Spin
Selasa, 16 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
Song Lyrics
KOKORO- RIN KAGAMINE
(VOCALOID)
Kodoku na kagakusha ni tsukurareta robotto
dekibae o iu nara "kiseki"
dakedo mada tarinai hitotsu dake dekinai
sore wa "kokoro" to iu puroguramu
ikuhyaku toshi ga sugi
hitori de nokosareta
kiseki no robotto wa negau
shiritai ano hito ga
inochi no owari made
watashi ni tsukutteta
"kokoro"
ima ugoki hajimeta kasoku suru kiseki
nazeka namida ga tomaranai...
naze watashi furueru? kasoku suru kodou
kore ga watashi no nozonda "kokoro"?
fushigi kokoro kokoro fushigi
watashi wa shitta yorokobu koto o
fushigi kokoro kokoro fushigi
watashi wa shitta kanashii koto o
fushigi kokoro kokoro fushigi
nande fukaku setsunai...?
ima kidzuki hajimeta umareta riyuu o
kitto hitori wa sabishii
sou, ano hi, ano toki
subete no kioku ni yadoru "kokoro" ga afuredasu
ima ieru hontou no kotoba
sasageru anata ni
arigatou... kono yo ni watashi o unde kurete
arigatou... isshoni sugoseta hibi o
arigatou... anata ga watashi ni kureta subete
arigatou... eien ni utau
(VOCALOID)
Kodoku na kagakusha ni tsukurareta robotto
dekibae o iu nara "kiseki"
dakedo mada tarinai hitotsu dake dekinai
sore wa "kokoro" to iu puroguramu
ikuhyaku toshi ga sugi
hitori de nokosareta
kiseki no robotto wa negau
shiritai ano hito ga
inochi no owari made
watashi ni tsukutteta
"kokoro"
ima ugoki hajimeta kasoku suru kiseki
nazeka namida ga tomaranai...
naze watashi furueru? kasoku suru kodou
kore ga watashi no nozonda "kokoro"?
fushigi kokoro kokoro fushigi
watashi wa shitta yorokobu koto o
fushigi kokoro kokoro fushigi
watashi wa shitta kanashii koto o
fushigi kokoro kokoro fushigi
nande fukaku setsunai...?
ima kidzuki hajimeta umareta riyuu o
kitto hitori wa sabishii
sou, ano hi, ano toki
subete no kioku ni yadoru "kokoro" ga afuredasu
ima ieru hontou no kotoba
sasageru anata ni
arigatou... kono yo ni watashi o unde kurete
arigatou... isshoni sugoseta hibi o
arigatou... anata ga watashi ni kureta subete
arigatou... eien ni utau
Selasa, 21 Juni 2011
TEEN DETECTIVE
FILE 1 : Characters
Johny Aoryu Rinka Hana
Valen Broke Naima Danna
‘Teen detective’ adalah julukan untuk empat anak yang bersahabat dan senang sekali jika berurusan dengan sebuah kasus. Bersama, mereka memecahkan kasus dan membantu polisi di sekitarnya. Mereka berempat sudah berteman lama sejak SD jadi kerja sama mereka sudah sangat bagus.
.
~GREEN JUNIOR HIGH SCHOOL~
Di kelas…..
“Hei, ayo ke taman sekolah.” Ajak Naima pada Rinka yang sedang membaca buku musiknya. Rinka menutup bukunya dan segera berdiri.
“Ayo!” balas Rinka lalu berjalan beriringan dengan Naima menuju taman. Ya, tempat yang selalu mereka datangi ketika waktu istirahat. Mereka berjalan melalui koridor. Jarak dari kelas mereka menuju ke taman tak terlalu jauh. Ketika mereka sampai di taman, mereka duduk di rumput dan mengobrol.
“Tunggu, aku mau beli minum. Kau juga?” tawar Rinka. Naima mengangguk dan tersenyum. Rinka pun beranjak menuju penjual minuman di dekat taman. Tak lama setelah itu Rinka kembali membawa dua botol minuman dingin.
“Hei, kau bilang orang tuamu ke luar kota ya?” Tanya Rinka sambil melempar sebotol minuman pada Naima. Hap! Naima menangkapnya.
“Ya. Begitulah. Katanya urusan bisnis. Huh..” Naima sedikit mendengus kesal. Rinka menoleh.
“Kapan pulang?” Tanya Rinka lagi. Tersirat kegembiraan di wajah Naima. Lalu ia menjawab dengan riangnya.
“Nanti malam!! Karena itu aku senang sekali.” Serunya tersenyum lebar. Rinka ikut tersenyum. Kejadian itu memang sering dialami Naima karena orang tuanya yang sangat sibuk.
“Jadi nanti aku tak perlu ke rumahmu kan? Hahaha..” goda Rinka. Naima mengalihkan pandangan.
“Huh, iya iya. “ Naima mengalah. Karena yang dikatakan Rinka memang benar. Ketika kesepian, biasanya Rinka saja atau Rinka,Valen dan John menemaninya di rumah.
“Hahaha….” Rinka tertawa melihat wajah Naima yang kekanak-kanakan itu. Ketika sedang asik mengobrol dan bercanda, Valen dan John mengageti mereka dari belakang.
“DORR!!” seru John dan Valen bersamaan. Naima melompat kaget. Sedangkan Rinka hanya kaget saja tapi tidak sampai melompat seperti Naima.
“Kalian ini bikin jantungku hamper copot tau!!” seru Naima kesal. John dan Valen tertawa.
