Spin

Rabu, 11 April 2012

Story > End

Ini PART II dari cerita di bawah.. Enjoy reading ^^
'TEEN DETECTIVE' action ^o^ #bergaya seperti sutradara yang di pilem-pilem itu lhooo


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 6 : Pembalasan dendam yang gagal  (PART 2)

“Val!!” seru John.
“Kita berpencar bersama dua polisi ini.” sambungnya.
“Baiklah, untuk di belakang penginapan biar kami yang tangani. Dan yang lain…” kata salah seorang polisi.
“Aku akan ke bagian gudang sebelah timur. Lalu di dekat halte, kau, John.” kata Valen. Mereka segera berpencar.

Belakang penginapan
“Naimaaa!! Rinkaa!!!” panggil seorang polisi.
“Ayo kita sebaiknya masuk!” ujar polisi yang lain. Kedua polisi ini pun masuk.
BRAKK!!
Mereka mendobrak pintu itu dengan keras. Mereka menyisir seluruh bagian bangunan itu. Kosong.
“Kosong. Mereka tak di sini. Ayo kita berpencar. Kau ke tempat Valen. Aku akan menyusul John.” Kata salah satu dari mereka. Mereka pun berpencar lagi.

Gudang bagian timur
“Tempat ini benar-benar tertutup. Kelihatannya tak mungkin menyekap orang di sini. Tapi, mari kita lihat ada apa di dalam.” Valen memasuki gudang itu. Ia menyalakan senternya.
“Ini hanya gudang bekas percetakan. Kalau begitu….” Valen pun berlari keluar gudang dan bertemu dengan salah satu polisi.
“Ahh… Paman?” panggil Valen.
“Apa mereka ada?” tanya polisi itu.
“Tidak ada. Jika Paman ada di sini itu berarti hanya di tempat John ya?” Tanya Valen. Polisi itu mengangguk. Mereka bergegas menuju halte.

.
“Bagaimana ini, Rinka? Kita tak bisa keluar..” kata Naima.
“Apa kau punya jepit kecil?” tanya Rinka.
“Eh??” Naima tak mengerti maksud Rinka.
“Cepat..” kata Rinka. Naima memberikan jepitnya. Rinka segera membuka pintu itu dengan jepit itu.
“Apa akan berhasil?” Tanya Naima.
CKLEK!
“Berhasil!!” seru Naima. Rinka menghela nafas. Tapi, ketika mereka membuka pintu…
“Mau kemana kalian?” Tanya seorang wanita dengan sebuah pistol di depan mereka.
“O..Ohh.. Tidak..”
“Hm…. Mencoba kabur? Takkan berhasil.” ujar wanita itu tersenyum menyeringai.
CKLEK
Wanita itu mengunci pintunya lagi. Ia menodongkan pistol pada Rinka dan Naima.
“B..Bagaimana, Rinka…?”
“Tenanglah, Naima..”
“Kalian akan…….-“
“NAIMAAA!!!!! RINKAAA!!”
“Heh, mereka berhasil menemukan tempat ini, ya? Kelihatannya waktu penderitaan kalian akan tertunda.” Wanita itu pergi begitu saja dan meninggalkan sesuatu.

‘I..Itu…’
Benar saja, wanita itu meninggalkan gas tidur dan membuat Naima dan Rinka tertidur.

