Fuhhh...... Akhirnya UPDATE lagi.... Maaf yang ini agak geje. Kenapa? Karena ini saya potong hahahaha..#plak# Alasan saya potong karena kepanjangan T_Tv. Baiklah, sebelum baca saya kasih gambar entah mimpi apa saya jadi gambar ini. ENJOY and Comment ^^ Yosh!
siapa ini? udah ada tulisannya jadi dibaca aja. ^^.
TEEN DETECTIVES
“ A Challenge Letter For John and Valen ”
Continue
DATA 5 : Tipuan
Ruang Tertutup
“Ya. Kalian aneh. Pertama, kalian tak
pernah tertarik dengan acara seperti ini kecuali memang ada yang menarik.
Kedua, kalian sangat tenang sekali ketika Naima diculik di gua. Keemp`t raut
wajah kalian mengatakan kalau kalian menyembunyikan sesuatu dariku dan Naima.”
Jawab Rinka detail. Valen menarik lengan Rinka dan membawanya agak menjauh dari
banyak orang bersama John.
“Kenapa?” Tanya Rinka.
“Maafkan kami.” Jawab Valen.
“Apa maksudmu?” Rinka bingung. Seperti yang
ia duga, Valen dan John menyembunyikan sesuatu.
“Dua hari sebelum kemah ini, kami
mendapatkan surat.” Kata John mulai menjelaskan.
“Ya. Di sana tertulis pelaku itu akan menculik
‘sang putri’ dan ‘malaikat’ ketika acara ini.” Sambung Valen. Rinka terkejut.
“Jadi, itu semacam surat tantangan yang
ditujukan pada kalian dan kalian menerimanya?” Tanya Rinka. Valen dan John
hanya mengangguk.
“Apa kalian tahu kalau itu berbahaya?
Kenapa kalian tak melaporkan ke polisi sebelumnya? Kalian membahayakan
keselamatan teman-teman kalian hanya karena surat itu? Dan satu lagi, kalian
membiarkan sahabat baik kalian diculik?!!” Rinka marah, setetes air mata jatuh
dari matanya.
“Tapi, kalau saja kami menolak maka
penculik itu akan membawa bahaya yang lebih besar. Kali ini percayalah pada
kami. Kami akan menemukan Naima.” Jawab John meyakinkan.
“Tapi…”
“Kembalilah ke penginapan, Rin.
Sebaiknya..” sela Valen. Kali ini Rinka lebih memilih ke penginapan meskipun ia
tak ingin. Tapi ia lebih ingin mempercayai kedua sahabatnya.
.
DRRT DRRT
“John, handphone
mu.” Kata Valen. John segera merogoh sakunya. Benar saja ada panggilan masuk.
“Halo?”
“John?”
“Iya. Siapa ini?”
“Ahh,
‘tuan putri’ ada padaku sekarang. Kalian gagal melindunginya dan aku menang
dalam permainan pertamaku.”
“Kau..”
“Iya.
Tepat pukul 11 aku akan menculik ‘sang malaikat’. Aku ingin tahu apa kau
berhasil melindunginya atau gagal lagi?”
“Bagaimana Naima sekarang?”
“Tenang
saja. Dia baik-baik saja untuk sementara. Tapi aku tak menjamin untuk ke
depannya.”
“Hei..!!!!”
TUTT TUTT…
“Siapa?” Tanya Valen.
“Penculik itu. Aku akan melaporkan ini ke
Inspektur Ryu. Ini penting” John langsung melesat menuju Inspektur Ryu dan
memberitahu detailnya.
“Baiklah sebaiknya kita
segera ke penginapan untuk melindungi mereka semua.”
Di
Penginapan.
Rinka masuk ke dalam kamar yang telah
disiapkan. Di sana ada tas Naima. Rinka mendekati tas Naima dan menemukan
secarik kertas. Ia membukanya perlahan-lahan.
Datanglah
ke taman di belakang penginapan.
“Ha?” Karena Rinka adalah tipe anak yang
penasaran, ia pun pergi menuju taman di belakang penginapan.
“Di sini ya?”
“Kau sudah datang rupanya.” Ujar sebuah
suara. Rinka melihat kanan, kiri, depan dan belakang. Tak ada siapapun. Tak
mungkin ada hantu di siang bolong seperti ini apalagi sampai mengundangnya ke
taman. Aneh bukan?
“Siapa kau?” seru Rinka.
“Diculiknya Naima juga karena kelengahanmu.
Hanya karena kelalawar saja kau lengah dan kehilangan sahabatmu. Bodoh!!”
“Apa maksudmu?!!” Tanya Rinka dengan nada
marah.
“Jika kau ingin menyelamatkan sahabatmu
itu, datanglah ke gedung di dekat halte bis pukul 3 sore. Jangan beritahu
siapapun atau teman kesayanganmu akan dalam bahaya.”
Rinka mengepalkan tangan. Marah. Itulah
yang ia rasakan. Tapi di sisi lain, ia bertekad untuk datang karena ia ingin
menyelamatkan Naima dan sekaligus mengetahui siapa orang di balik semua ini.