“Hahaha…..” mereka tertawa. Dengan kedatangan John dan Valen semakin membuat riang suasana. Naima tersenyum.
‘Hahaha… meskipun orang tuaku sibuk, tapi ternyata aku tidak kesepian. Mereka selalu membuat hatiku senang.’ Batin Naima sambil senyum-senyum sendiri. Melihat itu, Rinka,Valen dan John agak bingung.
“Hei? Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa obatmu habis ?” Tanya Valen memulai.
“Hah, enak saja..!!! Kau pikir aku ini gila apa? Valen awas kau!!” seru Naima memukul punggung Valen.
“Ouch!! Wah wah… bahaya kalau aku dekat denganmu. Bisa babak belur aku nanti.” Tambah Valen nyengir. Valen makin membuat Naima kesal. Naima menginjak kaki Valen.
“Huh.. rasakan itu! Hahahahahaha!!” Naima tertawa. Sedangkan Valen memegangi kaki kanannya yang diinjak Naima tadi sambil melompat-lompat.
“Wah benar-benar. nanti kalau kakiku patah gimana? Mau kakimu yang jadi gantinya?” kata Valen lagi.
“Wah kalau patah gampang. Cari kaki gajah saja untuk nambal.” Balas Naima. Rinka dan John tertawa melihat kelakuan kedua temannya itu. Kejadian ini memang sudah biasa. Bahkan mungkin aneh kalau Valen dan Naima bertemu dan tidak membuat suasana jadi kocak. Mereka tertawa sampai bunyi bel masuk memecah tertawa mereka.
TETT TETT TETT…!!
“Wah sudah masuk. Ayo masuk!” ajak Rinka mulai berdiri.
“Ayo..!” balas Naima. Mereka pun segera beranjak masuk ke kelas.
DEG….! John merasa kalau ada seseorang yang mengawasi mereka. Ia menoleh ke belakang. Tak seorang pun dilihatnya.
“Ngg? Ada apa John?” Tanya Valen bingung.
“Ahh… Ngg..Tidak kok.” Jawab John dengan cepat. ‘Tapi tadi serasa ada yang mengawasi. Siapa ya? Apa tujuannya?’ John masih memikirkan orang misterius itu. Tapi ia sedikit menepis kekhawatiran itu dan segera masuk kelas.
.
Bel pulang berdering keras hingga semua murid mendengar itu. Semua murid berhamburan keluar ingin segera cepat pulang. Begitu juga dengan Rinka dan Naima.
“Rinka ayo pulang?” ajak Naima sambil memakai tasnya. Rinka segera merapikan buku-bukunya.
“Kami duluan ya…. Bye..!” seru Valen juga John yang keluar duluan.
“Ngg? Apa? Biasanya pulang bersama. Kok?” Naima bingung. Ia mengingat-ingat sesuatu.
“Hah, kau ini. Mereka kan basket hari ini. Pelupa amat sih?” kata Rinka mengingatkan. Naima teringat.
“Oh iya ya..!” seru Naima. “Kalau gitu ayo pulang..!!” tambahnya lagi.
“Oke” balas Rinka. Mereka pun berjalan menuju ke gerbang luar.
DRRT DRRT DRRT… handphone Rinka berdering di sakunya. Rinka segera merogoh saku roknya dan mengambil handphone itu. Tertulis ‘Mom’ di layar handphonenya. Ia segera menekan tombol hijau dan menempelkan handphone itu ke telinganya.
“Halo? Ada apa Bu?” Tanya Rinka.
“Rinka, apa kau bisa ke Kantor Polisi sekarang? Ada sesuatu yang mau ibu bicarakan.”
“Eh… Bi..Bisa sih. Memangnya Ibu tidak sedang tugas?” Tanya Rinka lagi.
“Iya, ini sudah selesai. Cepat ya!! Daah sayang..”
“Eehh… I..Iya.” jawab Rinka lalu menekan tombol merah.
“Ada apa Rinka ?” Tanya Naima.
“Oh… Ibu menyuruhku ke Kantor Polisi sekarang. Apa kau mau ikut?” tawar Rinka
“Ahh…. Tidak usah. Biar aku pulang sendiri saja. Tak apa kok.” Kata Naima menenangkan Rinka supaya tidak khawatir.
“Oh… Baiklah. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa” pamit Rinka lalu menuju ke Kantor Polisi dimana Ibunya bertugas.
“Hufft…. Ya sudahlah. Sepertinya aku akan menunggu Valen dan John saja.” Naima menghela nafas panjang. Ia duduk di dekat gerbang. Sambil menunggu, ia memasang earphonenya.
DEG..! tiba-tiba saja Naima merasa ada orang yang mengawasinya. Ia segera menoleh ke belakangnya. Tak seorang pun dilihatnya. Ia masih merasa ada yang mengawasinya. Ia pun segera berdiri dan beranjak ke tempat yang ramai. Tapi benar-benar sial. Semua murid sudah pulang kecuali siswa yang basket. Tapi kali itu ia tak melihat seorang siswa pun.
‘Siapa itu?’ tanyanya dalam hati. Ia cukup panic.
“SIAPA KAU?? KELUARR!!” teriaknya untuk memancing orang itu keluar. Benar saja. Seorang laki-laki berkacamata dengan model rambut yang lebat memakai kemeja tapi tak rapi. Liat saja. Separuh kemejanya keluar. Laki-laki itu tersenyum menyeringai. Ia mendekati Naima yang bergidik dan ketakutan.