“Tak ada jawaban. Apa mungkin tidak di sini?” Tanya John.
“John..!!”
“A.. Paman?” kata John pada seorang polisi.
“Apa mereka di sini?”
“Entahlah, tapi….” John tidak melanjutkan kalimatnya.
TAP TAP
“Ternyata kau di sini, May Roselia…” sambung John. May muncul dari balik gelap malam.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang polisi.
“Saya hanya berjalan-jalan mencari udara segar.” Jawab May.
“Benarkah? Atau kau melihat keadaan kedua sanderamu?” tutur John tanpa basa-basi.
“Jadi kau menuduhku sebagai penculik? Benar-benar bodoh.” kata May mengelak.
“John? Apa maksudmu?”
“Ini…” John mengeluarkan kertas dari sakunya.
“Ini kertas yang tergeletak di tempat laki-laki pendek yang kau serang.” kata John.
“Apa?” May terbelalak ketika mendengar perkataan John.
‘Laki-laki itu tidak mati, huh?’
“Lihat baik-baik..” John mengangkat kertas itu ke atas dengan tulisan di depan. Karena sinar bulan, tanda ‘lebih dari’ yang terlihat menjadi ‘kurang dari’ jika dilihat dari arah sebaliknya menjadikan tulisan itu terbaca ‘Month A Yes’.
“Apa maksudmu?” tanya May lagi.
“Apa tidak aneh dengan tulisan ini? Huruf ‘A’ seharusnya ditulis dengan huruf kecil. Jika diangkat seperti ini dan terkena sinar bulan, coba kau baca saja huruf kapital di kertas ini sesuai arah ‘kurang dari’ yang kau lihat.” jelas John.
“M…May?” kata May.
“Ya, kau benar. Satu lagi, Dion memberitahuku kalau ia mendengar perkataan aneh darimu.” kata John lagi.
“Apa itu?”
“Setelah Pak Hito menerima telepon dari Inspektur, tak ada yang memberitahu kalau Rinka juga diculik. Yang kita ketahui hanyalah Naima yang diculik. Tapi kau menagatakan ‘Jadi, kedua gadis itu bagaimana?’ padahal Pak Hito belum mengatakan kalau Rinka diculik dan tak ada yang mengatakan padamu sebelumnya.” tutur John lagi.
“Jadi, jika aku pelakunya, bagaimana aku menculik Naima sedangkan aku berada di luar gua?” tanya May.
“Kau menyuruh laki-laki pendek itu dan ia berpura-pura ketika di luar gua.” Jawab John.
“Apa hubunganku dengan laki-laki yang tak bisa menjalankan tugas dengan baik itu? Dan kenapa aku harus menyerangnya?” tanya May lagi. John tertawa pelan.
“Apa ada yang lucu?”
“Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia tidak bisa menjalankan tugas dengan baik kalau kau tak mengenalnya? Kau menyerangnya mungkin karena kau tidak ingin membagi keuntungan jika saja kau mengancam Danna Gray, pemilik perusahaan besar itu supaya memberi tebusan untuk Naima, anaknya.” ujar John. May menggertakkan  giginya dan mengepalkan tangan.
“Lalu, bagaimana aku bisa menculik Rinka? Bahkan ketika pukul 11.00 tak ada yang hilang, kan?” tanya May.
“Mudah saja. Kau menggunakan cara licik karena kau tahu Naima adalah sahabat baik Rinka. Lalu dengan sedikit mengancam Rinka lalu membuatnya datang dengan sendirinya.” jelas John lagi.
“Satu lagi, kamera di depan kamar laki-laki pendek itu merekam kedatangan dan kepergianmu. Apa kau tak menyadarinya?” tukas John lagi.
“K..Kau… Huh, aku ketahuan ya?” kata May mengakui.
“Angkat tanganmu dan jangan bergerak!” seru seorang polisi yang bersama Valen.