Tapi, ia juga tak bisa lengah begitu saja dan datang pada waktu yang dikatakan
suara tadi. Rinka pun kembali menuju penginapan.
“Heh…
Rencana kedua berhasil. Dengan begini semua beres.”
Penginapan
“Anak-anak, semua berkumpul di ruangan
utama sebelum pukul 11. Semua harus ada di sana.” Seru suara guru mereka, Pak
Hito.
“Ahh…. Sudah dimulai ya?” Tanya Valen.
“Ya, untuk menjaga semua orang aman dan tak
ada yang diculik, jadi harus dikumpulkan.” Jawab John.
“Tapi, aku masih ragu kalau pelakunya
‘dia’…” kata Valen sambil melipat kedua tangannya.
“Ya, selama masih belum mendapatkan bukti,
kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menjeratnya.” Kata John.
Sesuai dengan perintah Pak Hito, semua
murid berkumpul di ruang utama sebelum pukul 11.00. Untuk mencegah diculiknya
salah satu dari mereka sekaligus melindungi mereka, ruangan utama dibuat
benar-benar seperti ruangan tertutup. Empat pintu semua dikunci dan dijaga dua
polisi tiap pintu. Penjagaan ketat.
“Lima menit lagi, ya?” Tanya Valen sambil
melihat jam tangannya.
“Aku tidak yakin pelaku itu bisa masuk.
Kelihatannya ruangan ini benar-benar tertutup. Bahkan seeokor tikus pun mungkin
takkan bisa masuk.” Ujar John.
“Kalian semua tenang saja!! Kalian akan
selamat di dalam ruangan ini!!” seru Inspektur Ryu di depan bersama Opsir Ron.
Sedangkan Pak Hito ada di luar bersama May.
“Bagaimana ini Rinkaa?? Aku takut….” Kata
Dion memegangi lengan Rinka dengan erat.
“Tenang saja, Dion. Kau takkan diculik.
Lagipula siapa yang mau menculikmu? Kurang berharga untuk diculik kau ini.”
Ejek Rio.
“Apa maksudmu?!!” seru Dion.
“Apa yang kau khawatirkan?” Tanya John pada
Rinka yang melamun.
“Apa? Hanya saja Naima….” Jawab Rinka.
“Dia akan baik-baik saja.” Kata John.
“Ya, yang dikatakan John benar. Lagipula
aku yakin Naima pasti akan selamat.” Sambung Dion. Rio dan Valen mengangguk.
Rinka tersenyum.
“Tiga menit lagi….” Ujar Valen.
“Tak bisakan kau berhenti menghitung waktu
dan membuatku gemetar?” Tanya Dion.
“Hehehe… Maaf.” Valen nyengir.
1 menit……
.
.
5 detik
4 detik
3 detik
2 detik
1 detik
0
BZZZZZZT DUPP
Tiba-tiba saja lampu padam begitu saja.
Sebagian anak perempuan berteriak. Valen mencoba melihat sekitar. John mencoba
mengamati jika ada gerakan. Dion berpegang erat pada Rinka.
CKLEK
Lampu pun menyala. Semua bernafas lega
karena mereka selamat.
“Ahhh…. Syukurlah selamat.” Ujar Dion.
“Apa ada yang hilang?” Tanya Inspektur Ryu.
Mereka semua menggeleng. Pak Hito pun mengabsen semua murid. Benar, semua
lengkap.
“Fuuhhhhhh…….. Penculik itu gagal menculik
salah satu dari kita. Dia kalah!!” seru Valen.
“Rinka, syukurlah~” ujar Dion lagi.
“Ya…” jawab Rinka tersenyum. Beruntung
sungguh beruntung tak ada yang hilang. Ya, itulah yang ada di pikiran mereka
semua. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Hmm…. Jadi, penculik itu menipu kita
dengan mengatakan akan menculik salah satu dari kalian, begitu?” Tanya
Inspektur Ryu.
“Ya, mungkin begitu Inspektur.” Jawab
Valen.
“Ohh, John. Bisakah aku melihat nomor
pelaku yang menelponmu itu? Mungkin saja kami bisa melacaknya.” Kata Inspektur.
“Tidak bisa. Karena ia menyembunyikan
nomornya.” Jawab John.
“Heh, kenapa penjahat selalu suka yang
sembunyi-sembunyi? Dasar.” Gerutu Inspektur Ryu.
“Kalau ada penjahat yang minta izin dahulu
baru beraksi malah lebih aneh kan, Inspektur?” sambung Opsir Ron. Semua kecuali
Opsir Ron langsung menyipitkan mata. Bagaimana mungkin ada penjahat seperti
itu?
“Sudahlah. Kelihatannya tak ada yang perlu
dikhawatirkan. Hanya saja kita akan mencari Naima lagi.” Kata Inspektur.
“Baiklah, istirahatlah dengan tenang kalian
semua. Serahkan ini pada polisi.” Sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan ruang
utama.
Pukul
15.00
CKLEK
.
.
“Wah, seperti yang kukatakan, kau datang angel.” Sapa seseorang dari belakang.
~To Be Continue~