“Si..Siapa kau?” Tanya Naima sekali lagi. Ia mencoba menenangkan dirinya, tapi tetap saja tubuhnya tak berhenti bergetar.
“Kau Naima Danna kan? Anak si Danna sialan itu?!!” ujar orang misterius itu menampakkan wajah penuh kejahatan.
“Memang kenapa?!!” bentak Naima lalu mundur ke belakang. Naima mencoba kabur. Tapi sayang, lengannya dicengkeram kuat oleh laki-laki itu. Dengan cepat laki-laki itu membungkam mulut Naima dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius itu.
“Ka..kau… Uuph…” ujar Naima setengah sadar. Kemudian, ia terkulai lemas tak sadarkan diri. BRUKK..!! tubuh Naima terhempas ke tanah. Laki-laki misterius itu membawanya pergi entah kemana. Tanpa laki-laki itu sadari, sebelum pingsan, Naima melempar handphonenya ke semak-semak.
.
Pukul 19.00 di kediaman keluarga Danna.
“Bi, kemana Naima?” Tanya seorang wanita berambut blonde sepunggung sambil membenahi tatanannya. Tepatnya Mama dari Naima. Sarah Danna.
“Belum pulang Nyonya. “ jawab pelayan itu dengan menunduk dan membawakan koper majikannya.
“Mungkin dia ke rumah Rinka atau menginap di sana.” Ujar suami wanita itu yang bernama Danna Gray sambil menepuk pundak istrinya,Sarah. Sarah mengangguk. Mereka pun menuju ke atas untuk istirahat. Ada kekhawatiran di hati Sarah. Ia merasa cemas. Entah kenapa ia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi.
~Rinka’s House~
WUUSSSSH..!!!
Tuk tuk.. pyar..!! Pajangan keramik berbentuk boneka milik Rinka jatuh. Tapi hanya satu yang terjatuh dan pecah. Ia menoleh ke arah keramik yang ia letakkan di atas laci dekat jendela itu. Ia melihat keramik itu.
‘Ngg?? Pecah. Tapi… kok?’ batin Rinka. Ia mengambil salah satu pecahan keramik itu. Tertulis nama ‘Naima’ di situ. Perasaan Rinka tidak enak. Keramik itu adalah keramik yang mereka pesan berdua dan masing-masing mempunya dua keramik. Tangannya meraih handphone ungu di tempat tidurnya. Dengan cepat ia menekan nomor-nomor itu lalu ia menekan tombol hijau. Ia menelpon Naima.
Tuutt…tutt….. “Ayo Naima angkat, angkat!” ujarnya lirih.
Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab, silahkan coba beberapa menit lagi. Tutt…….
“Ahh…. Kok tidak diangkat sih??!!” makinya dengan kesal.
“Jangan-jangan ada apa-apa. Sebaiknya aku telpon John.” Rinka pun segera mencari nomor John dan menelponnya.
“Halo, John?” kata Rinka.
“Ya, ada apa Rinka?” Tanya John.
“Apa kau tau dimana Naima?” Tanya Rinka lagi. “Apa? Aku tidak bertemu dengannya sejak pulang sekolah tadi. Kenapa?” John mulai khawatir. “Dia kutelpon tidak diangkat. Perasaanku tidak enak. Pasti ada apa-apa dengannya.” Kata Rinka.
“Jadi benar?” kata John. Rinka bingung. Benar? benar apa? Apa John tau sesuatu.
“Apanya yang benar John?” Tanya Rinka.
“Ya, ketika kita istirahat tadi siang, aku merasa ada seseorang yang mengawasi kita.” Ujar John dengan nada serius. Rinka tertegun.
“Apa??!! Jadi maksudmu Naima diculik orang itu?” seru Rinka.
“Tapi tak bisa dibilang begitu juga. Sebaiknya kita ke rumah Naima. Aku akan telpon Valen. Kau tunggu di pertigaan jalan Red Flower. Oke?” usul John.
“Ya. Aku tunggu. Sampai jumpa.” Rinka sesegera menutup telpon. Ia pun menyahut jacket di belakang pintu kamarnya. Ia bergegas pergi.
“Ayah, Ibu aku mau ke rumah Naima. Daa..” pamit Rinka lalu berlari keluar.
“Iya, tapi jangan pulang terlalu larut oke.” Nasihat ibunya.Rinka mengangguk dan langsung melesat keluar menuju ke pertigaan jalan Red Flower. Ia berlari secepat mungkin. Ia bertemu Valen dan John di sana.
“Rinka.. ayoo!!” seru Valen memanggil. Rinka terengah-engah. Mereka pun segera menuju ke rumah Naima. Tak jauh dari pertigaan jalan Red Flower ada rumah Naima di jalan yellow leaf blok 2 nomor 4. Rumah mewah di ujung jalan. Mereka pun masuk gerbang rumah itu. Mereka menekan tombol bel.
Ting tong… ting tong… tak lama kemudian, seorang wanita keluar.
“Apa Paman dan Bibi ada?”Tanya Rinka.
“Ooh.. Nona Rinka dan teman-teman ya. Iya, Tuan dan Nyonya ada di dalam. Silahkan masuk.” Mereka pun masuk. Tak alam kemudian, orang tua Naima turun dari atas.
“Rinka, ada apa? Lho? Mana Naima?” Tanya Danna Gray.
“Itulah yang ingin kami tanyakan Paman Danna.” Balas Rinka serius.