“Valen?” tanya John.
“T..Tunggu, wanita itu… Di kakinya..!!” seru John. Wanita itu mengambil sesuatu dari kakinya.
“Kau cukup jeli sampai tahu aku menyembunyikan pistol ini di kakiku.” Kata May.
“Jika kalian, Polisi, tidak menjatuhkan pistol kalian aku akan membuat kedua anak itu tamat.” Ancam May.
“Kenapa… Kenapa kau lakukan ini?” tanya Valen.
“Kenapa? Kau tanya kenapa? Kalian yang membuat Henry masuk penjara!!” seru May sambil menodongkan pistol pada John dan Valen.
“Bukankah itu pantas karena ia mencoba membunuh atasannya?” kata Valen.
“Pantas katamu? Kau tak tahu bagaimana hidupku tanpanya..!!” seru May lagi.
“Dan terutama padamu, John!!” sambung May.
“Kau… Tidak, ayahmu yang membuat ayah Henry masuk penjara hingga ia mati di sana!!”
“Dia ya? Orang yang melakukan pembunuhan karena hutang dan ancaman?” kata John.
“Kalian membuat mereka dipenjara. Dan sekarang aku akan membalasnya pada kalian melalu dua teman yang kalian sayangi itu.” ujar May.
“T..Tunggu!” seru Valen.
“Jika kalian ingin mereka selamat, ikutlah denganku kalian berdua. Kalian polisi tetaplah di sini!!” tawar May. Valen dan John pun berjalan di depan May. Mereka naik ke lantai dua dan membuka pintu.
CKLEK
“Naima, Rinka!!” seru Valen. Mereka berdua menghampiri Rinka dan Naima.
“Sekarang kalian akan tahu.” May melempar kunci itu dan menembaknya.
“Sekarang kita takkan bisa keluar. Lihat itu…” May menunjuk sebuah kotak yang tertulis 10 menit di layarnya.
“Apa itu??” tanya Valen.
“Benda itu berisi racun yang berbahaya. Jika tak bisa keluar dari sini kita semua akan mati.”
May menodongkan pistol pada John dan Valen.
“Kau benar-benar tak tahu bagaimana rasanya hidup sendirian. Tak ada siapapun..” kata May. Valen mengetahui kalau May sedikit mengendorkan pegangannya pada pistol. Tanpa buang waktu, ia menendang tangan May dan membuat pistol itu terlempar. May terduduk dan menangis. John mengambil pistol itu.
“Bodoh… Kalau sudah begini apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kau lakukan?” kata May mulai menyesali perbuatannya.
“Kau hanya akan menjadikan dirimu semakin buruk jika membalas dendam.” Kata John.
“John, benda itu…” kata Valen.
“Bagaimana kita membuatnya berhenti, ha?” tanya John.
“Bola itu..!!” Valen mengambil benda itu dan memainkan bola.
“Ini bukan saatnya main-main, Valen!” seru John.
“Lihat ini!” Valen melempar benda itu dan menendangnya dengan bola dan melesat melalui kaca lalu masuk ke sungai kecil.
“Dengan begitu aman.” Kata Valen.
BRAKKK!!
Beberapa polisi datang dan segera meringkus May. Naima dan Rinka pun terbangun.
“Kalian?” tanya Naima.
“Ya, semuanya berakhir. “ jawab Valen. Akhirnya semua berakhir. May ditangkap polisi karena kasus penculikan dan percobaan pembunuhan. Naima dan Rinka selamat dan tak ada yang terluka. May yang melakukan balas dendam itu pun akan dipenjara cukup lama.Camping tak berjalan lancar dan jadi menginap di penginapan. Meskipun begitu, mereka menikmatinya dan hampir bisa melupakan apa yang terjadi hari ini. Keesokan harinya mereka semua kembali ke Kota Green dengan selamat.

