone kembali. Dan mungkin kita bisa melihat sinar Blue Stone yang terkenal itu..” ajak Rinka.
“Ayoo…!!”

~THE END~
>ZULAIKHAH<

Minggu, 04 Maret 2012

Story >continue


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”

Continue….
DATA 2 : Meaningfull Letter

John, Rinka, Valen dan Naima membantu penyelidikan hilangnya ‘Blue Stone’ yang konon dapat memancarkan sinar biru ketika malam, terutama di bawah sinar bulan purnama.
“John, bisa aku lihat surat itu?” tanya Ryu.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang. Kotak berlian akan menghiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“White Lupin ya? Aku sama sekali tak tahu maksud surat ini. Kelihatannya ia sengaja menaruh surat ini untuk membingungkan polisi.” Ujar Ryu.
“WHITE LUPIN HARUS SEGERA DITANGKAP!!!” seru seorang pria berkumis kotak.
“Apa yang anda katakan Inspektur Aron?” tanya Ryu.
 “Tak apa. Tapi, ini adalah tugasku untuk menangkap pencuri itu. Karena hanya akulah yang bisa Hahahahahaha…” seru Aron dengan bangganya.
“Inspektur yang terlalu percaya diri.” Bisik Valen pada John.
“Apa-apaan itu.” Timpal Naima sambil menatap Inspektur Aron seakan berkata ‘Bodoh’.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Aron.
“Ng.. Omong-omong Paman Ryu, bagaimana kesimpulannya?” tanya John.
 “Hmm… Itu……,-“ belul selesai Ryu melanjutkan, Aron menyela.
“Itu berarti, kita tunggu sampai tak ada bulan yang berarti akhir bulan ini!” serunya dengan bangga lagi.
“Apa maksud anda? Mungkinkah selama itu? Ini baru saja awal bulan.” Bantah Ryu.
“Iya. Lalu bagaimana anda menjelaskan tentang ‘sinar memanjang’ dan ‘burung putih’ ?” tanya Rinka.
“I..Itu…” jawab Aron tergagap.
“Tapi yang jelas itu akhir bulan ini, titik!!” lanjutnya lagi tak mau kalah.
“Inspektur payah.” Komentar Naima.
“Apa katamu, bocah?!!” bentak Aron.
“Kelihatannya kami tak bisa mempercayai kesimpulan anda barusan. Karena itu sangat mustahil. “ sela Ryu.
“Ya, perkataan Paman Ryu benar.” sambung John.
“Kalian ini masih bocah. Kalian tahu apa tentang penyelidikan dan kriminal?” tanya Aron meremehkan.
“Kau jangan remehkan mereka, Aron. Mereka anak-anak kepercayaanku. Selain itu, mereka mengerti banyak tentang kasus.” Jelas Ryu.
 “Daripada itu, sebaiknya kita segera mencari tahu apa maksud surat ini. Benar kan Paman Ryu?” usul John.
‘Lagi-lagi dia mengabaikanku..’ gerutu Aron yang terlihat kesal dengan tingkah John.

Kepolisian Kota Green.
“Bagaimana ini, Ron?” tanya Ryu pada bawahannya.
“Kami masih belum bisa memastikannya.” Jawab Ron.
“Baiklah, kita harus segera mencari tahu maksud surat itu. White Lupin sangat licik. Dia bahkan sangat pintar.” Ujar Ryu.