“Iya, apa Naima sudah pulang?” Tanya John. Danna Gray dan Sarah saling berpandangan.
“Belum…. Kukira dia menginap di rumah Rinka.” Kata Sarah.
“Tidak Bibi. Jadi, Naima belum pulang?” Tanya Rinka memastikan lagi. Mereka semua khawatir.
“Bagaimana bisa? Biasanya kalian selalu bersama??” Tanya Danna Gray dengan nada cemas. Begitu juga dengan Sarah.
“Tadi, ketika pulang sekolah. Ibu menelpon dan menyuruhku ke Kantor Polisi. Dan Naima aku ajak tidak mau. Dia bilang ingin pulang sendiri. Jadi aku bergegas karena Ibu bilang urusan penting. Setelah itu aku tidak tau lagi.” Jelas Rinka panjang lebar. Ia terlihat mencemaskan sahabatnya.
“Ketika di sekolah, aku merasa ada seseorang yang mengawasi kami.” Sela John tiba-tiba. Semua terbelalak kaget.
“Apa benar? jadi dia yang menculik Naima?” Tanya Sarah dengan nada yang agak tinggi. Tentu saja. Tak ada ibu yang tak khawatir dengan anaknya. Apalagi dalam keadaan seperti ini.
“Tidak bisa dipastikan begitu Bi. Kita masih belum tau siapa dia. Jadi sebaiknya kita cari besok. Karena hari sudah mulai malam. Kami akan membantu sekuat tenaga.” Ujar John. Valen mengangguk. Sarah tak bisa menahan air matanya. Ia terbenam dalam pelukan suaminya, Danna Gray.
“Baiklah. Kalau begitu, kalian istirahat saja. Besok kita mulai mencari.” Ujar Danna Gray mendinginkan suasana. Mereka bertiga pun pulang.
“Baiklah, Paman Danna, Bibi Sarah. Kami pulang. Selamat malam.” Pamit Valen lalu menggandeng lengan Rinka dan John untuk keluar.
CKLEK..!
“Naima..” ucap Rinka pelan. Tampak raut wajah cemas yang terlihat oleh John dan Valen.
“Sudahlah. Daripada kau merutuki dirimu nanti, lebih baik kau pulang dan tidur sana. Besok kita mulai pencarian Naima.” Ujar John dingin tanpa menoleh. Rinka lalu bergegas pulang.
“Ngg?? Hei, kau bilang kau melihat orang aneh tadi kan?” Tanya Valen penasaran.
“Hmm…” John mengangguk. “Kenapa?” tambah John.
“Aku merasa dia yang menculik Naima. Iya kan?” ujar Valen.
“Sama. Tapi kurasa tak mungkin kalau Naima tak meninggalkan sesuatu. Pasti ia memberii sebuah petunjuk. Dia kan tidak bodoh.” Jelas John serius. Valen setuju. Ia sangat khawatir dengan Naima. Yang jelas besok semua akan dikerahkan.
.
Di suatu tempat….
Nampak sebuah ruangan sempit yang hanya diterangi sebuah lampu badai. Cahaya remang-remang membuat seorang gadis berambut hitam sepunggung tersadar. Naima sadar. Ia melihat kesekelilingnya. Hanya cahaya remang-remang dan badannya yang terikat cukup erat dengan tali yang ia lihat. Pandangannya masih kabur. Tapi samar-samar, ia mendengar seseorang datang. Ia berpura-pura tak sadarkan diri.
“Tak usah berpura-pura nona Danna.” Ujar laki-laki yang memakai kemeja tak rapi dan berkacamata itu. Naima membuka matanya. Ia menatap sinis laki-laki itu.
“LEPASKAN AKU!!” teriaknya kencang.
“Sst sst ….sst…. Jangan begitu nona Danna. Nanti ada orang yang tau. Sebaiknya besok pagi-pagi sekali kupindahkan saja kau ke tempat yang tersembunyi.” Ujar laki-laki itu.
“SIAPA KAU!!! APA URUSANMU DENGANKU..??!!” bentak Naima lagi. Laki-laki itu tertawa.
“Hahahhahaha…!! Yang kuincar bukanlah kau! Tapi Harta Danna Gray!!. Iya, ayahmu yang telah menolak semua hasil kerjaku selama ini, bahkan ia tak memujiku sedikitpun. Dan sekarang dia memecatku.” Ujar laki-laki itu lagi.
“Papa…?” Naima bingung. Ia menatap tajam orang itu. Laki-laki itu hanya tersenyum menyeringai. Laki-laki itu berbalik. Naima terbelalak karena mendapati laki-laki itu membawa sebuah pistol. Ia mulai menahan emosinya. Ia juga tak mau kehilangan nyawa oleh orang rendahan seperti dia.
“Iya!! Kau lihat?? Aku wanita!! Bukan laki-laki yang seperti kau lihat..!! Danna Gray memang benar-benar tak berperasaan!! ” serunya keras sambil melepas wig dan kacamata yang ia pakai .
“Khukhukhu….. baiklah. Selamat tidur. Besok, aku akan menelpon keluargamu dan membujuk mereka membawa uang tebusan. “ kata wanita itu sambil berlalu begitu saja.
BLAM!!
“Uhh…. Kurasa aku harus membuat petunjuk supaya Rinka dan yang lain bisa menemukanku. Tapi apa?” Naima mencoba memikirkan sesuatu untuk petunjuk yang tidak bisa diketahui wanita itu tapi juga harus bisa terbaca oleh ketiga temannya.
