TEEN
DETECTIVES
“White
Lupin and The Light of Blue Stone”
Continue
DATA 3 : White Man
and Blue Stone
“APA?!!! Jadi
kalian sudah mendapatkan petunjuk di mana munculnya White Lupin dan Blue
Stone?” tanya Ryu.
“Kira-kira
begitu.” Jawab John singkat.
“Baiklah kita akan
ke sana malam ini. Terima kasih untuk kalian.” Ujar Ryu.
Mereka pun segera
menuju tempat yang telah diberitahukan oleh John. Tempat yang ingin
diberitahukan oleh White Lupin.
Malam cerah yang
disinari oleh bulan purnama benar-benar indah. Sang bulan menampakkan sinarnya.
“Di saat inilah,
Blue Stone akan bersinar…” kata Mike.
“Kita akan temukan
batu kesayangan paman itu..” ujar Naima menenangkan.
“Iya.” Jawab Mike.
Nampak 5 mobil
patrol berjaga di depan Green Tower yang menjulang tinggi. Beberapa polisi pun
menjaga di depan pintu dan banyak orang menyaksikan di bawah. Inspektur Ryu,
Opsir Ron, Mike, John, Valen, Rinka dan Naima berada di dalam tower.
“Apa sudah
terlihat, Naima?” tanya John pada Naima yang sedang meneropong melalui jendela
tower.
“Belum. Lagipula
bulannya masih terlihat sangat terang.” Jawab Naima yang masih terus
meneropong.
“Kau jangan hanya
melihat bulan saja! Lihat yang datang!!” sahut Valen.
“Iya iya…. Dasar
cerewet.” Balas Naima.
“Apa benar ini
tempatnya? Jika salah, ini akan berantakan.” Tanya Ron.
“Aku percaya pada
mereka.” Jawab Ryu.
Sekitar 25 menit
mereka mengawasi, akhirnya sang bulan mulai tertutup awan.
“Bulannya mulai
tertutup awan!” seru Naima.
“Baiklah, semua
bersiap!” ujar Ryu.
WUSSSSSHHHH
“Wah, tak kusangka
mereka berada di tempat dan waktu yang benar. Kelihatannya ada penunjuk jalan
di sini. Siapa ya? Aku jadi semakin tertarik untuk melihat apa kejutan
orang-orang di bawah.”
Bayangan putih
seperti burung yang terbang di atas langit malam dan tepat di atas tower itu
mulai menurunkan ketinggian.
“Hmmm……..
Menarik.”
CKLAK KLAK KLAK
Beberapa lampu
sorot berukuran besar diarahkan pada puncak tower untuk menyinari sang White
Lupin.
“Wah, kejutan
besar.”
“White Lupin, kau
terkepung! Kau tak bisa lari dari kami! Serahkan kembali Blue Stone.” seru Ron
menggunakan megaphone di bawah.
“Tenang, aku akan
menyerahkannya. Tapi, aku akan menunjukkan sedikit pertunjukan.” Ujar White
Lupin. Tak lama kemudian, beberapa polisi berada di puncak tower mengelilingi
White Lupin dengan menodongkan pistol.
“Wah wah…..
Baiklah. Apa kalian masih bisa melawan jika begini?” White Lupin langsung
membuka sayap belakang bajunya dan yang terlihat hanya kepala dan tangannya
saja. Badannya seakan menghilang.
“A..Apa-apaan itu?
Kemana badannya?”
“Fufufu…. Sampai
jumpa..!” White Lupin langsung berlari melewati mereka.
PRANG!!
Ternyata hilangnya
badan White Lupin hanyalah sebuah trik kaca. Badannya terlihat lagi karena kaca
penutup sudah pecah. White Lupin segera memunculkan hangglider-nya dan terbang.
“Dia kabur!!”
“Wah, kelihatannya
tidak seru kalau begini. Lebih baik aku tinggalkan saja batu ini. Lagipula
untuk apa jika kumiliki?” White Lupin menuju ke sebuah pohon besar dan
meletakkan kotak berisi Blue Stone di atasnya. Ia pun turun dan menghilang
lagi.
“Kemana dia?”
tanya Ron.
“Menghilang. Tapi
Pak, Blue Stone ada di atas pohon.” Jelas seorang polisi.
“Cepat ambil!”
ujar Ron.
‘Dengan begini
mereka takkan bisa menangkapku.’
“White Lupin…..”
seru suara dari balik gang kecil.
“Ah… Jadi kalian
penunjuk jalannya ya?”
“Benar..” kata
John.
“Memang kami.”
Sambung Valen. Mereka berempat kini berada di depan White Lupin yang mengenakan
jaket hitam.
“Aku ingin tahu
bagaimana kalian bisa menemukan tempat itu?” tanya White Lupin.
“Ya, di suratmu
ada petunjuk. Yang pertama ‘sirnanya bulan’ bukan berarti akhir bulan, tapi
ketika bulan tertutup awan. Lalu ‘sinar memanjang’ yang artinya lampu Green
Tower yang terlihat memanjang.” Jelas John.
“Kotak berlian
berarti toko perhiasan.” Sambung Valen.
“Dan burung putih
artinya kau yang terbang menggunakan hangglider
mu itu.” Tambah Rinka.
“Hahahaha…… Kalian
cukup menghibur. Dan bagaimana kalian bisa tahu aku lewat jalan ini?” tanya
White Lupin lagi.
“Karena kau
tiba-tiba menghilang. Jadi, aku rasa kau menyamar dan membaur dengan kerumunan
orang, lalu berlari berlawanan arah dengan arah kau terbang agar tidak
dicurigai polisi sebagai White Lupin.” Jelas Valen.
“Kalian memang
menarik. Baiklah, kita berjumpa lain kali. Sampai jumpa…” tiba-tiba White Lupin
menhilang.
“Eh? Kemana dia?”
tanya Naima.
“Sebaiknya sekarang
kita mendatangi Paman Mike. Aku rasa dia sedang bahagia karena Blue Stone
kembali. Dan mungkin kita bisa melihat sinar Blue Stone yang terkenal itu..”
ajak Rinka.
“Ayoo…!!”
~THE END~
>ZULAIKHAH<