~THE END~


THANKS FOR READING
SEE YA

Jaa ne~

*ZULAIKHAH*


Selasa, 10 April 2012

Story > Continue

UPDATE UPDATE UPDATE !!!  Akhirnya selesai~ Fuuhh......... Yak, ENJOY IT, GUYS ^^


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 6 : Pembalasan dendam yang gagal  (PART 1)

“Hmf….. Dimana Naima?”
“Tak usah terburu-buru. Sebaiknya nikmati dulu pemandangan langit sore dengan beristirahat sejenak.” Orang itu pun berlari menuju Rinka dengan cepat dan bermaksud membiusnya tapi Rinka melawan. Rinka menepis tangannya. Orang itu berbalik memutar tangan Rinka. Rinka menendang orang itu hingga ia mundur beberapa langkah. Orang itu berlari mendekat lagi dan membungkam mulut dan hidung Rinka dengan sapu tangan.

GREB
“Ukhh…”
“Ahh, ternyata ‘malaikat’ kecil ini masih melawan. Tak kusangka ia membuat perutku sakit. Hmm… Tapi biarlah. Sebaiknya dua bocah laki-laki itu terkejut karena tiba-tiba satu orang menghilang lagi.” Rinka pun dibawa menuju sebuah rumah kosong.

“Tidur yang nyenyak ‘tuan putri’ dan ‘malaikat’ kecil…”
CKLEK

SREKKK
“Uhh…… Benar-benar orang yang merepotkan.” Kata Rinka.
“Naima?” kata Rinka lagi menoleh ke sebelahnya dan Naima tertidur. Rinka melepas ikatan di tangannya dan mencoba membangunkan Naima.
“Naima?” panggil Rinka.
“Uhh… Mmmhh…. Ri..Rinka?” Tanya Naima. Rinka hanya tersenyum.
“Rinkaaaaaaa!!!!!!” seru Naima mencoba memeluk Rinka tapi saying tanggannya terikat.
“Hahahaha….. Iya iya. Sebentar.” Rinka membuka ikatan Naima.
“Tunggu, Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Naima bingung.
“Mana John, dan Valen?” Tanyanya lagi.
“Aku ke sini karena ada yang menyuruhku. Aku turuti saja siapa tahu aku bisa menyelamatkanmu.” Jawab Rinka.
“Dan kau juga terjebak karena dibius olehnya?” tebak Naima.
“Dibius? Siapa bilang. Memang tadi dia mencoba membiusku. Tapi aku menahan nafas dan pura-pura pingsan lalu ia membawaku ke sini.” Jelas Rinka.
“Kau memang pandai menipu.” Ujar Naima.
“Jadi, bagaimana cara kita keluar?” Tanya Rinka.
“Entahlah, tapi setidaknya kita tahu kalau May adalah pelakunya. Tapi ada seorang lagi yang aku belum tahu.” Jawab Naima.
“Di sana ada pintu.” Rinka menunjuk sebuah pintu yang dipalang oleh kayu.
“Ayolah, itu tak bisa dibuka.” Kata Naima.
“Pintu itu terbuat dari triplek, tending saja sampai berlubang.” Kata Rinka.
“Ha?”  

Penginapan
“Rinkaa, ayo keluar??” panggil Dion sambil membuka pintu.
“Lho? Kemana dia?” Dion pun kembali menutup pintu dan bermaksdu bertanya pada Valen dan John.
“Hei… Kalian tahu dimana Rinka?” Tanya Dion.
“Ha? Dari tadi dia ada di kamar.” Jawab Valen.
“Tak ada. Aku barusan ke sana.” Kata Dion.
“Mungkin ke toilet atau jalan-jalan.” Sela Rio.
“Tapi, kami sudah berencana jalan-jalan sore ini tapi kenapa dia pergi?” kata Dion lagi.
“Sudahlah… Nanti juga kembali.” Ujar Rio.
Hingga pukul 19.00 Rinka tak kunjung kembali dan membuat Dion makin khawatir.
“Aduh, kemana Rinka? Tak biasanya sampai jam segini…” kata Dion.
“Apa Rinka sudah kembali?” Tanya Valen.
“Belum…” jawab Dion.
“Jangan-jangan dia diculik..” sela Rio.
“Hah.. Ngawur aja kamu! Tapi tak biasanya Rinka keluar sampai jam segini.” Kata Valen.
“Kita beritahu John.” Mereka bertiga pun menuju kamar John.