‘Sandi..!!’ batin Naima. Ia pun merogoh saku roknya. Benar saja. Ada bolpoint dan beberapa kertas sedang. Naima pun segera menulis di kertas itu. Ia tak membuang-buang waktu. Ia bisa cukup leluasa menulis karena ikatannya bisa ia renggangkan meskipun erat.
Esok harinya….
~Kediaman keluarga Danna~
KRIIIIINGGG!!! KRIIIIIINNNNG!!! Telepon rumah berdering. Seorang pelayan mengangkat telepon itu.
“Ha..Halo. Keluarga Danna di sini.” Ujarnya.
“Bisa aku bicara dengan Tuan Danna?”
“I..Iya. sebentar.” Pelayan itu segera memanggil majikannya. Tak lama setelah itu, Danna Gray mengangkat telepon.
“Halo.?” Kata Danna Gray.
“Hngg…. Apa kau Danna Gray?”
“Iya. Maaf ini siapa?” Tanya Danna Gray lagi.
“Anakmu, Naima Danna. Ada bersamaku sekarang. Hahahaha. Jika kau ingin anak kesayanganmu ini selamat, serahkan seluruh asset perusahaanmu padaku. Jika kau berani melapor pada Polisi, anakmu akan tamat.”
“Apa katamu!!!” Danna Gray terbelalak kaget. Ia tak percaya. Ia tak bisa menyanggupi persyaratan itu. Tapi bagaimana dengan Naima. Ia sangat bingung.
“Ka..Kapan?” ujarnya pasrah.
“Lusa, di dekat jam besar di taman kota Green. “ . si penelpon langsung memutus telepon. Danna Gray kebingungan. Sarah mendatanginya.
“Ada apa Gray?” tanyanya lembut.
“Na..Naima. ia diculik. Dan penculik itu memberii syarat agar Naima bebas. Aku harus menyerahkan asset perusahaan.” Danna Gray terlihat pucat. Ia memikirkan bagaimana hidupnya nanti. Tapi jika ia menolak, Naima dalam bahaya. Sarah terbelalak. Ia tak bisa membendung air mata yang turun deras melalui pipi halusnya. Mendengar itu, Sarah terduduk lesu. Danna Gray yang melihat itu menatap istrinya dengan tatapn sendu. Danna Gray meraih gagang telepon. Menekan nomor-nomor.
Tutt…tutt…tutt…..
“Halo? Rinka?” panggilnya.
“Iya.. Paman Danna. Ada apa?” Danna Gray menceritakan semuanya. Rinka juga kaget. Setelah Danna Gray menutup telepon, Rinka memberiitahu Ibunya. Ibunya mengerti. Rinka segera bersiap berangkat sekolah.
Di suatu tempat…..
“Ayo! Saatnya kau pindah tempat!” ujar seorang wanita sambil menarik lengan Naima dengan kasar. Naima merintih kesakitan. Ia dipindahkan ke rumah kosong di belakang sekolahnya. Sebelum itu, ia melempar kertas yang di dalamnya terdapat MP3 dan earphonenya yang ia lempar tepat ke dalam kelasnya dan berhenti di bangku kedua dari depan. Ya, tempat duduk Rinka dan Naima. Berharap yang menemukannya Rinka, Valen atau John.
‘Rinka, John, Valen, aku harap kalian menemukan ini.’ Harap Naima. Ia pun mengikuti wanita itu.
.
.
Pukul 07.00 pagi…..
“Hah, aku telat!!!!” seru Valen berlari masuk gerbang. Tapi ia tersandung sesuatu. Ia melihat. Ternyata yang membuatnya tersandung adalah sebuah handphone. Ia memungutnya. Sepertinya ia kenal handphone siapa ini. Ia pun kembali berlari menuju kelasnya
Semua murid sudah masuk kelas. Rinka duduk di tempatnya. Ia melihat kursi Naima yang kosong.
‘Naima, kau dimana?’ tanyanya dalam hati. Ketika ia menggerak-gerakkan kakinya, ia merasa sesuatu mengganjal di bawah kakinya. Ia melihat ke bawah meja. Tepat seperti yang ia duga. Ada sesuatu. Ia mengambilnya.
Seorang guru masuk ke kelas. Tak lama setelah itu Valen datang terengah-engah.
“Hahh hahh…. Ma..Maaf saya terlambat…” ucapnya terputus-putus. Guru itu mempersilahkan Valen duduk. Pelajaran pun dimulai.
Ketika bel istirahat berdering, semua murid keluar kelas. Kecuali tiga orang anak. Rinka, Valen dan John. Mereka berdiri melingkari bangku mereka.
“Hai, lihat! Aku tadi menemukan ini di semak-semak di dekat gerbang sekolah.!” Seru Valen menunjukkan handphone oranye jeruk. Rinka memperhatikan handphone itu.
“Kelihatannya hp ini tidak asing bagiku. Punya siapa ya?” Tanya Valen lagi. Rinka teringat.
“Naima!!” seru Rinka dan John bersamaan. Valen juga teringat.
“Ooh… Iya punya Naima. Aku belum membuka hp ini. Ini..” kata Valen menyerahkan hp itu kepada John. John menekan tombol tengah hp itu. Yang terlihat di sana adalah teks message yang belum dikirim.
“Ini apa? Apa dia berniat mengirimkan sesuatu?” Tanya John bingung.