Sore hari di Green Park.
“Hei, bagaimana menurutmu tentang surat itu?” tanya Valen.
“Hah….. Aku masih belum tahu.” Jawab John.
“Hei, Rin. Kau kan paling jago soal memecahkan kode. Jadi apa maksud surat itu?” tanya Naima.
“Apa ya? Entahlah… Aku belum bisa menangkap sesuatu.” Jawab Rinka sambil memainkan bunga mawar di depannya.
“Omong-omong apa maksudnya ‘sinar memanjang’, ‘burung putih’ , dan ‘sirnanya bulan’ ?” tanya Naima.
“Entah..Tapi, mana ada burung putih yang terbang pada malam hari? Sinar memanjang di malam hari juga apa ? Kalau lampu yang berkelip-kelip memanjang masih ada.” Kata Valen.
‘Eh? Lampu memanjang?’ batin John.
“Tapi mungkin di dalam surat itu tersirat tempat dan waktunya, tapi kita tidak menyadarinya.” Ujar Naima.
“Tapi, kalau kita menurut perkataan inspektur aneh itu, apa kita harus menunggu sampai akhir bulan ini? Kurasa mustahil. Mungkin ketika akhir bulan ini, Blue Stone sudah dijual di pelelangan.” Tambah Valen.
“Jadi apa maksudnya bersama sirnanya bulan? Apa ketika bulan tidak terlihat karena tertutup awan. Bukankah bulan sering terlihat menghilang ketika tertutup awan?” tanya Naima.
“ITU DIA!!” seru John dan Rinka bersamaan.
“Ah? Ada apa?” tanya Valen.
“Kalian berdua jenius. Itulah maksud surat itu.” Ujar Rinka.
“Maksudnya?” tanya Naima.
“Hanya tinggal satu yang belum terpecahkan. Apa maksud dari ‘kotak berlian’ dan ‘sinar memanjang’…” ujar John.
“Hei, mungkinkah itu toko perhiasan? Toko itu kan berada di dekat Green Tower yang mempunyai lampu memanjang dari atas ke bawah?” tanya Naima.
“Itu… Yeah… Kurasa Naima benar. Jadi malam ini, ya?” tanya Rinka.
“Malam ketika sang bulan ditelan gelap malam.” Sambung John.
“Sinar memanjang yang menggantikan sinar Blue Stone.” Sambung Valen.
“Tapi, apa maksud ‘burung puitih’ ?” tanya Naima lagi.
“Kurasa aku tahu apa maksudnya. Rin, apa perkiraanmu juga sama denganku?” tanya John.
“Mungkin. Kurasa burung putih adalah White Lupin itu sendiri yang akan terbang di atas Green Tower.” Jawab Rinka.
“Tepat sekali! Sekarang, kita beritahu Inspektur Ryu. Tapi jangan beritahu inspektur aneh itu oke?” usul Valen.

Malam harinya…..
“Hmm…… Angin bertiup dengan lembut, membuatku tidak tahan mengelabuhi para polisi itu. Aku yakin mereka mengira ini akhir bulan ini. Fufufu….. Baiklah, waktunya beraksi.”
WUSSSSHHHHH



~TO BE CONTINUE~

>ZULAIKHAH<

Jumat, 24 Februari 2012

Story


TEEN DETECTIVES
“White Lupin and The Light of Blue Stone”
           
DATA 1 : The mysterious white man
Angin berhembus begitu kencang di Kota Green. Pepohonan pun merunduk karena angin yang berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun keluar di malam sepi dan berangin itu. Cahaya bulan purnama terang menghiasi langit malam yang gelap nan kelam itu. Kala itu, Mike, kolektor batu langka tengah terlelap.
WUUSSSSSHHHHHH!!
Angin bertiup dengan kencang hingga membuat tirai jendela besar kediaman seorang kolektor terkenal bernama Mike itu berkibar.
GREKK!!
Bayangan putih turun dari langit malam dan tengah berdiri menatap ruangan milik Mike yang sepi. Bagaimana tidak? Sang pemilik tengah terlelap.
“Khukhukhu……” bayangan putih itu pun berjalan dengan sangat tenang dan tanpa rasa takut menuju ruang koleksi batu-batu langka.
“Ini dia…. Kali ini, cahaya birumu akan sirna bersamaan dengan ditelannya bulan oleh sang kegelapan.”  Bayangan putih itu tiba-tiba saja menghilang secepat kilat, bersamaan dengan itu ,secarik kertas tertinggal di dalam kaca penyimpanan batu itu.