Kamar John
DRRT DRRT
“Hn?”
“Halo?”
“Kau kalah lagi. ‘Malaikat’ sudah ada di tanganku.” John terbelalak ketika mendengar itu.
“Apa katamu? B..Bagaimana bisa?”
“Yang jelas, kalian punya waktu 2 jam karena jika kalian terlalu lama, aku khawatir racun itu akan menyebar di ruangan tempat mereka disekap. Sampai jumpa dan semoga berhasil.”
Sial!!” John menggebrak mejanya.
“Kalau begitu…” John pun membuka pintu dengan tergesa-gesa bersamaan dengan Valen membuka pintu dan menabraknya.
BRUKK
“Uhh…” Valen dan John jatuh.
“Ahh, John!!” seru Valen.
“Rinka….” Sambung Valen.
“Dia diculik!” sela John.
“APAAA?!!!!”
“Kita harus segera ke Inspektur!!” seru John.
“Tidak, tunggu. Kita ke tempat laki-laki yang bersama penjaga hutan itu.” kata Valen.
“Maksudmu?” Tanya Dion.
“Aku curiga padanya.” Kata Valen. Mereka pun menuju ke tempat laki-laki pendek itu menginap.
.
“Bagaimana dengan ‘malaikat’ mu itu?”
“Dia sudah beres.”
“Jadi, aku akan dapat setengah keuntungan dari bocah Danna kaya itu, ya?”
“Tentu saja. Tapi aku akan memberimu sesuatu dulu.”
“Apa itu.”
“Ini…”
BRUAKKK
“K..Kau… Apa…..”
“Hmm…… Terima kasih atas bantuanmu. Dan tidurlah yang nyenyak.”
CKLEK
“Kau……”

BRAKK!!
Valen menendang pintu itu dengan keras.
“Haruskah kau menendangnya?” Tanya Dion.
“Sudahlah..” Mereka pun masuk. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat laki-laki itu tergeltak degan darah di kepalanya.
“Sudah kuduga dia..!!” Valen dan John pun masuk. John menyentuh leher laki-laki itu.
“Dia masih hidup. Rio, Dion kau beritahu Inspektur!” kata John.
“Jadi, apa dia mencoba bunuh diri?” Tanya Valen dengan nada marah.
“Entahlah.” Jawab John. Ia memperhatikan sekeliling. Ia menemukan secarik kertas di sebelah laki-laki itu. Ia pun memungutnya.
Yes , A Month
Begitulah yang tertulis di kertas itu.
“Ha? Apa itu, John?” Tanya Valen.
“Aku tidak mengerti, tapi kelihatannya petunjuk.” Kata John. Ia membalik kertas itu. Di situ tergambar 2 lambang ‘lebih dari’ dalam rumus matematika. Tak lama kemudian Inspektur datang membawa orang-orang medis.
“Ada apa ini?” Tanya Inspektur.
“Kelihatannya dia mencoba bunuh diri.” Kata Valen. Opsir Ron pun masuk dan mengecek. Di sana ada sebuah patung perunggu yang kelihatannya digunakan untuk memukul.
“Tidak, kelihatannya ini percobaan pembunuhan.” Jawab Opsir Ron.
“Apa?”
“Tak ada sidik jari korban di patung ini.”
“Apa dia diserang pelaku penculikan ini?” Tanya Inspektur Ryu.
“E..Inspektur, apa anda tahu beberapa tempat kosong di daerah ini?” Tanya John.
“Hmm…. Ada tiga tempat. Di belakang penginapan korban ini, lalu arah timur dari sini kira-kira 25 ada sebuah gudang. Dan ada lagi di dekat halte tapi di sebelah baratnya kira-kira 15 meter dari sana.” Jelas Inspektur Ryu.
“Kenapa?” Tanya Inspektur.
“Rinka juga diculik. Aku mendapat telepon lagi dan kami harus segera mencarinya.” Jawab John.
“Baiklah aku akan menyertakan 2 orang dengan kalian.” Kata Inspektur. Mereka pun memulai pencarian.
.
Penginapan
“Pak Hito!!” seru Dion.
“Ada apa kalian berlarian.” Kata Pak Hito.
“Seorang murid diculik lagi.” Ujar Rio. Hp pak Hito berdering. Inspektur menelpon.
“Ahh… Begitukah?” Tanya Pak Hito di telpon.
“Baiklah terima kasih.” Kata Pak Hito.
“Ya, memang ada yang diculik. Dan John bersama Valen sedang mencarinya.” Kata Pak Hito.
“Jadi, kedua gadis itu bagaimana?” Tanya May.
“Kita tunggu informasinya.”
“Begitu ya? Kalau begitu saya akan menyuruh anak-anak agar tidak kemanapun.” May pun beranjak.