“Memang ada apa?” Tanya Rinka. John menunjukkan layar hp itu. Tertulis deretan angka yang dipisahkan titik. Tertulis ‘7…6…7…/86…5…6…6..4/25..8’
“Angka apa itu? Aku bingung deh.” Ujar Valen menggaruk-garuk kepalanya. John juga menggeleng tanda tak tahu.
“Di antara kita yang paling hebat soal memecahkan kode dan sandi adalah Rinka. Bagaimana? Apa kau bisa memecahkannya?” kata John datar. Rinka memerhatikan dengan cermat deretan angka itu. Ia memikirkan segala kemungkinan artinya. Lalu ia menyahut hp itu.
“Jangan-jangan….” Raut wajah Rinka berubah menjadi serius.
“Apa??” Valen masih bingung. Rinka mengeluarkan buku catatan kecilnya. Ia menulis sesuatu.
“A..Apa??” John terbelalak kaget melihat tulisan yang ditulis Rinka.
“S….SOS TOLONG AKU??” seru Valen terbelalak. Rinka mengangguk.
“Tapi bagaimana bisa?” Tanya John.
“Begini. Coba kalian lihat keypad handphone kalian. Jika kalian mengetik pesan kalian menekan tombol apa saja untuk menulis ‘SOS TOLONG AKU’?? Berapa kali tombol angka yang kalian tekan?” ucap Rinka. John dan Valen mencoba mengetik tulisan itu.
“7 tiga kali, 6 tiga kali, 7 tiga kali, 8 sekali, 6 tiga kali, 5 tiga kali, 6 tiga kali, 6 dua kali, 4 sekali, 2 sekali, 5 dua kali dan 8 dua kali..” jawab Valen.
“Jangan-jangan titik-titik itu menunjukkan berapa kali tombol harus ditekan? Benarkan?” seru John.
“Iya. Kau benar!” kata Rinka serius.
“Lalu, apa isi kertas tak karuan itu heh?” Valen menunjuk sebuah kertas lecek di tangan Rinka. Rinka meletakkan kertas itu di meja. Ia membukanya.
“Eh?? Apa? MP3??” Valen makin bingung dengan barang temuan Rinka itu. Mp3 kenapa dibungkus kertas itu?.
“Tunggu! Ini Mp3 milik Naima kan?” John mencondongkan badannya.
“Tapi, Naima punya 2 Mp3 kan? Apa benar ini miliknya?” sahut Valen.
“Di belakang Mp3 ini ada huruf inisial yang ditulis memakai spidol permanen. Ini! N.D!” tunjuk Rinka ke tulisan spidol berwarna biru di balik Mp3 itu.
“Naima Danna!!” seru John. Rinka segera menekan tombol Mp3 itu. Lagu yang sedang di pause berjudul ‘Aku tak bisa pergi’.
DEG…!
“Ada apa Rinka ?” Tanya John. John pun mengambil Mp3 itu dan melihatnya Valen pun ikut melihat.
“Apa? Judul lagunya ‘Aku tak bisa pergi’??” tanya Valen.
“Kurasa artinya Naima tak bisa kabur dari penculik itu. Tapi ini masih buntu soal tempat Naima disembunyikan.” Jelas John meletakkan Mp3 itu.
“Masih ada kertas aneh ini. Lihatlah. Kelihatannya, Naima mencoba memberi petunjuk melalui kode-kode ini.” Ujar Rinka memperlihatkan kertas itu. Isi kertas itu adalah
‘xX XxX xxX xX Xxx xX Xxx xx xXx xxX XX xX xxxx XxX XXX xxx XXX Xx XXx xXx 1’
“Sepertinya aku pernah lihat pola ini. Tapi dimana? Dan apa?” Tanya Valen mengingat ingat.
“Aku juga kelihatannya tak asing dengan pola ini. Tapi hanya saja ada yang berbeda.” Tambah John.
“Apa ya??” Rinka mulai berpikir.
“Ini terlihat seperti….” Ucap Rinka.
“MORSE!!!!” seru mereka bersamaan.
“Aku ingat! Naima kan hafal morse!!” seru Valen memberi tahu.
“Coba kita pecahkan.” Kata John mengambil bollpointnya.
“Tapi aku tak hafal ini. Semoga kalian berdua hafal.” Kata Valen.
“Aku hafal. Kurasa tak mungkin kalau Rinka tak hafal.” Balas John.
“Aku ada di rumah kosong r1” kata Rinka meterjemahkan tulisan itu.
“Iya! Kau benar. rumah kosong?? Di dekat sini rumah kosong ada di mana?” pikir John.
“Belakang sekolah. Iya, di dekat rumah penduduk ada beberapa rumah kosong.” Ujar Valen memberi tahu.
“Iya!! Tunggu..!! yang dimaksud ‘r1’ itu apa?” John berpikir lagi.
“Apa ya arti ‘r1’??” Rinka pun berusaha keras.
“R 1 biasanya ada di joystick Play station kan?” kata Valen.
“Apa?” John dan Rinka menoleh.
“Iya. Kalau tidak salah artinya ‘right 1’.” Kata Valen lagi.
“ ‘Right 1’ ?? Apa itu artinya Naima disekap di rumah kosong pertama sebelah kanan?” Rinka menoleh ke arah John dan Valen. Valen dan John mengangguk. Tanpa pikir panjang, mereka bertiga melesat pergi menuju belakang sekolah. Mereka berlari secepat mereka bisa.