Keesokan harinya
Pagi yang cerah menghiasi Kota Green yang barusaja dihampiri oleh tiupan angin kencang. Pagi ini berbeda, tak ada angin. Hanya hawa pagi saja yang terasa. Tak terkecuali 4 anak bersahabat ini. Ya, Rinka, John, Naima dan Valen.
“Berbeda sekali dengan semalam yang anginnya seperti ingin mengangkat rumah.” Ujar Naima pada Rinka.
“Yah, bersyukurlah rumahmu tak terangkat oleh angin semalam.” Kata Rinka.
“Kalau seandainya begitu juga tidak apa. Kita bisa terbebas dari kebodohan Naima Danna.” Ejek Valen.
“Valeeeeennnn……!!!” seru Naima yang tengah bersiap meluncurkan jitakan spesial pada Valen.
“Hentikan itu. Kalian akan bertengkar sepanjang hari….” Komentar John menyipitkan mata.
“Ayolah… Setidaknya hilangkan sikap dinginmu itu, John. Kau bisa membeku karena itu.” sahut Naima.
“Terserah….” Jawab John.
            Ketika mereka tengah asik membicarakan hal –hal yang menarik, pandangan mereka tertuju pada sebuah rumah yang tak asing bagi mereka dikerumuni 3 mobil patroli. Mereka pun menghampiri rumah bergaya Eropa itu.
“Ada apa ini?” Tanya Valen.
“Ahh…. Rupanya kalian?” sapa seorang pria berkumis dengan badan gemuk.
“Paman Mike, ada apa?” Tanya Naima.
“Hmm…… Blue Stone dicuri. Kelihatannya tadi malam. Tapi, bahkan tak ada tanda-tanda pencuri masuk. Bahkan bekas congkelan ataupun pecahan kaca pun tidak ada.” Jelas Mike dengan nada agak lirih.
“Pencuri professional.” Komentar Valen.
“Apa benar tidak ada bukti sama sekali?” Tanya John.
“Tidak….-“ belum selesai Mike berbicara, mereka mendengar suara seorang opsir yang berteriak.
“Inspektur!! Kami menemukan sesuatu!!” seru pria dengan tinggi kira-kira 170cm itu.
“Ada apa, Ron?” Tanya seorang pria di depannya.
“Secarik kertas. Kelihatannya tersangka pencurian ini sudah ditetapkan.” Ujar Ron.
“White Lupin?” Tanya Inspektur.
“Iya, benar Inspektur Ryu.” Jawab Ron.
“Paman Ryu?” panggil Rinka.
“Oh, Rinka… Wah kebetulan kalian di sini.” Jawab Ryu.
“Iya, jadi pelakunya siapa?” Tanya Rinka to the point.
“Di kertas ini tertulis White Lupin.” Jawab Ryu sambil menunjukkan secarik kertas.
“Ehh? White Lupin? Siapa dia?” Tanya Naima.
“Hahh…. Dia pencuri professional yang mencuri benda-benda langka. Dan ia selalu mengenakan pakaian putih. Itu sebabnya dijuluki ‘White Lupin’….” Jelas Valen panjang lebar.
“Oohh….”
“Boleh kulihat tulisan di kertas itu, paman?” Tanya John.
“Yeah… Silahkan.” Ujar Ryu menyodorkan secarik kertas.
Cahaya biru Blue Stone akan sirna bersamaan dengan menghilangnya bulan yang ditelan oleh gelap malam. Tapi, cahaya itu akan tergantikan dengan sinar memanjang yang selalu hadir di tengah keramaian orang. Kotak berlian akan menhiasi kilauan terakhir Blue Stone. Aku takkan lari dan burung putih akan terbang melewati langit malam di atas sinar memanjang.
White Lupin
“A….Apa-apaan itu?” Tanya Valen.
“Apa maksudnya? Cahaya biru?” Tanya Naima.
“Konon, Blue Stone dapat memancarkan cahaya biru ketika malam hari. Tapi memang terlihat berkilau ketika malam hari. Mungkin begitu maksudnya.” Sela Mike.
“Eh?”
‘Cahaya Blue Stone? Menghilangnya bulan? Sinar memanjang? Burung putih?’ ujar John dalam hati.
“Hei, John… Apa yang kita pikirkan sama?” Tanya Rinka.
“Mungkin. Kurasa juga begitu. Kelihatannya di antara kata dalam surat ini mengandung sebuah petunjuk penting.” Ujar John tersenyum.
“Hmm…. Kelihatannya kita akan melakukannya hari ini. Benar kan?” tebak Valen.
“Kau benar, Valen.” Sambung Naima.
“Yeah, ini akan menarik.” Timpal John.