~ To Be Continue~

Lanjutan ada di atas posting ini ^^



*ZULAIKHAH*

Sabtu, 07 April 2012

Anime #lagi

Hari Minggu nggak ada yang seru itu membosankan. Kalau udah bosen gini nih... kalo nggak men game ya main" dengan lappie dan akhirnya buka blog saya tercinta ini(??) . Enaknya posting apaan ya? Game? udah. Kalo anime, anime apa ya? Hmm............ 100 tahun kemudian (pemilik blog lumutan) AHA!! Gimana kalau... apa ya?? 500 tahun kemudian (pemilik blog jadi fossil) Ohooo.... Anime satu ini aja deh. Kali ini dari
IAM HERE / koko ni iru yo By Tooyama Ema






ini dia. Pemeran utama anime ini adalah Hikage Sumino, gadis SMP yang keberadaannya tidak disadari. Awalnya tidak punya teman sama sekali, tetapi mempunyai teman di blog-nya yaitu Megapig dan Black Rabbit. Karena mendapat semangat dari kedua teman dunia maya-nya ini dia berani berbicara dengan teman-temannya dan akhirnya punya teman. Dan yang paling akrab adalah Teru dan Hinata juga Arisa.

<<<Yang ini Teru. Dialah black rabbit yang selalu menyemangati Sumino. Selalu berpakaian seperti model.









<<Yang ini Hinata, orang yang disukai Sumino. Dia ini juga jago bermain kendo








<<<Dan yang terakhir Arisa, dia ini teman cewek pertama Sumino.








Kalau begitu cukup sampai di sini dulu. Jaa ne~

Story > Continue


Fuhhh...... Akhirnya UPDATE lagi.... Maaf yang ini agak geje. Kenapa? Karena ini saya potong hahahaha..#plak# Alasan saya potong karena kepanjangan T_Tv. Baiklah, sebelum baca saya kasih gambar entah mimpi apa saya jadi gambar ini. ENJOY and Comment ^^ Yosh!


siapa ini? udah ada tulisannya jadi dibaca aja. ^^.


TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 5 : Tipuan Ruang Tertutup
“Ya. Kalian aneh. Pertama, kalian tak pernah tertarik dengan acara seperti ini kecuali memang ada yang menarik. Kedua, kalian sangat tenang sekali ketika Naima diculik di gua. Keemp`t raut wajah kalian mengatakan kalau kalian menyembunyikan sesuatu dariku dan Naima.” Jawab Rinka detail. Valen menarik lengan Rinka dan membawanya agak menjauh dari banyak orang bersama John.

“Kenapa?” Tanya Rinka.
“Maafkan kami.” Jawab Valen.
“Apa maksudmu?” Rinka bingung. Seperti yang ia duga, Valen dan John menyembunyikan sesuatu.
“Dua hari sebelum kemah ini, kami mendapatkan surat.” Kata John mulai menjelaskan.
“Ya. Di sana tertulis pelaku itu akan menculik ‘sang putri’ dan ‘malaikat’ ketika acara ini.” Sambung Valen. Rinka terkejut.

“Jadi, itu semacam surat tantangan yang ditujukan pada kalian dan kalian menerimanya?” Tanya Rinka. Valen dan John hanya mengangguk.

“Apa kalian tahu kalau itu berbahaya? Kenapa kalian tak melaporkan ke polisi sebelumnya? Kalian membahayakan keselamatan teman-teman kalian hanya karena surat itu? Dan satu lagi, kalian membiarkan sahabat baik kalian diculik?!!” Rinka marah, setetes air mata jatuh dari matanya.