TETT TETT TETT..!!! bel masuk berdering seiring dengan perginya mereka bertiga. Seorang guru berjalan menuju kelas mereka.
“Hei, Rinka, Valen, John…!!!!! Kalian mau kemana??!!!” panggil guru itu dengan keras.
“Maaf Bu. Ini menyangkut Naima…!! Kami izin untuk pelajaran ini saja!!” balas Valen. Mereka pun terus berlari menuju gerbang belakang dan meninggalkan guru mereka yang bingung dan mematung di tempat itu.
GREEKK!!
Mereka membuka gerbang belakang. Lalu mereka segera menuju rumah kosong itu.
“Dimana Val??” Tanya John berhenti.
“Di sebelah sana. Arah barat. Tak jauh dari sini kok. Ayo ikut aku!!” seru Valen mendahului.
‘Naima… tunggu sebentar. Kami akan menolongmu’ batin Valen harap-harap cemas begitu juga dengan Rinka dan John.
“Disini.” Ujar Valen agak lirih.
“Jadi ini?” Tanya Rinka menatap tajam sebuah rumah bercat hijau. Cat rumah itu sudah terlihat mengelupas di sana sini. Pintu kayunya pun sudah mulai rapuh dan mungkin jika ditendang bisa roboh.
“Ayo masuk!” bisik John sambil memberi tanda untuk masuk. Mereka masuk dengan sangat hati-hati, siapa tahu ada si penculik di sana. Ketika mereka masuk, mereka melihat 3 ruangan yang terpisah.
“Rinka, kau ke ruangan sebelah kiri, Valen kanan dan aku tengah. Oke? Hati-hati. Sebisa mungkin cari juga bukti akurat.” Ujar John mengomandani. Penyelamatan Naima harus berhasil. Tak boleh gagal dan tak boleh ada kesalahan. Mungkin jika si penculik memang benar-benar sadis, nyawa merekalah taruhannya. Rinka mulai mengendap-endap masuk ke ruangan sebelah kiri. Ia membuka pintu dengan perlahan. Kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaan Naima. Meski begitu, ia tetap masuk. Mungkin saja ada bukti yang penting. Ia melihat ada beberapa peluru revolver di atas meja. Dengan hati-hati, ia mengambil 8 butir peluru itu memakai sapu tangan dan memasukkan ke sakunya. Ia segera melesat pergi.
John juga mencari Naima di ruangan tengah. Tak ada Naima di sana. Hanya saja ia melihat beberapa tumpukan kertas dan map-map yang berserakan. John masuk dan melihat kertas-kertas itu. Tertulis dengan tebal ‘DANNA CORPORATION’ di kop surat-surat dan kertas-kertas itu.
‘Apa? Apa dia pegawai di perusahaan milik ayah Naima?’ John mencoba memikirkan apa motif si penculik menculik Naima. Tak lama setelah itu John segera keluar. Di depan pintu ia bertemu Rinka dan bersama menuju ruangan terakhir.
Tak berbeda dengan Rinka dan John, Valen pun memasuki ruangan itu. Dilihatnya Naima yang entah terlelap atau pingsan. Ia mendekati Naima. Naima terikat dengan tali dan mulutnya dibungkam kain. Naima juga masih mengenakan seragam sekolahnya.
“Naima..!” seru Valen lirih. Dengan cepat, ia melepas ikatan tali itu beserta kain yang membungkam mulut Naima. Ia juga mencoba membangunkan Naima.
“Naima… kau tak apa kan?” panggil Valen dengan pelan. Naima masih tak bergerak.
“Hei, apa kau tidak apa-apa?” panggil Valen sekali lagi. Naima terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke matanya. Ia terbangun.
“Valen?!!” seru Naima agak keras.
“Sssst… jangan keras-keras bodoh!” ujar Valen sambil menutup mulut Naima.
CKLEK!
Suara pintu mengagetkan mereka berdua. Mereka tertegun dengan keringat dingin yang bercucuran. Mereka menyangka kalau itu si penculik. Suara langkah dua pasang kaki mendekat.
“Hei, kenapa kalian mematung tanpa ekspresi sih?” Tanya Rinka berkacak pinggang sambil menyipitkan mata. John hanya melipat tangan dan geleng-geleng kepala.
“Hah!! Kalian ini bikin jantungku copot!!” seru Valen seakan ingin menjitak kepala dua anak di belakangnya.
“Ya sudahlah. Aku sudah tau siapa penculiknya dan mungkin juga motifnya. Sebaiknya kita segera keluar.” Ajak John bergegas keluar. Naima pun berdiri dan mengikuti mereka bertiga keluar. Mereka ada di bagian tengah rumah itu.
BRAKKK!!!!
Seseorang membanting pintu kayu lapuk itu dengan keras. Derap langkah kaki mendekat. Mereka berempat terpaku. Tak mungkin mereka bisa bersembunyi. Benar dugaan mereka. Si penculik datang.
“Khukhukhukhu….. ternyata ada tikus-tikus kecil yang mencoba menyelamatkan temannya. Hahahaha. Kalian takkan bisa kabur!!! “ seru wanita itu tertawa licik. Lalu wanita itu mengambil sesuatu. Sebuah revolver. Ia menodongkan ke arah John dan Valen yang ada di depan Rinka dan Naima.
“Kalian akan tamat!!! Hahahahahahaha!!” tawanya mengelegar.
“Hah, namamu Anna Rose. Benar kan?” ucap John.