~TO BE CONTINUE~

>ZULAIKHAH<

Minggu, 19 Februari 2012

Cerpen #2


KADO TERINDAH

Hujan turun dengan derasnya membasahi jalanan pagi di sebuah Kota yang cukup padat. Seorang gadis manis bernama Leni, bergidik kedinginan. Hawa dingin pagi yang bercampur dengan hujan menusuk kulitnya. Ia pun segera meraih jaket putih di balik pintu kamarnya. Leni adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia tinggal hanya bersama seorang pelayan di rumah gedongnya itu karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri.
Seperti bisaa, setelah sarapan ia berbincang sedikit dengan pelayan rumahnya. “Bi, apa ayah dan ibu mengirim surat atau telpon?” Tanya Leni pada seorang wanita yang ia panggil Bibi. “Sepertinya tidak.” Jawab wanita itu dengan lembut. Leni hanya mengangguk mengerti. Lalu, Leni memandangi kalender di dekat almari. Menunjukkan tanggal 12 Oktober. Ia menyunggingkan sebuah senyuman. Leni pun merebahkan badannya di sofa di depan televisi. Ia memandang ke arah jendela. Hujan masih belum mereda. Uap air hujan membuat kaca jendela tertutupi. Leni berjalan menuju ke jendela. Ia mengelap sebagian kaca jendela. ‘Hmmph….. Apa tidak ada yang ingat ya?’ tanyanya dalam hati. Leni kembali duduk di sofa dan menonton televisi untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Karena hujan, ia tidak bisa kemana mana di Hari Minggu ini.
Setengah jam kemudian, hujan reda. Leni masih duduk menonton televisi. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Leni beranjak dari sofa dan membuka pintu. “Bi, aku jalan-jalan sebentar ya..!” pamitnya lalu menghilang di balik pintu. Ia berjalan sambil menikmati suasana pagi. Ia berjalan menuju taman. Mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang menarik. Ketika ia berjalan di pinggir taman, ia melihat seorang anak kecil bersama kedua orang tuanya.  “Ibu, Ayah, nanti belikan aku sepeda ketika aku ulang tahun yaaa…..!!” seru anak kecil itu dengan riang. Kedua orang tuanya mengangguk dan tersenyum. Leni pun ikut tersenyum. Ketika ia berjalan, ia bertemu Rio temannya. “Hai, kenapa kau sendirian?” sapa Rio. “Hmm…. Tidak apa-apa. Kau mau kemana?” Tanya Leni. “Ooh… Aku mau membeli ice cream di sana. Mau ikut?” ajaknya. “Apa? Padahal dingin-dingin begini kau mau beli ice cream?” Leni mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa? Mau ikut tidak? Kalau tidak ya sudah…” tawarya sekali lagi. Leni mengangguk. Leni dan Rio memang sudah akrab. Karena mereka adalah teman masa kecil dan selalu satu sekolah.
Mereka pun menuju ke kedai Ice cream yang tak jauh dari taman. Rio menuju ke penjual ice cream itu dan memesan 2 ice cream double scoop. Tak lama setelah itu, Rio menyodorkan ice cream kepada Leni. “Ini..” kata Rio. “Mm… Untukku??” Tanya Leni menunjuk dirinya sendiri. “Bukan. Untuk bangku di sebelahmu itu. Tentu saja untukmu. Siapa lagi?” kata Rio menyipitkan matanya. “Terima kasih..” ujar Leni tersenyum. Mereka pun memakan ice cream sambil berjalan pulang. “Eh, Rio.. hari ini tanggal berapa sih?” Tanya Leni. “Hm..? 12 Oktober, hari Minggu. Memangnya kenapa?” Tanya Rion lalu kembali menjilati ice creamnya. “Apa kau tidak lupa sesuatu?” pancing Leni. “Lupa? Lupa apa?” Rio berbalik Tanya. “Entah. Sesuatu mungkin.” Leni masih belum menyerah. “Apa sih? Memang kenapa?” Rio masih menjilat ice creamnya tanpa menoleh kea rah lawan bicaranya. “Hmm… tidak apa-apa” kata Leni menunduk. ‘Dasar. Ternyata dia juga lupa. Huhh.!! Sahabat macam apa sih..??’ gerutu  Leni dalam hati. ‘Hahaha… maaf Leni. Ini kejutan. Tunggu saja nanti malam.’ Batin Rio tersenyum tipis. “Kenapa kau tersenyum? Ada yang lucu?” Tanya Leni. Rio menggeleng cepat. Leni mengernyitkan dahinya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Leni dan ice cream mereka pun telah habis. “Aku duluan ya…” pamit Leni melambai. “Ya.. Sampai jumpa.” Balas Rio. Leni pun masuk ke rumahnya. Ia Nampak kesal, benar-benar kesal. Bagaimana tidak? Karena tak seorang pun yang ingat akan ulang tahunnya yang ke 14. Benar-benar. Ia pun membuka pintu rumahnya.
“Aku pulang..!!” salamnya. Ia disambut pelayan wanita yang setia di rumahnya itu dengan senyuman. Leni hanya melenggang pergi menuju kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras. BLAM!! Leni menutup pintu kamarnya. Untung saja pintu itu kuat. Kalau tidak, entah apa jadinya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memasang earphone dan mendengarkan lagu yang bisa membuatnya lupa akan hal yang menyebalkan hari ini. Ia pun tertidur.
Sore harinya, Leni bangun dan segera mandi. Tak butuh waktu lama untuknya, ia sudah usai mandi. Ia keluar menuju beranda. Ia memandangi langit sore dan sang mentari yang bersiap untuk menghilang di balik gunung di ufuk barat. Leni memainkan hp-nya. Tak ada pesan ataupun telpon dari orang tuanya. Ia menghela nafas. Ia berpikir semua melupakan ulang tahunnya. Ia masuk ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dan memeluk boneka kesayangannya. Seakan ia berbicara dengan boneka kesayangannya. “Hmmph….. Bear. Kenapa tak ada yang ingat ulang tahunku ya??” tanyanya pada boneka beruangnya. Tentu saja takkan ada jawaban apapun karena boneka tak bernyawa. Ia mengelus bulu-bulu halus boneka itu. ia merebahkan tubuhnya lagi. Entah sudah yang keberapa kali.
Pukul 22.00, seseorang mengetuk pintu kamar Leni. Leni terbangun. Ia berdiri dan mencoba menyalakan lampu. Tapi lampunya tidak menyala. “Eeh?? Mati lampu? Siapa sih malam-malam begini?” tanyanya agak kesal. Terpaksa ia membuka pintu dengan sempoyongan dan hamper saja menabrak laci karena gelap. CKLEK!! Ia membuka pintu kamarnya. “HAPPY BIRTHDAYY..!!!!” seru kira-kira empat orang yang dilihat Leni. “KYAAAA!!!” teriaknya karena kaget. Seseorang menghidupkan saklarnya. Lampu pun menyala. Semua terlihat jelas. Ada ayah, ibu,  Rio dan pelayan rumahnya. Ibu Leni membawa sebuah kue tart coklat yang sudah ditancapi lilin berangka empat belas. “K..Kalian???” kata leni terbata-bata. Ia senang. Sangat senang. Pikirnya tadi tak ada yang ingat ulang tahunnya, ternyata tidak.
“Selamat ulang tahun Leni..!!” seru kedua orang tuanya. “Iya. Selamat ya…” sambung Rio. “Eeh… Ayah dan Ibu kenapa tidak menelponku??” Tanya Leni. “Kejutan..!!” seru Ibu Leni bersemangat. “Kau juga Rio?” Tanya Leni lagi. “Ini semua idenya Rio..” kata ayah Leni. “hahahaha. Ternyata kau juga ingat. Jadi tadi pagi itu kau pura-pura lupa??” kata Leni seakan ingin menjitak kepala Rio. “Iya.. Itu benar sekali. Seratus untukmu.” Rio menjulurkan lidahnya. “Ayo, tiup lilinya.” Ujar ibu Leni. Leni pun meniup lilin itu dan memohon sebuah permintaan. “Ooh ya! Ini kami membelikanmu alat-alat lukis baru. Punyamu kan sudah habis.” Kata Ayahnya. “Kalau dariku sudah tadi pagi kan ice creamnya. Anggap saja itu kado dariku.” Kata Rio nyengir. “Kamu ini..!” seru Leni. Leni benar-benar senang sekali. Ternyata yang ia pikirkan salah. Ternyata orang-orang di sekitarnya mengingat ulang tahunnya dan memeberikan kado istimewa untuknya. Ia benar-benar senang.