“Tapi, kalau saja kami menolak maka penculik itu akan membawa bahaya yang lebih besar. Kali ini percayalah pada kami. Kami akan menemukan Naima.” Jawab John meyakinkan.

“Tapi…”
“Kembalilah ke penginapan, Rin. Sebaiknya..” sela Valen. Kali ini Rinka lebih memilih ke penginapan meskipun ia tak ingin. Tapi ia lebih ingin mempercayai kedua sahabatnya.

.

DRRT DRRT

“John, handphone mu.” Kata Valen. John segera merogoh sakunya. Benar saja ada panggilan masuk.
“Halo?”
“John?”
“Iya. Siapa ini?”
“Ahh, ‘tuan putri’ ada padaku sekarang. Kalian gagal melindunginya dan aku menang dalam permainan pertamaku.”
“Kau..”
“Iya. Tepat pukul 11 aku akan menculik ‘sang malaikat’. Aku ingin tahu apa kau berhasil melindunginya atau gagal lagi?”
“Bagaimana Naima sekarang?”
“Tenang saja. Dia baik-baik saja untuk sementara. Tapi aku tak menjamin untuk ke depannya.”
“Hei..!!!!”
TUTT TUTT…

“Siapa?” Tanya Valen.
“Penculik itu. Aku akan melaporkan ini ke Inspektur Ryu. Ini penting” John langsung melesat menuju Inspektur Ryu dan memberitahu detailnya.

“Baiklah sebaiknya kita segera ke penginapan untuk melindungi mereka semua.”


Di Penginapan.

Rinka masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan. Di sana ada tas Naima. Rinka mendekati tas Naima dan menemukan secarik kertas. Ia membukanya perlahan-lahan.

Datanglah ke taman di belakang penginapan.

“Ha?” Karena Rinka adalah tipe anak yang penasaran, ia pun pergi menuju taman di belakang penginapan.

“Di sini ya?”

“Kau sudah datang rupanya.” Ujar sebuah suara. Rinka melihat kanan, kiri, depan dan belakang. Tak ada siapapun. Tak mungkin ada hantu di siang bolong seperti ini apalagi sampai mengundangnya ke taman. Aneh bukan?

“Siapa kau?” seru Rinka.

“Diculiknya Naima juga karena kelengahanmu. Hanya karena kelalawar saja kau lengah dan kehilangan sahabatmu. Bodoh!!”

“Apa maksudmu?!!” Tanya Rinka dengan nada marah.
“Jika kau ingin menyelamatkan sahabatmu itu, datanglah ke gedung di dekat halte bis pukul 3 sore. Jangan beritahu siapapun atau teman kesayanganmu akan dalam bahaya.”

Rinka mengepalkan tangan. Marah. Itulah yang ia rasakan. Tapi di sisi lain, ia bertekad untuk datang karena ia ingin menyelamatkan Naima dan sekaligus mengetahui siapa orang di balik semua ini. Tapi, ia juga tak bisa lengah begitu saja dan datang pada waktu yang dikatakan suara tadi. Rinka pun kembali menuju penginapan.

“Heh… Rencana kedua berhasil. Dengan begini semua beres.”

Penginapan

“Anak-anak, semua berkumpul di ruangan utama sebelum pukul 11. Semua harus ada di sana.” Seru suara guru mereka, Pak Hito.
“Ahh…. Sudah dimulai ya?” Tanya Valen.
“Ya, untuk menjaga semua orang aman dan tak ada yang diculik, jadi harus dikumpulkan.” Jawab John.
“Tapi, aku masih ragu kalau pelakunya ‘dia’…” kata Valen sambil melipat kedua tangannya.
“Ya, selama masih belum mendapatkan bukti, kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menjeratnya.” Kata John.

Sesuai dengan perintah Pak Hito, semua murid berkumpul di ruang utama sebelum pukul 11.00. Untuk mencegah diculiknya salah satu dari mereka sekaligus melindungi mereka, ruangan utama dibuat benar-benar seperti ruangan tertutup. Empat pintu semua dikunci dan dijaga dua polisi tiap pintu. Penjagaan ketat.