“Ya, memangnya kenapa? Bocah bodoh!” balasnya ketus.
“Hanya karena dipecat saja kau sampai bertindak bodoh. Benar-benar payah. Sebenarnya dari wajahmu yang terlihat dingin tak cocok sekali dengan sifatmu. Kau hanya menunjukkan topeng dinginmu itu. Sebenarnya di balik topeng itu hanyalah wanita lemah yang mudah menyerah.” Sambung John.
“Heh… kau masih bocah! Tak tau apa-apa tentang urusan orang dewasa! Apalagi soal pekerjaan!!! Tau apa kau ha?!! Kau pikir mudah jika tak punya pekerjaan?? Kau tau? Ibuku sedang sakit. Sedangkan aku? Dipecat begitu saja. Apa itu kalau bukan kejam?? Danna Gray sial itu membuatku menderita!!!” serunya dengan keras.
“Aku tau awalnya Papa memarahi dan menolak semua hasil kerjamu itu untuk membuatmu lebih baik lagi. Bukan malah jadi buruk!! Perusahaan juga butuh orang yang punya semangat tinggi dan kemauan. Kaulah yang tak mau usaha sampai akhirnya kau dipecat kan?” balas Naima.
“KAU TAK TAU APA-APA BODOH!!!!!” bentaknya dengan keras. Ia tak bisa membendung derasnya air mata yang jatuh melalui pipinya. Ia terduduk.
“Dari matamu saja, aku tau kau orang yang sangat kesepian kan?” ucap Valen. Mereka berempat merapat dan berjalan pelan menuju pintu keluar. Wanita itu masih menangis. Dengan sangat pelan, Naima membuka pintu. Mereka berhasil membuka pintu dan keluar. Tapi sayang, wanita itu telah berdiri di belakang mereka. Mereka berbalik dan mundur.
“Kau tidak ahli soal menembak.” Ucap John. Wanita itu menodongkan revolvernya.
“Memang kenapa? Dari mana kau tau bocah?” tanyanya.
“Biasanya jika orang yang belum ahli memakai pistol, ia akan memakai peredam karena tidak bisa menembak dengan tepat sasaran dalam sekali tembak.” Tambah John.
“Tapi kalau hanya berjarak dua meter, aku bisa dengan tepat melubangi kepala kalian.” Kata wanita itu dingin.
KLANG KLANG KLANG….!!
Rinka menjatuhkan 8 butir peluru di depan wanita itu. Wanita itu terbelalak kaget.
“Bagaimana?” ujar Rinka menatap tajam.
“Apa? Bagaimana mungkin?” wanita itu bingung. Ia melihat pistolnya. Pelurunya masih ada 4.
“Kau menipuku bocah!” serunya.
“Memang.” Kata Valen.
JDUAKKK!!!
Valen menendang kaleng cat kosong tepat kea rah perut wanita itu. Ia menjatuhkan pistolnya dan terduduk kesakitan. Ketika John akan mengambil pistol itu, wanita itu mendahuluinya. John segera berdiri.
“Mau apa kau?” tanyanya tersenyum menyeringai. Keringat dingin bercucuran. John terdiam memaku di jarak yang sangat dekat dengan wanita itu. Jika wanita itu mau, ia bisa menembak John dengan sangat tepat. Tanpa wanita itu sadari, Rinka mengendap-endap melalui semak-semak menuju belakang wanita itu.
JDUAAKKKK!!!
Rinka menendang wanita itu sekuat tenaga. Wanita itu terjatuh masih memegang pistol. Rinka memukul wajah wanita itu lalu berlari menjauh. John merampas pistol itu. Tak lama setelah itu, beberapa polisi dan orang tua Naima datang.
“NAIMAAAA!!!!” panggil Sarah, mama Naima yang langsung memeluk Naima. Di sana juga ada ibu dan ayah Rinka yang merupakan anggota kepolisian.
“Urus dia!” perintah ayah Rinka pada bawahannya.
“Kalian tidak apa-apa kan?” tanya ibu Rinka.
“Ya. Kami tidak apa kok..” jawab Rinka sambil tersenyum.
“Terima kasih telah menyelamatkan Naima ya Rinka, John dan Valen.” ucap Danna Gray, papa Naima.
“Sama-sama. Naima kan sahabat kami. Jadi bagaimana mungkin kami tinggal diam.” jawab Valen nyengir.
“Kau, Anna Rose. Maaf aku telah memecatmu. Sebenarnya aku bermaksud membuatmu jadi lebih baik, tapi carakulah yang kurang tepat hingga membuat pegawai sepertimu keluar. Ketika kau keluar nanti, kau boleh masuk lagi ke perusahaan hanya jika kemampuanmu meningkat. Kau masih muda Nak.” ujar Danna Gray memegang pundak wanita bernama Anna Rose itu. Ia mengangguk senang. Ia pun bertekad menjadi lebih baik. Polisi membawanya ke kantor polisi untuk menyelesaikan semua.
Akhirnya, kasus penculikan Naima telah berhasil dipecahkan oleh anak-anak yang hebat. Pria berkacamata oh bukan maksudku Anna Rose pun ditangkap. Tapi ia menjadi termotivasi oleh Danna Gray yang memberinya kesempatan lagi dan bersedia membiayai pengobatan ibunya yang sakit. Naima berhasil diselamatkan. Tak ada yang terluka. Tapi Naima tetap saja harus istirahat karena kondisinya yang tidak sehat. Tapi semua lega karena berakhir bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)