Sabtu, 28 Januari 2012

Band

Hai kawan..... Hmm....Saya ingin nge-post band yang saya suka beserta lagunya, tentunya. Hehehe.... Ini dia... Check this out

~AQUA TIMEZ~


Aqua Timez ini terdiri 5 anggota. Mari kita lihat, siapa saja anggotanya...

Vocal ==> Futoshi
Guitar ==> Daisuke
Bass   ==> OKP-STAR
Keyboard, piano ==>Mayuko
Drum ===> Tasshi


Cukup banya album yang telah dirilis seperti Utai Sarishi Hana, Sora Ippai ni kanaderu inori, Carpe Diem, dll

Diantara semua yang paling saya suka itu... Hmm..... 'Ginga Tetsudou no Yoru'. Lirik dan musiknya yang menghanyutkan bikin pengen dengerin terus. Ada satu lagi yang saya suka, judulnya 'One'.

Nah, saya mau bagi liriknya ini.....

Aqua Timez - Ginga Tetsudou no Yoru

hitoribocchi wo nosete yoru wo hashiru ressha
shasou kara mieru ieie no hakari
sono hitotsu hitotsu ni sorezore no yorokobi
sorezore ni kureru kanashimi ga aru
ai wa itami wo hoshigaru kara
mebaete mo sodateru no wa watayasukunai
sakaseru hodo toge ga sasu kara
omoi ga tsuyoi hodo omoidoori ni ikanai
te wo nobaseba te wo nobaseba
todoku youna ki ga shite
te wo nobasu hodo te wo nobasu hodo
kurayami wa fukaku nari hikari wa tsuyoku ...

kono yoru no shinjitsu ni kono yoru no shoutai ni
sukoshi zutsu kidzuki hajimete shimatta
mabushi sa ni subete wo mitsukasaretaku nakute
kurayami e to nige konda no wa dare ?
fukou ni naritai nante koto wo
negatteru hito wa inai no ni
mina shiawase ni naritai dake na no ni
ikiru koto wa mou meikyuu no you de
te wo nobaseba te wo nobaseba
todoku youna ki ga shite
te wo nobasu hodo te wo nobasu hodo
kurayami wa fukaku ...


motto tooku e motto tooku e
ikitakute houhou wo nurashi
motto tooku e motto tooku e
ikitakute ase wo furikitte susumu
mabuta no fura soko ni wa tada
mabushii hodo no ginga no umi
mada nan ni mo owattenai
mada hajimatte sae mo inai
ima ga subete subete ga ima
saa arukeru dake wo arukou
tohou mo nai utsukushi sa to
hirogari ni michita sekai wo ikiru

kaze no kutsu wo haite yume wo
oikakeru to kimeta hi no koto
wasuretenai umareta te no
hi no hikari no youna WAKUWAKU
mada konna ni mada konna ni
boku no kokoro wa yume wo mireru
jibun de sura fushigi na kurai
tashika na ashidori de kyou wo susumu

motto tooku e motto tooku e
motto tooku e


Aqua Timez - One

me o tojireba miete kuru tada hitotsu no hikari
sono hitotsu no tame ni ikite mitai no desu hachigatsu ni saku kiiroi hana no you ni
aruku nichiyoubi shikai no ryou waki ni wa midori aoi sora o wataru shiroi hikouki
sore wa kamisama ga egaita gakubuchi no nai kaiga mie kata wa kokoro shidai da
akumademo, bokura wa tenshi demo akuma demo nai hito de aru ga yue no yowasa ya
kawakanai kanashimi ya ikidoori ya fuan ga keshiki ni FURUTAA o kakeru
dare mo ga taisetsu ni sareta garu taisetsu ni shiyou to wa sezu
asa wa kuru tte dareka ga iu ga yoru wa nagai na mada sukoshi kowai na dakara koso
tatta hitotsu de ii no desu takusan de nakute ii no desu
daiji na mono wa kimi no soba de chiisaku kagayaiteru yo
tatta hitori de ii no desu oozei de nakute ii no desu
tada hitori no tame ni tsuyoku naritai to negau sore de ai na no dakara
hajimete jitensha ni noreta hi no you ni go kigen na emi ya tokuige na shisen wa
osanai hibi dake no mono ? sonna koto wa nai sa
tameiki no kazu ha zuibun to fueta kedo
ano koro ni wa kanji nakatta horonigai genjitsu o mae ni
kanashimi igai no nanika de tsunagaritai na
ikutsu mo no egao ga aru no desu sorezore ni subarashii no desu
irotoridori no hana ga hitotsu no hanataba ni naru you ni
itsuka kitto de ii no desu haruka na mirai de ii no desu
hanarebanare no bokura ga egao de tsunagaru koto ga dekimasu you ni
machigai nagara de ii no desu nigedasu yori ha ii no desu
yorokobi ji ni korobi sore de koso ajiwaibukai hibi sa
tatta hitotsu de ii no desu subete tsunagatte iru no desu
taisetsusa o shiru toki arayuru mono ga, hora…  irozuite yuku
me o tojireba miete kuru tada hitotsu no hikari
sono hitotsu no tame ni ikite mitai no desu
hachigatsu ni saku kiiroi hana no you ni.


Wah wah..... Kayaknya cukup itu dulu deh... Kapan-kapan kembali lagi dengan topik yang beda lagi....

See ya, Jaa ne~

  


Minggu, 08 Januari 2012

Pemandangan ^^


Ini dia gambar pemandangan lagi. Pemandangan indah selalu membuat tenang hati yang gundah . Benar kan??