“Lima menit lagi, ya?” Tanya Valen sambil melihat jam tangannya.
“Aku tidak yakin pelaku itu bisa masuk. Kelihatannya ruangan ini benar-benar tertutup. Bahkan seeokor tikus pun mungkin takkan bisa masuk.” Ujar John.
“Kalian semua tenang saja!! Kalian akan selamat di dalam ruangan ini!!” seru Inspektur Ryu di depan bersama Opsir Ron. Sedangkan Pak Hito ada di luar bersama May.
“Bagaimana ini Rinkaa?? Aku takut….” Kata Dion memegangi lengan Rinka dengan erat.
“Tenang saja, Dion. Kau takkan diculik. Lagipula siapa yang mau menculikmu? Kurang berharga untuk diculik kau ini.” Ejek Rio.
“Apa maksudmu?!!” seru Dion.

“Apa yang kau khawatirkan?” Tanya John pada Rinka yang melamun.
“Apa? Hanya saja Naima….” Jawab Rinka.
“Dia akan baik-baik saja.” Kata John.
“Ya, yang dikatakan John benar. Lagipula aku yakin Naima pasti akan selamat.” Sambung Dion. Rio dan Valen mengangguk. Rinka tersenyum.
“Tiga menit lagi….” Ujar Valen.
“Tak bisakan kau berhenti menghitung waktu dan membuatku gemetar?” Tanya Dion.
“Hehehe… Maaf.” Valen nyengir.

1 menit……
.
.
5 detik
4 detik
3 detik
2 detik
1 detik
0

BZZZZZZT DUPP

Tiba-tiba saja lampu padam begitu saja. Sebagian anak perempuan berteriak. Valen mencoba melihat sekitar. John mencoba mengamati jika ada gerakan. Dion berpegang erat pada Rinka.

CKLEK
Lampu pun menyala. Semua bernafas lega karena mereka selamat.
“Ahhh…. Syukurlah selamat.” Ujar Dion.
“Apa ada yang hilang?” Tanya Inspektur Ryu. Mereka semua menggeleng. Pak Hito pun mengabsen semua murid. Benar, semua lengkap.
“Fuuhhhhhh…….. Penculik itu gagal menculik salah satu dari kita. Dia kalah!!” seru Valen.
“Rinka, syukurlah~” ujar Dion lagi.
“Ya…” jawab Rinka tersenyum. Beruntung sungguh beruntung tak ada yang hilang. Ya, itulah yang ada di pikiran mereka semua. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Hmm…. Jadi, penculik itu menipu kita dengan mengatakan akan menculik salah satu dari kalian, begitu?” Tanya Inspektur Ryu.
“Ya, mungkin begitu Inspektur.” Jawab Valen.
“Ohh, John. Bisakah aku melihat nomor pelaku yang menelponmu itu? Mungkin saja kami bisa melacaknya.” Kata Inspektur.
“Tidak bisa. Karena ia menyembunyikan nomornya.” Jawab John.
“Heh, kenapa penjahat selalu suka yang sembunyi-sembunyi? Dasar.” Gerutu Inspektur Ryu.
“Kalau ada penjahat yang minta izin dahulu baru beraksi malah lebih aneh kan, Inspektur?” sambung Opsir Ron. Semua kecuali Opsir Ron langsung menyipitkan mata. Bagaimana mungkin ada penjahat seperti itu?
“Sudahlah. Kelihatannya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja kita akan mencari Naima lagi.” Kata Inspektur.
“Baiklah, istirahatlah dengan tenang kalian semua. Serahkan ini pada polisi.” Sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan ruang utama.

Pukul 15.00

CKLEK
.
.
“Wah, seperti yang kukatakan, kau datang angel.” Sapa seseorang dari belakang.

~To Be Continue~
                                           
 --ZULAIKHAH—